Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
BAGI umat Islam, kalimat ta'awudz atau isti'adzah adalah salah satu zikir yang sangat familiar dan sering diucapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengetahui arti audzubillahiminasyaitonirojim bukan sekadar memahami terjemahan harfiahnya, melainkan juga meresapi esensi perlindungan diri kepada Allah SWT dari gangguan makhluk halus yang menyesatkan.
Kalimat ini merupakan benteng spiritual pertama yang dibangun seorang mukmin sebelum memulai ibadah, khususnya membaca Al-Qur'an, atau ketika menghadapi gejolak emosi.
Secara bahasa, kalimat ini merupakan permohonan perlindungan. Dalam ajaran Islam, setan adalah musuh yang nyata bagi manusia yang selalu berusaha menjerumuskan ke dalam kemaksiatan. Oleh karena itu, memahami makna, tulisan yang benar, serta hukum membacanya menjadi krusial agar lafal yang diucapkan berdampak pada kekhusyukan hati.
Agar pembacaan lafal ini sempurna dan sesuai dengan kaidah tajwid, penting untuk melihat bentuk tulisan Arab yang baku. Berikut adalah tulisan Arab audzubillahiminasyaitonirojim beserta latin dan terjemahannya:
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Latin: A'udzu billahi minasy syaithonir rojim.
Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."
Untuk mendalami makna kalimat ini, kita dapat merujuk pada penjelasan para ulama tafsir mengenai komponen katanya:
Perintah untuk membaca ta'awudz termaktub secara eksplisit di dalam Al-Qur'an. Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memohon perlindungan sebelum membaca ayat-ayat suci-Nya. Hal ini terdapat dalam Surat An-Nahl ayat 98:
فَاِذَا قَرَأْتَ الْقُرْاٰنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْمِ
Artinya: "Maka apabila engkau (hendak) membaca Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum membaca ta'awudz, namun mayoritas (jumhur ulama) sepakat bahwa hukumnya adalah Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Ini adalah pendapat dari Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Artinya, jika dibaca mendapat pahala, dan jika ditinggalkan tidak berdosa namun kehilangan keutamaan.
Namun, sebagian ulama lain berpendapat hukumnya Wajib berdasarkan perintah langsung (fi'il amar) pada ayat di atas. Terlepas dari perbedaan tersebut, sangat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk tidak meninggalkan bacaan ini demi menjaga kesucian ibadah dari gangguan waswas setan.
Meskipun sering dikaitkan dengan membaca Al-Qur'an, penggunaan kalimat isti'adzah sebenarnya memiliki spektrum yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah momen-momen yang dianjurkan untuk membaca ta'awudz:
Sebagaimana dalil surat An-Nahl di atas, ini adalah waktu utama. Tujuannya agar lidah dan hati terjaga dari kesalahan dalam membaca serta memahami kalam Ilahi, serta agar tidak terganggu oleh pikiran-pikiran duniawi saat bertadarus.
Dalam mazhab Syafi'i, membaca ta'awudz disunnahkan pada rakaat pertama sebelum membaca Al-Fatihah, tepatnya setelah membaca doa Iftitah. Hal ini bertujuan untuk mengusir gangguan setan yang sering datang saat seseorang sedang salat (dikenal sebagai setan Khinzib).
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa marah adalah bara api dari setan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi SAW pernah melihat seseorang yang wajahnya memerah karena marah, lalu beliau bersabda: "Sungguh aku mengetahui suatu kalimat, yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang darinya apa yang ia rasakan (amarah), yaitu: A'udzu billahi minasy syaithonir rojim."
Jika seorang Muslim terbangun karena mimpi buruk yang menakutkan, disunnahkan untuk meludah kecil (tanpa air liur) ke arah kiri sebanyak tiga kali dan membaca ta'awudz, kemudian mengubah posisi tidur.
Meskipun lafalnya sedikit berbeda (ditambah minal khubutsi wal khabaits), intinya tetap memohon perlindungan dari setan jantan dan betina yang sering menghuni tempat-tempat kotor.
Membiasakan diri mengucapkan kalimat ini memiliki dampak psikologis dan spiritual yang besar. Berikut adalah beberapa keutamaannya:
Dengan memahami arti audzubillahiminasyaitonirojim secara mendalam, diharapkan setiap Muslim tidak hanya mengucapkannya sebagai rutinitas lisan semata, tetapi menjadikannya sebagai doa yang tulus untuk memohon penjagaan dari Allah SWT dalam setiap langkah kehidupan. (Z-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved