Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Pengertian Idgham Mutamatsilain, Hukum Bacaan, dan Contoh Lengkap

Reynaldi Andrian Pamungkas
23/12/2025 17:40
Pengertian Idgham Mutamatsilain, Hukum Bacaan, dan Contoh Lengkap
Berikut idgham mutamatsilain(freepik)

MEMPELAJARI ilmu tajwid merupakan kewajiban bagi setiap muslim agar dapat membaca Al-Qur'an dengan tartil dan benar. Salah satu hukum bacaan yang sering dijumpai namun kerap luput dari perhatian detail adalah idgham mutamatsilain. Secara sederhana, hukum ini terjadi ketika dua huruf yang sama bertemu, di mana huruf pertama mati (sukun) dan huruf kedua hidup (berharakat).

Pemahaman yang mendalam mengenai hukum ini sangat penting untuk menyempurnakan makhraj dan sifat huruf saat melantunkan ayat suci.

Pengertian Idgham Mutamatsilain

Secara etimologi atau bahasa, idgham berarti memasukkan atau meleburkan sesuatu ke dalam sesuatu yang lain. Sedangkan mutamatsilain berasal dari kata mitslain yang berarti dua hal yang semisal atau sejenis. Oleh karena itu, dalam terminologi ilmu tajwid, idgham mutamatsilain adalah pertemuan antara dua huruf yang sama persis, baik dari segi makhraj (tempat keluar huruf) maupun sifatnya.

Hukum ini berlaku bagi seluruh huruf hijaiyah, mulai dari Alif hingga Ya, dengan catatan huruf pertama harus bersukun dan huruf kedua berharakat. Cara membacanya adalah dengan meleburkan huruf pertama ke dalam huruf kedua, seolah-olah kedua huruf tersebut menjadi satu huruf yang bertasydid. Dalam literatur tajwid, hukum ini juga sering disebut dengan istilah Idgham Mimi (khusus untuk huruf Mim) atau Idgham Mitslain.

Pembagian Jenis Idgham Mutamatsilain

Dalam kajian tajwid yang lebih mendalam (Skyscraper Technique), idgham jenis ini dibagi menjadi tiga kategori utama berdasarkan kondisi harakat hurufnya:

1. Idgham Mutamatsilain Saghir

Ini adalah jenis yang paling umum dan menjadi fokus utama dalam pelajaran tajwid dasar. Terjadi apabila huruf yang pertama bersukun (mati) dan huruf yang kedua berharakat (hidup). Hukumnya wajib diidghamkan (dilebur).

Contoh: Huruf Dal sukun bertemu Dal berharakat, atau Ba sukun bertemu Ba berharakat.

2. Idgham Mutamatsilain Kabir

Terjadi apabila kedua huruf yang sama tersebut sama-sama berharakat (hidup). Menurut riwayat Imam Hafs dari Ashim (yang umum digunakan di Indonesia), hukum ini dibaca Izhar (jelas) dan tidak dilebur, kecuali pada beberapa tempat khusus seperti pada Surah Yusuf ayat 11 pada kata ta'manna.

3. Idgham Mutamatsilain Mutlaq

Terjadi apabila huruf pertama berharakat dan huruf kedua bersukun. Hukum bacannya adalah Izhar (jelas) dan tidak boleh diidghamkan. Contohnya pada kata Ma nansakh (Nun berharakat bertemu Nun sukun).

Syarat dan Ketentuan Membaca

Cara membaca idgham mutamatsilain terbagi menjadi dua sifat dengung:

  • Bighunnah (Dengan Dengung): Berlaku khusus jika huruf yang bertemu adalah huruf Mim (م) bertemu Mim, atau Nun (ن) bertemu Nun. Durasi dengungnya ditahan kira-kira 2-3 harakat.
  • Bila Ghunnah (Tanpa Dengung): Berlaku untuk huruf-huruf hijaiyah selain Mim dan Nun. Cara membacanya melebur sempurna dengan menekan huruf (tasydid) tanpa menahan suara di hidung.

Contoh Idgham Mutamatsilain dalam Al-Qur'an

Berikut adalah contoh-contoh penerapan hukum bacaan ini disertai dengan teks Arab dan referensi suratnya agar Anda dapat mempraktikkannya langsung.

1. Huruf Ba (ب) bertemu Ba (ب)

Contoh ini terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 60:

ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْحَجَرَ

"Idhrib bi'ashakal hajara"

Pada potongan ayat di atas, huruf Ba sukun pada kata Idhrib bertemu dengan huruf Ba berharakat kasrah pada kata bi'ashaka. Maka dibaca melebur menjadi Idhribbi'ashaka.

2. Huruf Dal (د) bertemu Dal (د)

Contoh ini dapat ditemukan dalam Surat Al-Maidah ayat 61:

وَقَد دَّخَلُوا۟ بِٱلْكُفْرِ

"Wa qad dakhaluu bil kufri"

Huruf Dal sukun pada kata qad bertemu dengan Dal berharakat fathah pada kata dakhaluu. Dibaca dengan menekan huruf dal tanpa dengung.

3. Huruf Kaf (ك) bertemu Kaf (ك)

Contoh pertemuan huruf Kaf terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 78:

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ

"Ainama takuunuu yudrikkumul mautu"

Huruf Kaf sukun pada yudrik bertemu dengan Kaf dhommah pada kum, sehingga dibaca yudrikkum.

4. Huruf Mim (م) bertemu Mim (م) - Dengan Ghunnah

Ini adalah contoh yang juga disebut Idgham Mimi. Terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 10:

فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ

"Fii quluubihim maradhun"

Karena melibatkan huruf Mim, maka wajib dibaca dengan ghunnah atau mendengung yang ditahan.

Pengecualian Hukum Idgham Mutamatsilain

Meskipun kaidah dasarnya adalah pertemuan dua huruf yang sama, terdapat pengecualian penting yang harus diperhatikan agar tidak salah dalam membaca. Hukum idgham ini tidak berlaku (harus dibaca Izhar/Jelas) apabila:

  1. Huruf Ya (ي) bertemu Ya (ي): Jika huruf Ya yang pertama adalah huruf Mad (panjang). Contoh: Fii yaumin. Huruf Ya pertama berfungsi memanjangkan bacaan, bukan huruf konsonan mati, sehingga tetap dibaca panjang dan tidak diidghamkan.
  2. Huruf Wawu (و) bertemu Wawu (و): Jika huruf Wawu yang pertama adalah huruf Mad. Contoh: Aamanuu wa amilus sholihat. Wawu pada kata Aamanuu adalah pemanjang (mad), sehingga tidak boleh dilebur ke Wawu berikutnya.

Dengan memahami detail, jenis, dan pengecualian dari idgham mutamatsilain, diharapkan kualitas bacaan Al-Qur'an kita semakin baik dan sesuai dengan kaidah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. (Z-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya