Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
Syair Ilahilastulil atau yang dikenal dengan judul Al-I'tiraf (Pengakuan) merupakan salah satu munajat yang sangat populer di kalangan umat Muslim Indonesia. Syair ini sering kali dikumandangkan di masjid-masjid dan musala, khususnya pada jeda waktu antara azan dan ikamah, atau saat salat Jumat. Liriknya yang menyayat hati berisi pengakuan seorang hamba yang merasa penuh dosa, namun tidak sanggup menanggung siksa neraka.
Secara historis, syair ini dinisbatkan kepada Abu Nuwas (Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami), seorang penyair masyhur di era Kekhalifahan Abbasiyah. Meskipun dikenal dengan kisah-kisah humoris dan masa mudanya yang dekat dengan kehidupan duniawi, Abu Nuwas diyakini mengalami fase pertobatan yang mendalam di akhir hayatnya, yang kemudian melahirkan syair permohonan ampunan ini.
Bagi Anda yang ingin mengamalkan atau memahami maknanya secara utuh, berikut adalah teks lengkap syair Al-I'tiraf dalam bahasa Arab, transliterasi latin, serta terjemahannya:
إِلَهِى لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً
Ilahii lastu lil firdausi ahlaa
وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ
Walaa aqwaa 'alaa naaril jahiimi
Artinya: "Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Firdaus. Namun, aku juga tidak kuat menahan panasnya api neraka Jahanam."
فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي
Fahab lii taubatan waghfir dzunuubii
فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
Fa innaka ghaafirudz-dzanbil 'azhiimi
Artinya: "Maka berilah aku tobat (ampunan) dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa yang besar."
ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ
Dzunuubii mitslu a’daadir-rimaali
فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلاَلِ
Fahab lii taubatan yaa dzaal jalaali
Artinya: "Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir. Maka berilah aku tobat, wahai Zat Yang Maha Agung."
وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ
Wa 'umrii naaqishun fii kulli yaumi
وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي
Wa dzanbi zaa-idun kaifah-timaali
Artinya: "Dan umurku berkurang di setiap harinya. Sedangkan dosaku terus bertambah, bagaimana aku menanggungnya?"
إِلَهِى عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ
Ilahii 'abdukal 'aashii ataaka
مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ
Muqirran bidz-dzunuubi wa qad da'aaka
Artinya: "Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bermaksiat ini telah datang kepada-Mu. Dengan mengakui segala dosa, dan sungguh telah memohon kepada-Mu."
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun
وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ
Wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Artinya: "Jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak melakukan itu. Namun jika Engkau menolak, maka kepada siapa lagi kami berharap selain kepada Engkau?"
Syair Ilahilastulil mengajarkan kita tentang konsep tawâdhu’ (kerendahan hati) dan khauf (rasa takut) yang seimbang dengan raja’ (harapan). Dalam bait pertama, Abu Nuwas tidak dengan sombong meminta surga, karena ia sadar akan banyaknya dosa yang ia lakukan. Namun di sisi lain, ia secara jujur mengakui kelemahannya sebagai manusia yang tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa neraka.
Sikap ini sejalan dengan ajaran Islam untuk senantiasa bertaubat dengan sungguh-sungguh atau Taubatan Nasuha, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur'an. Hal ini relevan dengan firman Allah yang menyerukan orang-orang beriman untuk bertaubat, seperti yang tercantum dalam Surat At-Tahrim ayat 8.
Para ulama Sufi menilai syair ini sebagai bentuk diplomasi hamba kepada Tuhannya. Ia merayu Allah SWT bukan dengan amal ibadahnya, melainkan dengan pengakuan atas kelemahan dan dosa-dosanya, serta keyakinan mutlak bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun (Al-Ghaffar).
Meskipun bukan merupakan doa yang bersumber langsung dari hadis Nabi SAW (ma'tsur), para ulama memperbolehkan dan bahkan menganjurkan membaca syair-syair yang mengandung hikmah dan pujian kepada Allah. Beberapa keutamaan merenungi dan melantunkan syair ini antara lain:
Syair ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana Allah juga mengingatkan hamba-Nya yang melampaui batas untuk tidak berputus asa, seperti yang tersirat dalam pesan-pesan pertobatan di Surat Az-Zumar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved