Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KICAUAN burung yang memenuhi rawa, hutan, dan padang rumput bukan hanya menambah kehidupan pada ekosistem. Pola vokal ini juga menunjukkan bagaimana burung mengumpulkan dan memproses informasi dari lingkungannya. Selama bertahun-tahun, penelitian lebih banyak menyoroti spesies yang mampu mempelajari cara membuat suara baru. Namun riset terbaru menggeser fokus itu, bukan pada apa yang burung ucapkan, melainkan pada apa yang mereka pahami.
Kajian tersebut menyoroti kemampuan comprehension learning, belajar memahami makna suara berdasarkan pengalaman, muncul di sebagian besar kelompok burung. Temuan ini menantang pandangan lama hanya sedikit spesies yang mampu belajar sesuatu dari suara. Puluhan tahun penelitian kini menunjukkan sedikitnya 17 ordo burung, termasuk bebek, merpati, burung hantu, penguin, pelatuk, kakatua, serta banyak burung penyanyi, memanfaatkan pengalaman sosial atau lingkungan untuk menafsirkan bunyi.
Beberapa spesies menunjukkan pengenalan sederhana, sementara lainnya memahami hubungan sosial yang lebih kompleks. Para peneliti mencatat, “kemampuan untuk mengambil informasi dari suara lebih berkembang pada burung dibanding kemampuan mereka mengode informasi melalui suara.”
Di lapangan, burung camar dapat mengenali pasangan dengan tepat. Bebek dan puyuh belajar mengenali panggilan induk sejak awal kehidupan. Pada koloni besar, anak burung sering menggunakan pola vokal khas agar mudah ditemukan orangtuanya. Penguin diketahui memiliki memori vokal yang tajam sehingga dapat menemukan pasangan atau anak mereka di antara ribuan individu.
Burung penyanyi memberi contoh yang lebih beragam. Mereka dapat mengenali tetangga, mengikuti aliansi sosial, bahkan memahami konflik antarburung lain.
Beberapa spesies menampilkan kemampuan third-party awareness, seperti pelatuk acorn yang mampu melacak anggota kelompok, mantan anggota, serta interaksi antarpihak. Banyak burung juga dapat mempelajari alarm spesies lain, termasuk superb fairywren dan great tit, yang dapat memahami suara baru jika dikaitkan dengan bahaya.
Di sisi lain, usage learning, kemampuan mengubah cara atau alasan menghasilkan suara, jauh lebih jarang ditemukan. Meski burung dapat dilatih di laboratorium, kasus alami tetap terbatas. Contohnya, finch zebra menyesuaikan waktu panggilan saat terjadi gangguan, atau wren di Amerika Tengah yang memperbarui pola duet saat membentuk pasangan baru. Burung paruh bengkok menunjukkan fleksibilitas tinggi melalui pelatihan visual atau audio, meski jarang terjadi di alam.
Kajian tersebut menekankan memaknai suara tidak selalu membutuhkan penalaran rumit. Burung kerap mengasosiasikan suara tertentu dengan individu atau situasi familiar. Namun beberapa kasus menunjukkan pemrosesan lebih maju, seperti menyimpulkan hierarki sosial atau membentuk peta mental keanggotaan kelompok.
Temuan ini memberi petunjuk baru tentang asal-usul bahasa manusia. Peneliti menduga bahasa mungkin bermula dari kemampuan memahami makna suara, jauh sebelum manusia mampu menghasilkan bunyi baru atau membentuk struktur sintaksis. “Pola paling mencolok dari tinjauan ini adalah betapa jarangnya penggunaan vokal yang dipelajari,” tulis para peneliti.
Studi ini menegaskan kemampuan memahami suara mungkin merupakan kapasitas yang lebih kuno dalam evolusi. Sementara penggunaan suara yang dipelajari muncul belakangan dan secara tidak merata.
Burung masih menyimpan banyak rahasia tentang evolusi komunikasi. Kicauan mereka ternyata membawa lapisan makna yang jauh lebih dalam dari yang sebelumnya diperkirakan. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved