Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
RISIKO cuaca ekstrem di berbagai wilayah Indonesia meningkat seiring menguatnya aktivitas gelombang atmosfer dan munculnya sirkulasi siklonik di sekitar wilayah Indonesia. BMKG menyebut kombinasi dua fenomena ini mempercepat pembentukan awan konvektif dan memicu hujan lebat dalam beberapa hari terakhir.
BMKG melaporkan intensitas hujan tinggi terjadi merata di sejumlah daerah. Dalam tiga hari terakhir, BMKG mencatat kejadian hujan lebat–sangat lebat di Majalengka (128,3 mm), Cirebon (123,5 mm), Tangerang Selatan (99,3 mm), Balikpapan (83,4 mm), Nabire (78,5 mm), Pangkal Pinang (75,2 mm), dan Yogyakarta (63,6 mm).
Menurut BMKG, peningkatan hujan ekstrem ini terjadi akibat interaksi beberapa faktor atmosfer. “Kejadian hujan lebat hingga sangat lebat disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi dinamika atmosfer Indonesia, baik pada skala global, regional, maupun lokal,” ujar BMKG dalam keterangan resmi, Jumat (14/11).
BMKG mencatat pola sirkulasi siklonik tengah terbentuk di Samudra Hindia barat daya Sumatera, selatan Jawa Timur hingga Bali, serta perairan tenggara Filipina. Pola ini diperkirakan bertahan dalam beberapa hari ke depan. “Sirkulasi siklonik ini turut mendukung pertumbuhan awan konvektif,” jelas BMKG.
Pada saat bersamaan, aktivitas gelombang atmosfer, MJO, Rossby Ekuator, dan Kelvin juga sedang menguat. “Gelombang atmosfer tersebut saat ini aktif di sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku,” papar BMKG.
Kombinasi gelombang atmosfer yang aktif dan konsistennya siklon membuat atmosfer semakin labil. Kelembapan tinggi dan dorongan massa udara dari utara dan selatan memperkuat potensi hujan lebat yang berlangsung lebih lama.
BMKG menegaskan cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam sepekan ke depan. “Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti genangan, banjir, dan longsor,” ujar BMKG.
BMKG juga menganjurkan masyarakat memastikan kebersihan lingkungan dan saluran drainase tetap berfungsi, serta memantau informasi prakiraan cuaca dari kanal resmi sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.(M-2)
BMKG memprediksi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia pada Kamis, 30 Oktober 2025 akan dipengaruhi oleh sirkulasi siklonik yang terpantau di beberapa perairan.
BMKG mengeluarkan prakiraan cuaca nasional untuk Minggu, 18 Mei 2025. Sejumlah wilayah diprediksi mengalami cuaca ekstrem akibat sirkulasi siklonik
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved