Headline
Istana minta Polri jaga situasi kondusif.
SEBUAH rumah yang berdiri di Jl. Perintis Kemerdekaan Nomor 33, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat tampak berdiri kokoh. Rumah bersejarah milik Djiauw Kie Siong yang dibangun pada 1920an merupakan rumah bersejarah pada masa pra kemerdekaan.
Jika dilihat latar belakangnya, Djiauw Kie Siong yang lahir 1880 dan wafat 1964 merupakan seorang petani keturunan Tionghoa yang bergabung dalam tentara Pembela Tanah Air (Peta). Rumah tersebut menjadi tempat Bung Karno dan Bung Hatta diamankan oleh golongan muda.
Di rumah ini, Bung Karno dan Bung Hatta diamankan oleh para pemuda sebelum memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Pengamanan tersebut dilakukan oleh sejumlah pemuda, antara lain Soekarni, Wikana, Aidit dan Chaerul Saleh.
Pada awalnya, golongan muda membawa Soekarno-Hatta ke markas PETA Karawang. Namun, tempat tersebut dirasa tidak cukup aman dari pengawasan Jepang. Akhirnya, golongan muda memindahkan Soekarno-Hatta ke rumah Djiauw Kie Siong
Pada masa itu, rumah Djiauw Kie Siong yang berada dekat dengan sungai memiliki akses yang sangat sulit karena harus melewati semak-semak belukar dan persawahan sehingga tidak berada dalam pengawasan Jepang.
"Lokasi rumah ini sudah bergeser sekitar 50 meter dari aslinya untuk menghindari banjir Sungai Citarum," terang Janto Djoewari (75 tahun), cucu dari Djiauw Kie Siong, Jumat (6/12).
Selanjutnya, golongan tua yaitu Ahmad Soebardjo, Jusuf Kunto, dan Sudiro pergi ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno-Hatta. Mereka kembali ke Jakarta saat tengah malam, keesokan harinya, tepat pada 17 Agustus 1945 proklamasi diumumkan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Rumah Djiauw Kie Siong kini berada di lahan pekarangan sekitar 150 m2. Rumah dengan ukuran 9x6 ini memiliki bentuk limasan berbahan kayu. Dinding rumah terbuat dari bahan kayu, lantai berupa ubin terakota, dan bagian atap dalam rumah terbuat dari anyaman bambu.
Bagian depan rumah merupakan serambi terbuka. Pintu masuk berada di tengah diapit dua jendela dengan cat hijau muda. Di dalam rumah pengunjung dapat melihat beberapa foto yang terpajang, seperti foto Djiauw Kie Siong, Soekarno, dan Hatta.Di ruang utama juga terdapat meja untuk berdoa bagi etnis Tionghoa.
Sebagian furnitur, seperti meja, ranjang, dan bangku yang ada di rumah ini merupakan replika. Pasalnya, pada 1961 beberapa barang yang digunakan oleh Soekarno-Hatta Museum Siliwangi, Bandung. Barang-barang yang dibawa, antara lain, meja segi empat untuk berunding; ranjang yang digunakan oleh Soekarno; dan empat buah bangku yang digunakan pada peristiwa Rengasdengklok.
Dalam kunjungan Napak tilas sejarah perjuangan bangsa yang dilakukan Komisi A DPRD DIY bersama wartawan DPRD DIY, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menyampaikan, dari bangunan bersejarah di Rengasdengklok ini kita belajar untuk lebih mengerti tentang sejarah. "Bagaimana dedikasi, pengorbanan, semangat juang dan daya juang sangat kuat dari para pendiri bangsa," terang dia.
Oleh sebab itu, dari perjuangan para pendiri bangsa, ia pun menekankan pentingnya menjaga dan mencintai Indonesia. Eko pun mengajak Pemda DIY untuk selalu menjaga dan melestarikan museum-museum bersejarah di DIY. (H-2)
SEMANGAT kemerdekaan Indonesia selalu identik dengan kebebasan, termasuk kebebasan dalam memilih gaya hidup yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menghadirkan gebrakan berbeda dalam Karnaval Kemerdekaan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Dengan pembaruan pendidikan, tokoh terdidik seperti Soekarno dan Sutan Sjahrir lahir dan menjadi pelita bagi masyarakatnya.
Dengan mengangkat karya intelektual, dialog kebangsaan, serta semangat persatuan, acara ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam membangun Indonesia.
Gebyar Kemerdekaan merupakan agenda tahunan Peradi Jakbar yang juga sebagai ajang silaturahim
Dalam pidatonya, Wakil Ketua Golkar DKI Ashraf Ali menegaskan bahwa perjuangan para pahlawan harus diteruskan dengan cara yang relevan di era modern ini.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved