KATA orang bijak, honesty is the best policy, kejujuran ialah kebijaksanaan yang terbaik. Maaf kalau terjemahannya kurang pas, tapi saya rasa Anda pahamlah maksud saya. Jujur itu sudah paling benerlah, kalau terjemahan versi bahasa lebih santai.
Sejak kecil, semua orang pasti diajarkan untuk selalu jujur alias tak berbohong. Saya tak tahu ya, apakah ada orangtua penjahat yang sejak kecil mengajarkan anak-anaknya untuk berbohong. Tapi pada dasarnya, kita semua tahu, bahwa berbohong itu tak baik. Kalau bohong, nanti masuk neraka. Begitu kata guru agama. Kalau bohong, nanti digigit 'nenek gondrong'. Begitu kata sebuah lagu anak. Entah kenapa pencipta lagunya menulis lirik begitu. Berani jujur, hebat. Begitu kata Komisi Pemberantasan Korupsi. Tapi sayangnya, para koruptor lebih berani korupsi ketimbang jujur.
Tapi, baik saya dan Anda pasti tahu, hidup kita tak selalu dihiasi dengan kejujuran. Semua orang pasti pernah bohong dalam hidupnya. Bukan cuma koruptor yang tak berani jujur. Kita pun sering tak berani jujur. Terlambat datang ke kantor, bohong ke atasan, dengan alasan jalanan macet. Padahal, bangunnya kesiangan.
Dalam kadar tertentu, kalau kita sering berbohong pun, kita tak lebih baik dari para koruptor yang sering kita hujat. Cuma ya bedanya, mereka merugikan negara, kebohongan kita mungkin tak merugikan negara.
Seandainya semua berani jujur, mungkin keadaan akan berbeda. Bayangkan, kalau para caleg (calon legislatif) atau calon pejabat bersikap jujur dengan mengatakan bahwa motivasi mereka jadi anggota legislatif atau pejabat, yang utama demi melayani kepentingan diri sendiri dan partainya. Sodara-sodara, saya mengajukan diri jadi caleg demi nyari duit. Saya dengar balik modalnya cepat, untung besar kalau tembus. Makanya, mohon maaf kalau nanti setelah terpilih belum bisa memerhatikan kalian. Saya harus mengurus balik modal saya dulu, terus mengurus partai. Nah, setelah itu baru mengurus rakyat. Doakan saya ada waktunya.
Atau, begini. Saya jadi pejabat demi kekuasaan, supaya saya dan keluarga serta orang-orang dekat bisa hidup enak. Pokoknya, saya mau berusaha supaya bisa hidup nyaman. Kalaupun nanti saya korupsi, itu demi tujuan baik, mengurus keluarga. Syukur-syukur Anda jadi kecipratan hidup nyaman ya setelah saya jadi pejabat. Tapi yang utama buat hidup saya dulu.
Kalau begitu kan enak. Tak ada rakyat yang dikecewakan. Tak akan ada lagi tuduhan pejabat kerjanya mengumbar janji. Imej pejabat jadi orang tepercaya. Orang yang memegang teguh janjinya.
Hayo, calon pejabat, berani jujur begitu nggak? (*/H-1)