Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
Di era digital saat ini setiap orang dengan mudah terhubung melalui jaringan internet. Semua sekat seolah tidak ada lagi, bahkan dengan jarak geografis maupun budaya dan negara yang berbeda setiap orang kini bisa terkoneksi.
Untuk itu setiap individu pun harus berpikir bagaimana caranya berperilaku di media digital. Tidak lagi terbatas satu budaya dan golongan, bahkan kini setiap orang dituntut untuk bisa berkolaborasi satu sama lain. Karena itu diperlukan etika digital apalagi dengan masifnya penggunaan internet.
"Menurut HootSuit kini populasi Indonesia sudah mencapai 277 juta, pengguna selulernya mencapai 370 juta dan 204 juta di antaranya memakai internet dengan jumlah pemakai media sosialnya 191 juta," kata Relawan Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo), Sotyaparasto Winajimursid saat webinar Literasi Digital wilayah Ngawi, Jawa Timur pada akhir pekan lalu
Penetrasi pengguna internet yang sangat luar biasa, data juga menunjukkan media sosial yang digunakan teratas adalah Whats'App dan Facebook. Dengan keragaman karakter, budaya, negara, serta unsur lain tentu bermedia digital memerlukan etika. Termasuk dalam berinteraksi di ruang digital, di mana sekarang banjir informasi menjadi permasalahan baru potensi akan beredarnya hoaks atau berita palsu maupun terjadinya perundungan digital.
"Kita harus harus selalu menyadari bahwa kita berinteraksi dengan manusia nyata di jaringan. Bukan sekadar deretan angka huruf di layar monitor. Namun dengan karakter manusia yang sesungguhnya," ujarnya lagi.
Tindakan etis bisa menjadi perisai saat individu terkena konten negatif. Caranya dengan memahamkan setiap masyarakat akan pentingnya literasi digital sehingga dapat menganalisa konten negatif. Melalui kompetensi literasi digital seseorang juga sudah secara otomatis bisa memverifikasi konten negatif dan terhindar dari menyebarluaskannya. Sebaliknya justru dengan pengetahuan literasi digital, individu akan menyibukan diri memproduksi konten positif yang bermanfaat. (OL-12)
BISNIS dan sufisme sebenarnya dua wilayah yang berbeda. Ketika orang berbicara tentang bisnis, ia akan segera lari kepada keuntungan-keuntunngan ekonomis.
Di tengah ritme kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang merindukan ruang untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, dan bertumbuh secara pribadi.
Komisi VIII DPR RI mengingatkan pentingnya etika publik dan perlindungan anak menyoroti video viral yang memperlihatkan penceramah Elham Yahya atau Gus Elham yang mencium anak kecil
Filsafat Kemiliteran dan Keselamatan Negara. Buku ini memberikan insight penting kepada berbagai pihak untuk mendeteksi anasir-anasir buruk yang melemahkan keluhuran militer
PENYELENGGARAAN Pemilu 2024 menuai sorotan, kali ini bukan hanya soal teknis kepemiluan, melainkan juga persoalan etika dan gaya hidup mewah para komisioner KPU.
Jika kurang terkontrol, gaya komunikasi yang kurang hati-hati bisa menimbulkan persepsi negatif dan berpotensi mempengaruhi citra pemerintahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved