Jumat 11 Februari 2022, 06:00 WIB

Berharap Bahasa Isyarat Jadi Mata Pelajaran Sekolah

MI | Humaniora
Berharap Bahasa Isyarat Jadi Mata Pelajaran Sekolah

Dok. Pribadi
Lukisan puzzle berbentuk gambar Garuda Pancasila karya Muhammad Fauzan.

 

MESKI minat terbesarnya ada pada seni, Muhammad Fauzan tetap berkeinginan untuk dapat menyampaikan suara penyandang disabilitas ke publik lewat karyanya, seperti halnya yang dilakukan idolanya, Surya Sahetapy.

Selain memiliki keterbatasan fisik yang sama, menurutnya, anak ketiga Dewi Yull dan Ray Sahetapy itu telah berhasil memperjuangkan hak kaum penyandang disabilitas tunarungu untuk mendapat identitas yang pantas atas dirinya, termasuk panggilan tuli bagi penderita tunarungu.

"Saya kagum sama Surya, ia menyuarakan kepada publik (hak) disabilitas tunarungu/tuli dan mampu mengembangkan program-program yang berhubungan dengan disabilitas tunarungu/tuli," ucapnya.

Pasalnya, menjadi penyandang disabilitas berarti berhadapan dengan paradigma berpikir yang kerap mendiskriminasi golongan itu. Padahal, secara legal hak penyandang disabilitas di Indonesia diatur dalam UU No 8 Tahun 2016.

Bukan hanya itu, kondisi kurangnya pemahaman dan penggunaan bahasa isyarat di masyarakat pun membuat hubungan antara kaum disabilitas dan masyarakat tampak jauh. Padahal, menurutnya, penting semua orang tak terkecuali disabilitas untuk mempelajari bahasa isyarat untuk membantu berkomunikasi.

Karena itu, ia pun mengharapkan pembelajaran bahasa isyarat berlaku juga di mata pelajaran di sekolah-sekolah formal meski penerapannya tidaklah mudah.

Menurut Fauzan, menerapkan bahasa isyarat sebagai mata pelajaran itu tidaklah mudah. "Namun, saya benar-benar berharap bahwa aka nada mata pelajaran bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi," ungkapnya.

"Dengan menguasai bahasa isyarat, penyandang disabilitas tunarungu tidak akan takut untuk berkomunikasi pada orang-orang sekitar dan mampu mengurangi rasa diskriminasi terhadap penyandang disabilitas," ungkapnya.

Saat ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek) masih menilai pembelajaran bahasa isyarat hanya berlaku untuk jenjang pendidikan anak berkebutuhan khusus atau kaum difabel dan belum diperluas.

Penggunaan dan pengajaran bahasa isyarat menjadi penting bagi sekolah khusus. Namun, jenjang pendidikan lain tidak mengajarkan bahasa isyarat sebagai bagian dari materi pengajaran. Alasan mereka ialah menunjukkan empati kepada kaum difabel tidak berarti harus diajarkan juga materi bahasa isyarat. (Suryani Wanda Putri/N-1)

Baca Juga

Antara/Hasan Sakri Ghozali

15 Ucapan Selamat Tahun Baru 2023 Singkat dalam Bahasa Inggris

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Selasa 06 Desember 2022, 12:00 WIB
Dengan hari Tahun Baru, kita juga bisa semakin mendekatkan diri dengan kerabat dan juga...
Anggota TNI melihat jalur aliran lahar dan Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Senin (5/12/2022).

Pakar Gunung Api Pertanyakan Sistem Peringatan Dini Saat Erupsi Semeru

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 06 Desember 2022, 11:45 WIB
Sistem peringatan dini sebaiknya dikeluarkan sedini mungkin sebelum erupsi terjadi sampai ke masyarakat, sehingga proses evakuasi lebih...
Ist

Rayakan Malam Tahun Baru, Bigland Hotel Bogor Gelar Carnival Land

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 06 Desember 2022, 11:03 WIB
BIgland Hotel Bogor kembali menyajikan perayaan meriah untuk seluruh tamu pada malam tahun baru, dengan memberikan penampilan yang seru...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya