Kamis 16 September 2021, 06:00 WIB

Belajar Teori dari Praktik

Nike Amelia Sari | Humaniora
Belajar Teori dari Praktik

Dok. Pribadi
Azka Fu’ad Alhamdi

 

BERAWAL dari kegiatan majalah sekolah, Azka Fu’ad Alhamdi belajar desain dari nol. Menjalankan tugasnya membuat desain-desain untuk majalah sekolah sehingga kegiatannya tak lepas dari komputer dan desain membuat pria bernama beken Azka Ibawa ini terbiasa dengan aktivitas desain.

Memutuskan untuk masuk ke program studi Ilmu Komunikasi dengan mengambil peminatan advertising, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu semakin yakin untuk mendalami desain, terutama digital imaging dan motion graphics. Menimba ilmu di perkuliahan dan lewat komunitas membawa Azka terpacu mengikuti kompetisi.

Salah satu kompetisi yang ia menangi baru-baru ini ialah Poster Award 2020 yang diadakan Taiwan Association for International Care of Organ Transplants (TAICOT). Karya kolaborasinya itu mendapat Merrit Award dan Honorable Award. Selain itu, pada tahun ini, Azka meraih juara pertama di kompetisi nasional Fuso Wallpaper Competition 2021.

Kepada Muda, Azka berbagi cerita terkait pengalamannya berkompetisi dan ketertarikannya terhadap ilmu desain. Berikut perbincangan kami via daring, Senin (13/9).

 

Desain-desain yang kamu ikut sertakan pada Poster Award 2020 sungguh menggugah. Bisa diceritakan tentang itu?

Kompetisi ini bertujuan mengatasi perdagangan organ secara ilegal. Kami mengirimkan tiga poster yang salah satunya itu poster series. Poster series ini konsepnya sama, tetapi berbeda objek. Ada jantung, hati, dan ginjal. Posternya ini visualnya berbentuk seperti mainan.

Dunia resah akan organ-organ yang diambil dari warga Tiongkok oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab secara ilegal. Jadi, poster kami menggambarkan organ itu seperti mainan yang mudah digunakan dan mudah dijualbelikan untuk menyindir sindikat tersebut. Poster series ini memang di kategori Honorable Award.

Ada lagi poster dompet yang tersayat. Dompet menggambarkan uang dan tersayat itu menggambarkan operasi ginjal. Ini meraih penghargaan di Merrit Award. Yang satu lagi, jantung berbentuk tabungan dan di dalamnya ada uang. Poster ini diibaratkan jantung sebagai celengan. Jangan dipecah untuk uang yang receh, dalam artian, jangan dijual. Sayangnya, ini tidak berhasil mendapat penghargaan.

 

Berapa lama persiapan bersama rekan kamu untuk produksi poster-poster itu? 

Sekitar tiga minggu kami riset dan mencari ide. Akhir Agustus tahun lalu, kami mendapatkan informasi lomba ini, kemudian kami break down brief lomba tersebut. Lalu kami juga mencari tahu insight lomba ini, kemudian riset kecil-kecilan dengan orang-orang di sekitar. Riset tersebut kami kumpulkan dan di-break down kembali menjadi sebuah ide. Untuk pembuatan posternya tidak lama juga, paling untuk tiga poster yang sudah dikirimkan di lomba ini sekitar satu mingguan. Yang lama itu di bagian risetnya.

 

Bagaimana perasaan kamu bisa meraih dua penghargaan di kompetisi internasional ini?

Meskipun sudah mengira dari awal, tetap saja kami deg-degan juga karena ini pertama kalinya ikut kompetisi internasional. Sebelumnya, hanya cukup sering ikut kompetisi nasional.

 

Ada hal yang dirasa menjadi tantangan tersendiri?

Tantangannya itu terletak di background permasalahan di Tiongkok yang kami di Indonesia kurang relate. Selama yang diikuti di Indonesia, background masalahnya, seperti setop hoaks dan lain sebagainya. Sementara itu, untuk background, masalah di kompetisi ini kami belum merasakannya dan belum meresahkannya. Jadi, untuk mencari tahu lebih dalam, itu yang cukup susah.

 

Kamu punya strategi khusus untuk memenangi kompetisi ini atau kompetisi sejenis pada umumnya? 

Kami belajar dari pengalaman. Sejak awal kuliah biasa ikut lomba juga sehingga polanya sudah terbentuk dari break down brief, riset, praeksekusi, hingga eksekusi. Jadi, pengalaman sebelumnya digunakan juga di kompetisi ini.

Dalam kompetisi ini, saya juga melihat bagaimana jurinya, seperti style jurinya dan jurinya suka yang seperti apa. Biasanya, jika jurinya tidak diketahui dan jurinya berasal dari instansi yang mengadakan lomba tersebut, biasanya saya tidak menang.

 

Apakah Poster Award ini salah satu yang paling berkesan buat kamu? 

Iya, karena ini pertama kalinya saya mengikuti kompetisi internasional dan ajang ini juga untuk pembuktian diri saya. Selain itu, saya berkesan di kompetisi Fuso Wallpaper Competition 2021. Di kompetisi ini, saya merasa saya banget di bidang kompetisi ini. Jadi, saya merasa tertantang melihat apakah saya termasuk digital imaging terbaik atau tidak.

 

Apa yang kamu sertakan dalam Fuso Wallpaper Competition tersebut?

Kompetisi ini seperti desain iklan yang memakai digital imaging untuk komersial. Untuk idenya, ini masih standar, di brief lomba tersebut diberikan beberapa jenis truk fuso beserta fungsinya. Saya membuat desain iklan truk fuso yang berfungsi di pembangunan.

 

Beberapa tahun terakhir, kamu juga sudah cukup banyak meraih penghargaan di bidang desain, apakah ini memang bidang kompetisi yang kamu sasar?

Kalau menyasar, mungkin tidak, ya, cuma saya hanya ingin berkembang saja. Saya juga ikut di komunitas membuat iklan, jadi saya ingin belajar banyak di komunitas ini. Cara belajarnya dengan break down brief dari berbagai kompetisi untuk mempersiapkan diri sebelum terjun ke dunia pekerjaan.

 

Sejak kapan kamu meyakini jika bidang ini merupakan bakat kamu? 

Sejak SMA memang sudah mendesain juga, seperti desain logo dan banner sekolah. Dulu, saya anggota majalah di sekolah. Saya yang mengurus layout majalah tersebut sehingga tugas-tugas saya berhubungan dengan komputer dan grafis. Pada awalnya, terpaksa karena ini tugas, tetapi lama-lama menjadi terbiasa. Sewaktu di SMA, saya belajar secara autodidak, mencoba-coba tools design.

 

Apa kesulitan yang lazim kamu temui saat mendalami bidang ini?

Kesulitannya itu terletak pada menentukan konsep untuk menentukan arah pesan dari visual yang akan dibuat.

 

Apa yang membuat bidang ini menarik untuk kamu? 

Bagi saya, desain grafis itu tidak perlu banyak teori, tetapi hanya sering latihan dengan menggunakan aplikasinya sehingga tidak perlu memikirkan teorinya seperti apa. Jika punya taste bagus, pasti secara teori benar. Jadi, saya mendapatkan teori-teorinya justru setelah mempraktikkannya. Tanpa mempelajari ilmunya juga bisa dan tidak ribet.

 

Akan tetapi, kok, kamu justru memilih kuliah di jurusan advertising ketimbang desain? 

Masuk ke perkuliahan, saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi dengan penjurusan ke advertising. Menurut saya, di DKV (desain komunikasi visual) sepertinya lebih ke eksekusi, sedangkan saya juga ingin tahu juga dari perspektif ide-idenya.

Dengan saya mengambil peminatan advertising juga masih sangat berhubungan erat sekali (dengan desain) karena di perkuliahan saya juga belajar brainstormingbreak down brief, dan lain-lainnya. Ilmu yang saya sudah terima itu saya aplikasikan di berbagai kompetisi. Kalau minat saya, itu lebih ke desain grafis dan motion graphics.

 

Menurut kamu, bagaimana kans profesi desainer grafis saat ini dan ke depan?

Saat ini, sangat banyak dibutuhkan karena sekarang era digital dan semua yang ditampilkan di digital semuanya dibuat desainer grafis, baik yang visual statis seperti gambar maupun yang motion (gambar bergerak). Ke depannya, mungkin masih banyak juga dicari, tapi orang-orang yang ahli di bidang ini juga akan semakin banyak sehingga kompetisinya akan lebih sulit.

 

Apa saja target kamu ke depannya?

Target kedepannya, saya ingin ikut kompetisi iklan yang sesungguhnya, seperti Citra Pariwara. Kalau di local, ada Pinasthika. Namun, ini perlu bekerja di agensi-agensi besar di Jakarta, tapi saya mungkin ingin ke sana.

Seterusnya, saya ingin berkarier di dunia desain grafis, advertising. Mungkin saya juga ingin membuat studio sendiri suatu saat nanti. (M-2)

 

BOX

Tips mudah belajar desain grafis:

1. Belajar Tools Design

Untuk yang baru belajar dari 0, bisa mempelajari berbagai tools yang ada di aplikasi desain guna memudahkan saat mencoba membuat desain nantinya.

2. Belajar Mencari Konsep dan Ide

Sebelum membuat sebuah desain, perlu untuk menentukan konsep dan ide agar bisa mengarahkan pesan visual seperti apa yang ingin disampaikan.

3. Belajar Autodidak

Berbagai aplikasi gratis cukup banyak tersedia, salah satunya Youtube, kita bisa belajar autodidak dari tutorial Youtube.

4. Latihan

Setelah itu, berlatih terus-menerus.

 

Nama: Azka Fu’ad Alhamdi

Tanggal lahir: 21 Januari 1998

 

Daftar Prestasi

- Juara 2 Kategori PrintAd di Bharatika Fest 2019

Winner Lensa Academi Digital imaging Competition 2019

- Juara 1 Kompetisi Desain Poster Stop Hoax Indonesia oleh MAFINDO 2020

- Juara 1 kategori PrintAd di AdUIN 2020

- Merit Award, Poster Award 2020 by TAICOT

- Honorable Award, Poster Award 2020 by TAICOT

- Juara 1 Fuso Wallpaper Competition 2021

 

Pengalaman Kerja:

- 2021 Graphic designer di RWE Digital Agency

- 2020 Freelance graphic designer

- 2019 DI artist intern di Apix10 Studio

- 2019 Creative director di Aduin Fest 2019

- 2019 Graphic designer di Ayam Alibaba

- 2018 Graphic designer di Welcoming Expo 2018

- 2018 Graphic designer di Garuda Revolution Media

- 2018 DI artist di Kelompok Belakar Iklan HAHAHA

- 2017 Graphic designer di Komunitas Kostrad Advertising

 

Pendidikan

- 2012-2015 SMA Rifaiyah Kayen

- 2016-2021 Ilmu Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Baca Juga

Dok. Mandalawangi Bergerak

Vaksinasi di Kaki Gunung

👤Fathurrozak 🕔Kamis 23 September 2021, 06:00 WIB
SUATU hari di penghujung Agustus lalu, sekitar pukul 08.00 WIB, beberapa orang di desa kaki Gunung Gede Pangrango, Cibodas, Jawa...
Antara/Basri Marzuki

 Survei : Kepuasan terhadap Proses Vaksinasi Tinggi, Alur Pendaftaran dan Prokes Perlu Jadi Perhatian

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 23 September 2021, 00:06 WIB
Survei ini disebarkan 6-21 Agustus 2021 secara online ke seluruh Indonesia dengan melibatkan 8.299 responden menggunakan metode convenience...
Dok Media Group

Dalam Tiga Hari, 4.011 Penumpang Internasional Tiba di Bandara Soetta

👤Insi Nantika Jelita 🕔Rabu 22 September 2021, 23:42 WIB
Sebanyak 1.997 di antaranya adalah pekerja migran Indonesia (PMI) dan 2.014 orang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Sarjana di Tengah Era Disrupsi

Toga kesarjanaan sebagai simbol bahwa seseorang memiliki gelar akademik yang tinggi akan menjadi sia-sia jika tidak bermanfaat bagi diri dan orang banyak di era yang cepat berubah ini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya