Selasa 03 Agustus 2021, 05:55 WIB

Guru dan Pembelajaran Astronomi di Indonesia

Hakim Luthfi Malasan KK Astronomi FMIPA ITB | Humaniora
Guru dan Pembelajaran Astronomi di Indonesia

Dok. Pribadi
Hakim Luthfi Malasan KK Astronomi FMIPA ITB

 

DENGAN posisi geografis pada garis khatulistiwa dan tiga zona waktunya, Indonesia memiliki potensi besar dalam pemanfaatan dan pengembangan teknologi antariksa. Walaupun demikian, keberadaan pendidikan astronomi di Indonesia sejauh ini kurang mendapatkan perhatian, baik dari masyarakat maupun dari pemerintah. Alhasil, hasrat kaum muda terhadap astronomi tidak dapat sepenuhnya tersalurkan dengan baik

Di Tanah Air, pendidikan astronomi secara khusus tidak diajarkan kepada para siswa. Para siswa memperoleh pengetahun dasar astronomi dari mata pelajaran ilmu pengetahuan alam pada tingkat pendidikan dasar, kemudian mata pelajaran fisika pada tingkat pendidikan menengah dengan intensitas yang sebatas lapisan luar pemahaman ilmu terkait.

Praktik dalam pengajaran juga dirasa tidak ada. Andai ada, biasanya cenderung monoton sehingga para siswa kurang berminat untuk mempelajari astronomi lebih lanjut.

Di sisi lain, guru juga kesulitan dalam mengajarkan dan membangkitkan antusiasme siswa terhadap astronomi karena menganggap praktik astronomi butuh alat yang kompleks dan mahal, dengan topik relatif rumit.

Seiring dengan perkembangan sains dan teknologi di era global, metode pengajaran astronomi turut mengalami perubahan. Metode baru yang kreatif dan menarik tentu perlu disosialisasikan kepada para guru dan semua pihak yang berkecimpung dalam pendidikan astronomi di tingkat dasar dan menengah.

Dengan pemikiran itu, sebagai salah satu dari kalangan astronom profesional, Program Studi Astronomi FMIPA ITB bekerja sama dengan Itera (Institut Teknologi Sumatra) dan IAU (Intenational Astronomical Union) mengadakan pelatihan dasar NASE (Network for Astronomy School Education) bagi para guru. Target utama dari pelatihan ini ialah guru SMA, khususnya pembina Olimpiade Astronomi, mahasiswa, atau pengurus komunitas astronomi.

Ide-ide baru dalam melakukan pengajaran astronomi, baik itu kepada para siswa maupun kepada masyarakat umum, menjadi fokus pelatihan ini. NASE dibentuk pada 2009 di Rio de Janeiro, Brasil, sebagai kelompok kerja di bawah IAU. NASE merupakan program yang bertujuan mengedukasi para pendidik terkait degnan metode pembelajaran kreatif dalam astronomi. NASE telah bekerja sama dengan profesor-profesor universitas dalam mengembangkan metode pembelajaran yang bisa membantu guru dalam baik menjelaskan teori dalam astronomi maupun membuat alat peraga sederhana.

 

Diadakan daring

Pelatihan NASE terbagi menjadi tiga sesi utama, yaitu sesi kuliah umum, sesi workshop, dan sesi working group. Sesi kuliah disampaikan para dosen Program Studi Astronomi ITB, sedangkan untuk sesi workshop dan working group dipandu enam instruktur lokal, empat di antaranya merupakan instruktur lokal Itera yang telah mempunyai pengalaman NASE 2018 dan NASE 2019.

Pada NASE 2020, tim IAU-NASE menambahkan topik workshop baru, yaitu workshop 10 tentang astrobiologi. Khusus pada workshop 10 ini, Presiden IAU-NASE, Rosa M Ros, secara langsung akan menjadi instruktur tamu. Berbeda dengan tiga kegiatan NASE sebelumnya, NASE 2020 yang berlangsung selama tiga hari merupakan NASE pertama yang dilaksanakan secara dalam jaringan (daring) di Indonesia. Peralihan kegiatan NASE dari tatap muka menjadi daring merupakan wujud adaptasi NASE selama pandemi covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sesi perkuliahan meliputi sejarah perkembangam astronomi, kehidupan dan evolusi bintang, kosmologi, dan tata surya. Kuliah topik-topik itu diampu dosen Program Studi Astronomi ITB dengan harapan peserta dapat memahami lebih jelas topik kuliah dan dapat memperoleh jawaban yang memuaskan terhadap pertanyaan yang diajukan.

Perkuliahan itu dilengkapi dengan sesi workshop, membahas aneka topik astronomi yang menarik, meliputi horizon lokal dan jam matahari; peraga bintang, matahari, dan bulan; studi gerhana bulan dan gerhana matahari; kotak perlengkapan astronom muda; bintik matahari dan spektrum matahari; riwayat bintang; astronomi di luar pengamatan; pengembangan alam semesta; planet dan exoplanet; serta astrobiologi. Workshop itu dipandu enam instruktur dari ITB dan Itera dan satu instruktur tamu.

Dua sesi working group berisi kegiatan diskusi mengenai persiapan astronomi dan situs arkeoastronomi yang terdapat di Indonesia. Kegiatan itu akan dipandu juga oleh instruktur yang memiliki bidang penelitian yang berkesesuaian dengan topik working group.

Kegiatan IAU NASE 2020 diikuti 74 peserta dari 13 provinsi dalam wilayah Indonesia barat dan Indonesia tengah. Peserta datang dari berbagai kalangan, yaitu dosen di perguruan tinggi, guru SMA, perwakilan komunitas, mahasiswa aktif, dan pelajar SMA.

Peserta yang berprofesi sebagai guru tidak hanya merupakan guru astronomi, tetapi juga berasal dari guru matematika atau guru fisika. Untuk peserta yang berprofesi sebagai mahasiswa, hampir semuanya merupakan anggota aktif dari komunitas astronomi baik itu di daerah asal maupun komunitas di universitas. Jumlah peserta NASE 2020 merupakan jumlah peserta terbanyak jika dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya.

Kendati terdapat perbedaan zona waktu, peserta tetap semangat dan dapat mengikuti kegiatan dengan baik. NASE Bandung 2020 mengadakan kegiatan observasi secara virtual (remote observation) pada hari kedua NASE mulai pukul 18.30 WIB.

Instruktur melakukan observasi secara langsung dengan kamera yang terpasang pada teleskop disambungkan ke internet dan peserta dapat melihat langsung objek langit, seolah-olah mereka melihat dari telekskop secara langsung.

Dari keseluruhan workshop yang telah dilakukan, peserta dapat membuat alat-alat peraga secara langsung meliputi sundial (jam matahari) sederhana, star and solar demonstrators, penggaris sudut sederhana (ruler), kuadran (quadrant), goniometer, atlas putar langit (planisphere), struktur matahari sederhana, spektometer sederhana, dan roket. Tentu alat peraga yang dibuat hanya sebagian kecil dari alat peraga NASE secara keseluruhan. Akan tetapi, dalam NASE daring, ada beberapa percobaan yang tidak mungkin dilakukan, misal praktik yang membutuhkan interaksi antarpeserta, atau kegiatan di luar ruangan. Sebagai pengganti, instruktur menggunakan video (tanpa audio) dari laman resmi NASE untuk menjelaskan percobaan tersebut.

Peserta secara umum menyampaikan sangat terbantu dengan adanya pelatihan NASE ini. Banyak yang menyampaikan bahwa pelatihan NASE melebihi ekspektasi mereka. Peserta sangat menikmati jalannya pelatihan, terutama saat workshop dan pembuatan alat peraga. Materi-materi, yang sebelumnya sulit dijelaskan, dengan bantuan percobaan sederhana NASE dapat dimengerti dengan lebih mudah. Hal itu juga membantu peserta, terutama guru dalam menjelaskan beberapa teori seperti contoh spektrum cahaya dengan menggunakan spektometer sederhana. Hal yang sama pada komunitas astronomi yang banyak berinteraksi dengan anak-anak dan sering kali kesulitan dalam menyediakan materi yang menarik. Banyak percobaan sederhana yang dapat menarik minat, seperti permainan gerhana atau menyusun struktur matahari yang berwarna-warni dengan model sederhana.

Peserta jadi menyadari bahwa pengamatan astronomi tidak terbatas pada teleskop. Tanpa menggunakan teleskop pun mereka dapat melakukan pengamatan sederhana, seperti horizon, dan gerak benda langit. Peserta dapat mengambil foto horizon lokal dan mengambil foto matahari tenggelam selama beberapa hari untuk mendapatkan garis maya lintasan matahari.

Para peserta merasa beruntung bahwa NASE 2020 dilaksanakan secara daring. Beberapa peserta menyampaikan mereka telah mengetahui adanya NASE sejak tiga tahun lalu, tapi karena kendala lokasi dan biaya, mereka tidak bisa mengikuti. Kini mereka semakin ingin mengikuti NASE secara tatap muka dan bersemangat untuk mencoba melakukan praktik di daerah masing-masing, baik itu kegiatan kelas, ekstrakurikuler, maupun acara komunitas astronomi. (M-2)

 

Biodata

Hakim Luthfi Malasan ialah astronom yang juga staf Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB, anggota Kelompok Keahlian Astronomi dan spesialisasi fisika bintang dan instrumentasi astronomi.

Menyelesaikan pendidikan sarjana bidang astronomi di ITB pada 1985, dilanjutkan dengan meraih MSc dan DSc dari Graduate School in Sciences, The Unversity of Tokyo, Jepang, masing-masing pada 1989 dan 1992.

Baca Juga

ANTARA/ARIF FIRMANSYAH

Passing Grade PPPK 2021, Bentuk Ketidakpekaan Kemendikbud-Ristek pada Guru Honorer

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Minggu 19 September 2021, 15:40 WIB
Guru PAI honorer berjuang untuk mengabdi di berbagai pelosok negeri, tapi ketika ada secercah harapan mereka terbentur aturan tingginya...
DOK Kemenkominfo.

Tahap Ke-69, Vaksin Pfizer kembali Tiba di Tanah Air

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 19 September 2021, 15:25 WIB
Indonesia juga turut aktif dalam upaya penyetaraan akses vaksin di...
Antara/Jessica Helena Wuysang.

Pembukaan Wisata untuk Wisatawan Mancanegara Harus Dipersiapkan Matang

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 19 September 2021, 15:00 WIB
Jangan karena hanya mempertimbangkan jumlah kasus positif covid-19 di Tanah Air menurun drastis lalu kita terburu-buru membuka pintu bagi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

AS, Inggris, dan Australia Umumkan Pakta Pertahanan Baru

 Aliansi baru dari tiga kekuatan tersebut tampaknya berusaha untuk melawan Tiongkok dan melawan kekuatan militernya di Indo-Pasifik.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya