Kamis 24 Juni 2021, 21:00 WIB

Konflik Lahan jadi Kendala Rehabilitasi Hutan Mangrove

Mediaindonesia.com | Humaniora
Konflik Lahan jadi Kendala Rehabilitasi Hutan Mangrove

Ist
Ilustrasi : Penanaman mangrove di area land subsiden, Dukuh Pandansari, Desa Bedono, Sayung, Demak.

 

Persoalan konflik lahan menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam merehabilitasi hutan mangrove yang kritis.

Peneliti Balai Litbang dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Virni Budi Arifanti dalam webinar "Edukasi Restorasi Ekosistem Mangrove" diakses dari Jakarta, Kamis (24/6), mengatakan sebenarnya hampir sebagian besar pesisir di Indonesia dulu ditumbuhi mangrove, namun karena perkembangan zaman banyak yang ditebang untuk berbagai kebutuhan.

Menurut dia, saat hendak ditanami kembali KLHK menemukan banyak sekali kendala. Isu konflik lahan menjadi salah satunya, lalu ada pula lahan yang tidak bisa ditanami lagi karena ekosistemnya yang sudah berubah sehingga tidak sesuai lagi ditanami mangrove.

Jika dulu sejumlah kawasan merupakan hutan mangrove namun sekarang ada masyarakat yang klaim itu merupakan tanah mereka. Sehingga ada yang ingin ditanami mangrove lagi jadi sulit karena masyarakat menolak, lebih memilih tetap menjadi tambak karena dianggap lebih menguntungkan meski itu masih menjadi perdebatan.

"Itu masalah yang kami temui. Itu jadi tantangan kami untuk bisa efektif merehabilitasi mangrove sesuai habitat dan karakteristiknya," ujar Virni.

Sebelumnya Kepala Badan Litbang dan Inovasi KLHK Agus Justianto mengatakan hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem terpenting di kawasan pesisir yang keberadaannya memiliki peran multifungsi baik secara fisik, ekologi, sosial dan ekonomi. Ekosistem tersebut sangat esensial, menyediakan berbagai jasa ekosistem mulai dari supporting, biological provisioning, regulating, hingga cultural services.

Agus mengatakan fungsi dan manfaat hutan mangrove secara fisik dapat melindungi pantai dari gelombang, angin dan badai, sedangkan secara ekologi menjadi penyangga kehidupan bagi berbagai organisme akuatik maupun organisme teresteria. Untuk fungsi sosial-ekonomi mangrove merupakan sumber mata pencaharian masyarakat pesisir, dan juga berkontribusi sebagai pengendalian iklim global melalui penyerapan karbon.

Sebagai penyedia jasa ekosistem, hutan mangrove memberikan manfaat bagi masyarakat karena sebagai provisioning kawasan itu menjadi sumber air bersih, sumber pangan, kayu, kayu bakar, hasil hutan bukan kayu (HHBK), sebagai regulating menjadi kontrol banjir, angin, mencegah intrusi air laut, dan penyimpan karbon.

Untuk cultural services, mangrove menjadi tempat rekreasi, spiritual, estetika. Dan sebagai supporting, mangrove berperan untuk siklus nutrisi, pembentukan tanah, dan pertumbuhan tanaman, sedangkan sebagai biological maka kawasan tersebut menjadi habitat flora dan fauna serta organisme.

Luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 3,31 juta hektare (ha), menjadi terluas di dunia atau sekitar 20 persen luas mangrove dunia. Namun, 637.000 ha lahan tersebut kritis, sehingga pemerintah merehabilitasinya seluas 17.000 ha di 2020 lalu dan menargetkan rehabilitasi mangrove 150.000 ha per tahun dapat dilakukan dari 2021 sampai dengan 2024.

Beragam peran penting dan strategis mangrove membuat upaya perlindungan terhadap keberadaan dan fungsi hutan mangrove menjadi prioritas dengan pengelolaan yang tepat dan terpadu, ujar Agus. (Ant/OL-12)

Baca Juga

ANTARA

Banyak Nakes Terpapar Covid-19, Kemnaker dan IDI Gelar Webinar

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 16:30 WIB
Data juga mengungkapkan hingga saat ini, lebih dari 1.400 orang nakes gugur akibat pandemi...
dok.pribadi

Kepala BIN Tinjau Vaksinasi di Pesantren: Ketahanan NKRI Ada di Sini

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 15:55 WIB
KEPALA BIN Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan meninjau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi para santri, di Ponpes Ummul Quro,...
FOTO/Youtube

Posisi Wamendikbudristek Diharapkan Bukan Diisi Politikus

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 15:44 WIB
Pengamat pendidikan Ina Liem menilai bahwa posisi Wakil Menteri Pendidikan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi harus diisi oleh sosok inovatif...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Eksistensial

 Laporan SIGAR menggarisbawahi kekhawatiran pasukan Afghanistan tidak siap untuk melakukan pertahanan yang berarti

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya