Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKIL Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (Wasekjen DPP) Al-Ittihadiyah KH.Zulkifi mengatakan puasa ajarkan umat untuk mengendalikan diri sebagai seorang yang beriman dan menjunjung toleransi.
DI dalam kehidupan bermasyarakat ada hal-hal yang perlu disikapi secara bijak dan benar, sehingga diharapkan dengan pengendalian diri dan toleransi tidak menimbulkan pertentangan di antara sesama umat manusia, katanya.
“Bangsa kita ini adalah bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan juga agama. Dalam menghadapi situasi yang demikian, kuncinya adalah bagaimana kita bisa bersikap saling toleransi di antara sesama, baik sesama umat maupun dengan umat yang lain,” ucap KH Zulkifi di Jakarta, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara, Jumat (30/4).
Ia mengungkapkan bahwa toleransi itu juga ada di dalam peraturan agama. “Nah marilah toleransi itu kita jaga dengan sebaik-baiknya sehingga tidak menimbulkan letupan-letupan yang akan dapat menimbulkan gejolak antar sesama umat manusia dan umat agama lain di negeri ini,” imbuhnya.
Apalagi, menurut dia, puasa juga dapat membuat umat bisa bersama-sama merasakan bagaimana orang-orang yang selama ini hidup kekurangan. Kemudian diberikan bantuan kepada mereka dalam bentuk zakat. Hal ini sebagai upaya untuk memberikan perhatian sehingga mereka bisa memenuhi hak-haknya sebagai manusia.
“Perhatian kepada orangnya dan juga pemahamannya tentang hidup bermasyarakat. Kalau dia hidup bermasyarakat dengan baik, dia tidak akan menimbulkan hal-hal yang di luar batas kemanusiaan, tidak menimbulkan hal-hal yang merusak, membunuh orang dan segala macamnya,” tegas Zulkifli.
Zulkifli menyampaikan dengan momentum bulan Ramadan ini, sebagai sesama anak bangsa perlu merawat kerukunan dengan sebaik-baiknya agar apa yang dicita-citakan yaitu masyarakat sejahtera, adil, makmur bisa terwujud tanpa dihantui oleh rasa takut dan rasa was-was. Itu menjadi satu keniscayaan untuk masa depan.
“Kuncinya tentu tadi itu. Kalau dia punya prinsip keagamaan yang bagus, tentu dia akan saling bertoleransi atau kasarnya dalam agama itu hal-hal yang ‘muamalah’. Dia juga tidak melakukan tindakan-tindakan yang akan merugikan dan merusak orang lain,” jelas Wakil Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (Wasekjen LPOI) itu.
Selain itu, Zulkifli juga mengingatkan bahwa pada masa pandemi Covid-19 hendaknya masyarakat dapat kembali kepada ajaran agama masing-masing dan terus mengembangkan sikap saling hormat-menghormati, saling tegur sapa antarsatu sama lain dan saling mengingatkan bahwa musibah pandemi Covid-19 ini adalah sesuatu hal yang harus disikapi dengan sebaik-baiknya, sehingga semua bisa terhindar dari penyakit tersebut.
“Untuk itulah kesadaran kita diuji agar bagaimana kita merawat diri dan keluarga kita, kemudian menasehati tetangga kita supaya bisa melaksanakan kewajibannya sehingga mereka dapat menjaga standar kesehatan yang sudah ditetapkan pemerintah,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia berpendapat dengan kemajuan teknologi informasi di media sosial saat ini, seperti informasi negatif yang disebar di WhatsApp (WA) kadang-kadang juga akan menimbulkan hal-hal yang tidak bagus di kalangan antarsesama manusia.
Untuk itu di bulan Ramdan ini ia meminta dan berharap agar umat Islam banyak berdzikir dan banyak membaca Al-Quran, sehingga dapat mengurangi kegiatan seperti chatting-chatting yang sekiranya dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain.
“Dengan demikian tidak menimbulkan hal-hal yang yang tidak kita inginkan, seperti misalnya menyebar hoaks atau fitnah. Apalagi di bulan Ramadan ini bersama kita untuk takaful atau saling melindungi, berdzikir, membaca Al-Quran yang banyak sehingga terhindar dari hal-hal yang seperti itu. Itu yang kita harapkan,” ucapnya. (Ant/OL-09)
Tradisi munggahan merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.
Pada dasarnya, puasa tidak memberikan dampak buruk secara langsung terhadap sistem kelistrikan jantung pasien.
Ayat ini menegaskan tujuan utama puasa adalah takwa, yakni kesadaran moral spiritual yang melahirkan kepatuhan, kejujuran, dan tanggung jawab baik dalam kehidupan pribadi maupun sosial.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah menegaskan bahwa pasien dengan gangguan irama jantung pada umumnya tetap dapat menjalankan puasa.
Mengingat usia buah hatinya yang masih sangat kecil, Nikita Willy lebih fokus pada pengenalan suasana dan nilai-nilai spiritual ketimbang praktik fisik berpuasa.
Anak-anak bersama orang tua mereka mengikuti tradisi ziarah makam jelang Ramadan di TPU Selapanjang, Neglasari, Kota Tangerang.
Harga cabai rawit kini mencapai Rp50 ribu per kg, naik dari Rp35 ribu per kg. Harga cabai keriting berada di kisaran Rp35 ribu per kg, dari sebelumnya Rp20 ribu per kg.
APCI memprediksi setelah periode Imlek, harga cabai rawit merah akan bergerak turun secara bertahap.
'Supaya tetap fit di bulan Ramadan, kami menggelar lebih dahulu Senam Berkah ini, senam yang Insya Allah mendatangkan banyak keberkahan
Tradisi munggahan merupakan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, memperbarui relasi, dan menjaga identitas budaya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved