Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
LULUSAN pendidikan vokasi secara umum masih banyak mendapat komplain dari perusahaan (penyedia kerja) karena dinilai kurang tahan menghadapi tekanan dalam dunia kerja. Mereka juga dinilai minim memiliki kemampuan soft skill, kurang dapat bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik secara lisan ataupun tulisan, serta kurang dalam hal inisiatif.
Penilaian tersebut, dikatakan oleh Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto sebagai fakta nasional yang perlu mendapatkan perhatian serius. “Jadi, kalau tidak disuruh tidak jalan dan mudah bosan. Itulah komplain yang datang dari dunia industri," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Kamis (29/10).
Untuk itu, menurut Wikan, lulusan vokasi agar dapat terjun ke dunia kerja, tidak hanya melengkapi diri dengan hard skill yang baik, tetapi juga soft skill yang mumpuni. Karenanya jika soft skill kuat, maka mereka akan belajar secara mandiri.
Selengkap apapun fasilitas yang dimiliki oleh instansi pendidikan vokasi, jika kurikulum tidak bisa menjamin penguatan soft skill maka akan percuma. Oleh karena itu, 80 persen tenaga pengajar pendidikan vokasi saat ini harus mengubah mindset.
Wikan menuturkan, soft skill merupakan kemampuan yang sangat penting, terutama di era pandemi covid-19 saat ini. Akibat pandemi covid-19, banyak perusahaan tidak bisa menyerap lulusan, maka kewirausahaan menjadi jawaban.
“Berbicara kewirausahaan maka sebetulnya berbicara soft skill yang paling relevan yaitu kemampuan berkomunikasi, presentasi, kemampuan menerima perbedaan, kemampuan dalam team work, kemampuan berbahasa asing dan lain-lain dan yang terpenting juga soal kejujuran dan integritas," terangnya.
Soal soft skill ini kini menjadi kebijakan utama pendidikan vokasi di Indonesia. Penekanan pada soft skill, disebutnya, akan menjadi warna Permendikbud Sekolah Vokasi mendatang terkait Merdeka Belajar. “Lulusan sekolah vokasi idealnya tidak hanya hard skill, tapi juga soft skill, bahkan penguasaan soft skill ini jauh lebih penting," tandasnya.(H-1)
Saksi Sutanto ungkap peran dominan Jurist Tan dalam sidang korupsi pengadaan laptop Kemendikbudristek yang menyeret nama Nadiem Makarim.
Dalam persidangan, terlihat juga istri Nadiem, Franka Franklin, serta ibunda Nadiem, Atika Algadrie, yang sudah hadir dan menyambut Nadiem sejak masuk ke ruang sidang.
KEMAMPUAN membaca bukan bawaan lahir. Otak manusia tidak dirancang untuk itu. Itu ialah penemuan budaya yang baru
Penulisan sejarah pun perlu melakukan analisis dan ditulis dengan kritis dan pemikiran yang terbuka.
Suap dan gratifikasi di sektor pendidikan biasanya terjadi karena adanya orang tua murid memaksakan anaknya masuk sekolah tertentu.
Harli menegaskan Kejagung belum menentukan tersangka dalam kasus ini. Perkaranya masih menggunakan surat perintah penyidikan (sprindik) umum.
Program Desaku Maju–GERCEP direncanakan berlangsung dalam 58 kelas di 38 desa.
Yayasan Indonesia Setara bekerja sama dengan Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, dan Perindustrian Perdagangan (DKUKMPP) Kota Cirebon serta Refo menggelar workshop digital marketing.
Data Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2024 mencatat jumlah wirausaha Indonesia telah mencapai 3,47% dari total penduduk, naik dari 3,21% pada tahun sebelumnya.
Program Kartini Bluebird, wadah pemberdayaan bagi istri dan putri pengemudi Bluebird yang berdiri sejak 2014, terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ekonomi keluarga
Salah satu Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Widayani Wahyuningtyas, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut mengusung tema 'Edukasi kewirausahaan sejak usia dini.
Gus Falah menegaskan, adalah keharusan bagi santri untuk menguasai berbagai bidang, mulai dari teknologi, sains, politik, hingga kewirausahaan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved