Rabu 28 Oktober 2020, 03:26 WIB

Pendidikan Karakter dan Eksistensi Generasi Muda

Ihfa Firdausya | Humaniora
Pendidikan Karakter dan Eksistensi Generasi Muda

ANTARA/Zabur Karuru
Sejumlah anggota Pramuka bekerja sama membuat tandu.

 

PENGUATAN karakter menjadi kunci utama untuk menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan pada abad ke-21. Karena itu, nilai tersebut harus tertanam di lingkungan pendidikan, keluarga, maupun masyarakat.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) telah menjadikan pendidikan karakter sebagai program prioritas. Dalam hal ini, penanaman sikap pelajar yang berlandaskan Pancasila menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter.

Enam sikap pelajar Pancasila yang dirumuskan Kemendikbud antara lain berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kreatif, bergotong-royong, dan kebinekaan global.

Menurut Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Iwan Syahril, sejatinya pendidikan karakter ada di setiap mata pelajaran di sekolah. Karena itu, pendidikan karakter tidak perlu menjadi mata pelajaran khusus.

Dia mencontohkan, mata pelajaran menggambar tidak hanya mengajarkan tentang teknik-teknik menggambar, tetapi juga melatih cara berpikir, mental dan karakter. Contoh lain pelajaran biologi, tidak sekadar menghafal nama tumbuhan, hewan atau organ manusia, tapi juga bisa jadi ajang melatih berpikir kritis sehingga mendorong ingin terus belajar.

“Keinginan terus belajar ini bagian dari membangun pola pikir yang ingin kita tanamkan misal nilai sabar, jujur, berkolaborasi gotong-royong di semua mata pelajaran,  tidak bisa kita belajar budi pekerti, yang lain enggak dulu,” kata Iwan dalam acara Gelar Wicara Tanya Jawab Pendidikan Indonesia yang disiarkan langsung di YouTube Kemendikbud, belum lama ini, seperti dikutip dari Medcom.id.

Iwan menambahkan pengalaman-pengalaman siswa di sekolah juga merupakan bagian dari pembentukan karakter. Contohnya agar pergaulan di sekolah mengajarkan siswa untuk tidak melakukan perundungan kepada siswa lain, menjaga kebersihan, dan lingkungan. “Itu semua bagian dari membentuk mental,” jelasnya.

Pengamat pendidikan sekaligus Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof Cecep Darmawan menyebut era digital memberikan tantangan tersendiri bagi pendidikan karakter.

“Selain memberi kemudahan, era digital justru lebih banyak tantangan bagi pendidikan karakter karena pengaruh negatif juga masuk. Misalnya melalui konten-konten dewasa dan kekerasan,” ungkapnya kepada Media Indonesia, Minggu (25/10).

Karena itu, pendidikan karakter ini tak bisa hanya mengandalkan guru, tapi juga orangtua di rumah. Kewajiban guru dan orangtua ialah membuat anak memiliki filter terhadap nilai-nilai yang tidak sesuai Pancasila.

Apalagi di masa pandemi, tantangan utama bagi pendidikan karakter ialah sulitnya sekolah atau guru memantau perilaku siswa di rumah.

“Betul pembelajaran bisa dilakukan jarak jauh (PJJ) melalui media daring, tapi pendidikan karakter agak sulit. Untuk mengatasinya, harus melalui pendekatan orangtua. Jadi, orangtua diposisikan sebagai guru pengganti pendidikan karakter di rumah,” jelasnya.

Cecep mengapresiasi langkah Kemendikbud yang membentuk Puspeka. Ia pun mendorong Kemendikbud agar membangun road map pendidikan karakter untuk jangka waktu yang panjang. “Yang saya maksud grand design. Misalnya, tadi soal tantangan digital, bagaimana kurikulum pendidikan memperkuat karakter. Jadi bukan kurikulum karakter atau pembelajaran karakter,

tapi karakter harus inheren kepada seluruh mata pelajaran dan muatan
kurikulum,” pungkasnya.

Keteladanan

Menurut psikolog pendidikan Ifa Hanifah Misbach, kunci dari pendi- dikan karakter ialah keteladanan. Di sekolah misalnya, guru harus dapat menunjukkan sikap sabar atas keberagaman siswa, tidak hanya mengenai agama atau suku bangsa, tapi juga latar belakang ekonomi dan tingkat kecerdasan.

“Apakah dia ingin bersabar mencerdaskan anak-anak yang lebih lambat (menangkap pelajaran)? Pendidikan karakter itu saat anak terinspirasi dari keteladanan,” katanya.

Ifa menekankan bahwa memasuki abad ke-21, sesungguhnya pengetahuan sudah diambil alih oleh internet. Karena itu, yang diperlukan anak-anak muda Indonesia adalah guru-guru yang mampu membukakan pintu-pintu kearifan.

“Pintu-pintu kearifan itu bisa dibuka oleh guru yang memiliki wisdom. Wisdom bisa diraih oleh pendidik yang terbuka pada perbedaan pandangan dan peka pada keberagaman agar dapat tercipta toleransi,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ifa mengatakan tugas orangtua dan guru adalah memberikan kepercayaan pada anak-anak untuk menentukan pilihannya. Karena itu, dalam rangka sumpah pemuda, ia berpesan kepada orangtua dan pendidik agar memerdekakan diri dari rasa takut sehingga percaya kepada anak.

Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan pendidikan karakter yang baik akan menghasilkan generasi unggul, terutama pemuda yang nantinya bakal memajukan bangsa. Dalam menjaga eksistensinya, ia menyebut para pemuda harus disediakan banyak wadah untuk berkegiatan positif.

Ferdiansyah pun berpesan agar para pemuda senantiasa menjaga identitas budaya bangsa, seperti sopan santun, ramah, jujur. “Ini penting karena peranan pemuda juga bisa membantu menjaga citra Indonesia,” kata dia.

Guru berkebutuhan khusus dan PJ unit produksi braile di Sorong, Papua Barat, Fandy Dawenan mengatakan pendidikan karakter amat penting demi membentuk generasi muda bertanggung jawab dan berguna bagi nusa bangsa.

Ia mencontohkan untuk membentuk karakter pemuda di daerah Papua Barat ialah dengan memberi contoh perilaku baik, seperti taat menjalankan agama, menghargai orang yang lebih tua dan mengajarkan sopan santun.

“Kami juga mendorong mereka menjadi pemimpin yang dimulai dari kelas, memotivasi anak berpikir kritis dan bersikap jujur,” ujarnya.

Menurut dia, pemuda Indonesia harus terbuka menerima perubahan tetapi tetap melestarikan kebudayaan lokal dan cinta Tanah Air. Penguasaan bahasa asing seperti bahasa Inggris serta ilmu pengetahuan teknologi (iptek) juga jadi hal mutlak yang perlu disiapkan pemuda agar mereka dapat bersaing pada kancah global. “Mereka pun harus kreatif dalam memanfaatkan perkembangan iptek untuk mendapatkan ide-ide cemerlang dalam meningkatkan skill (keterampilan),” tutup Fandy. (S3-25)

Baca Juga

ANTARA/Rivan Awal Lingga

Mendikbud Jelaskan Banyak Dampak Negatif Pembelajaran Jarak Jauh

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 01 Desember 2020, 03:35 WIB
Terdapat beberapa kecenderungan bahwa semakin lama pembelajaran tatap muka tidak terjadi semakin besar dampak yang terjadi pada...
MI/Sumaryanto Bronto

Mandy Marahimin Berawal dari Suka Berhitung

👤Fathurrozak 🕔Selasa 01 Desember 2020, 01:40 WIB
PRODUSER Amanda Marahimin, 44, atau lebih banyak dikenal dengan nama Mandy Marahimin besar di industri...
ANTARA/Dok PT Bio Farma

Bio Farma akan Bahas Fatwa Halal Vaksin Covid-19 dengan MUI

👤Fetry Wuryasti 🕔Selasa 01 Desember 2020, 00:30 WIB
Sinovac telah berkomitmen untuk pengiriman bahan baku vaksin covid-19 secara bertahap sebanyak 50 juta dosis pada November 2020 hingga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya