Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Sudjiwo Tejo Apresiasi Nyata untuk Seni

Abdillah Muhammad Marzuqi
29/8/2020 04:10
Sudjiwo Tejo Apresiasi Nyata untuk Seni
Seniman Sudjiwo Tejo(ANTARA)

SENIMAN Sudjiwo Tejo, 57, bersuara lantang mengenai mental gratisan di bidang seni dan budaya. 

Dalam beberapa unggahan di media sosialnya, Sudjiwo Tejo berulang kali menegaskan apresiasi seni yang dibutuhkan bukan sekadar komentar, dukungan, emotikon, ataupun klik suka di media sosial. 

Lebih penting, dukungan nyata nan konkret ialah dengan membeli tiket pertunjukan. Sudjiwo Tejo sendiri kerap menyatakan hal tersebut berkaitan dengan drama musikal virtual berjudul Dongeng Cinta Ceuk Aing yang rencananya ditayangkan bertiket pada 30 Agustus mendatang. 

Dalam drama tersebut, dalang Sudjiwo Tejo bakal mengetengahkan perjalanan spiritual yang melingkupi jati diri, cinta, kehidupan, dan Tuhan. Kegelisahan yang didongengkan pada sesama itu membuat semua merasakannya sebagai kegelisahan yang lama terpendam pada mereka sendiri.

Pentas itu didukung beberapa nama besar seperti Agus Noor, Paksi Raras Alit, dan Eko Supriyanto. Selain mereka, masih ada sekitar 100 pekerja seni yang terlibat dalam pementasan itu. 

“Beli tiketnya via link pada Bio. Seperti pada beberapa postingan sebelum ini, kami tak perlu komen ‘mantab’, ‘keren’, emot “ ??”, dll.

Kami hanya butuh kalian meresponnya konkret dengan membeli tiket,” tulis Mbah Tejo, demikian ia sering disebut, di akun Instagram @president_jancukers.

Menurut Mbah Tejo, publik bisa membantu kebutuhan hidup para seniman dengan membeli tiket. Sebagai imbal balik, penonton akan mendapatkan asupan nutrisi untuk jiwa dan intelektual mereka. 

“Dengan membeli tiket via link Bio, kalian bisa membuat dapur-dapur kami semua ngebul. Mutualannya, IQ kalian pun akan ngebul. Amin,” tandasnya.


Tunda resesi

Selain maksud membantu para seniman, Tejo juga menyeru publik untuk meniatkan pembelian tiket demi tujuan lebih besar yakni revolusi kebudayaan. Beralih dari menikmati seni secara gratis menuju mental penikmat seni yang bermartabat dengan membayar.

“Niatkan juga pembelian tiket itu untuk sesuatu yang lebih besar: revolusi kebudayaan dari nonton seni gratisan tanpa merasa malu menuju nonton seni secara bermartabat yaitu dengan membayar,” tegasnya.

Selain itu, membeli tiket berarti membantu mengatasi ancaman resesi. Setidaknya, mampu menunda. “Dengan saling membeli karya sesama bangsa sendiri di berbagai bidang, berarti duit terus akan tetap beredar. Dengan itu, resesi kalau tak bisa dihindari minimal bisa kita tunda,” terusnya.

Ia juga menyayangkan dunia internet yang telah kadung memanjakan dengan tontonan gratisan. Akibatnya, segala hal yang viral menjadi viral karena gratis.

Akibatnya, martabat penonton bayar pun pudar. Tejo juga mengenang masa kecilnya ketika penonton menyatakan dukungan secara konkret. Tidak mampu uang, barang pun jadi.

“Entah sampai kapan martabat penonton bisa dikembalikan, yaitu martabat orang yang bayar. Di zaman kecilku dulu, penonton yang gak bisa bayar dengan uang akan bayar dengan kelapa, sayur mayur, dan lain-lain,” pungkasnya. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya