Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Merry Riana Bukan Zamannya Beradu Gengsi

Galih Agus Saputra
23/8/2020 03:15
Merry Riana Bukan Zamannya Beradu Gengsi
Motivator sekaligus pengusaha Merry Riana(MI/Ramdani)

GAGAL dalam berbisnis memang cukup sulit untuk diterima dengan hati lapang oleh seseorang.

Belum lagi adanya peninggalan utang yang harus dibayar sehingga membuat hidup seakan-akan berat. Dalam menghadapi semua itu, motivator sekaligus pengusaha Merry Riana, 40, mencoba berbagi kiat. 

Setidaknya ada dua cara yang harus dilakukan dalam menerima kegagalan itu, yakni memeriksa realitas dan melepas ego. Di acara Ngobrol Asyik (Ngobras) yang tayang secara langsung di akun Instagram @medcomid, Jumat (21/8), perempuan kelahiran Jakarta itu menceritakan
bahwa dia dulu pernah hidup dengan banyak utang. 

Dalam kondisi itu pula, ia belum punya pekerjaan tetap. Memeriksa realitas, bagi Merry, sangat penting karena dari situ seseorang dapat mengetahui secara persis kondisi yang sedang dialami.

“Jadi, benar-benar harus berhitung, jangan hanya dirasakan. Dihitung, income-nya berapa, utangnya berapa, terus kebutuhan dasar dan pengeluarannya berapa. Tujuannya agar bisa membuat kalkulasi secara rasional,” katanya.

Optimistis juga perlu. Akan tetapi, lanjutnya, seseorang dituntut realistis agar dapat mengerti apa yang harus dipangkas dan dilepaskan dalam kebutuhannya. Setelah mengetahui semua itu, barulah berpikir melepaskan ego.

“Mencari pekerjaan yang mungkin tidak sesuai dengan passion, it’s ok, yang penting kita atau keluarga bisa makan dulu. Dan harus bisa substitusi, sesuatu yang tidak penting dihilangkan. Makan pakai nasi sama telur dan kecap saja sebenarnya juga bisa kan?” imbuhnya.

Hal demikian juga dilakukan Merry saat baru saja lulus kuliah. Kala itu, ia mengaku tidak tergoda dengan gaya hidup teman-teman yang sudah bekerja. Menurut penulis buku Mimpi Sejuta Dolar itu, sekarang bukan zamannya beradu gengsi atau bergaya-gayaan.


Pacaran produktif

Kepada anak-anak muda, Merry pun berpesan agar tidak ragu mempertimbangkan antara memperjuangkan karier dan menikah. Untuk itu, dalam berpacaran harus realistis, misalnya, mengisi perbincangan dengan hal yang hendak diraih.

Merry teringat saat kuliah dan berpacaran dahulu bahwa hubungan mereka selalu dipenuhi dengan obrolan mendalam. “Kita jarang membicarakan soal makanan atau tempat tongkrongan, tapi lebih kepada cita-cita, nilai, atau segala sesuatu yang menjadi pencapaian terbesar dalam hidup,” ujar istri Alva Christopher Tjenderasa itu.

Dari situ akan muncul perasaan nyaman. “Kita bisa menceritakan kekurangan, pandangan, dan kita bisa yakin kepada pasangan. Saya bisa menjadi yang terbaik, saya bisa menemukan sisi yang paling baik, bahkan yang sebelumnya saya tidak yakin itu ada,” tuturnya. (H-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya