Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
PELAKSANAAN Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2020 digelar tetap meriah dan berwarna dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Masyarakat pun antusias mengikuti jalannya upacara yang diselenggarakan secara virtual. Sejumlah tamu undangan pun juga menyemarakkan suasana dengan mengenakan busana adat Nusantara.
Seperti biasa, Presiden Joko Widodo, 59, dan Ibu Negara Iriana, 56, juga mengenakan busana adat dalam peringatan kali ini. Melalui akun media sosialnya, Presiden Jokowi berbagi mengenai pilihan busana kali ini.
“Tahukah Anda, dari daerah mana gerangan busana adat yang saya kenakan di Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Istana Merdeka, hari ini? Dari Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur,” terang Presiden dalam unggahan Instagram-nya, kemarin.
Presiden menjelaskan, busana tersebut merupakan kain tenun dengan motif Berantai Kaif Nunkolo. “Motifnya dimodifikasi dari bentuk belah ketupat dengan batañg tengah yang berarti sumber air. Bagian pinggirnya yang seperti bergerigi melambangkan wilayah berbukit dan berkelok-kelok,” lanjut Presiden.
Sementara itu, warna merah melambangkan keberanian laki-laki Nunkolo, sedangkan aksesori berupa tas sirih pinang yang tersampir di samping. “Makan sirih pinang adalah budaya persatuan, juga melambangkan tanda kasih dan hormat,” terang Presiden.
Pada upacara Detik-Detik Proklamasi tahun-tahun sebelumnya, Presiden Jokowi memang kerap mengenakan busana adat dari berbagai daerah. Dalam HUT ke-74 Republik Indonesia tahun lalu misalnya, Presiden memilih untuk mengenakan busana adat khas Klungkung asal Bali.
Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan adat budaya yang sangat tinggi, termasuk dalam hal pakaian adat. “Dulu pernah (memakai busana) Aceh, Sumatra Barat, pernah juga Kalimantan Selatan, Sunda, Jawa, Betawi, kemudian Bali, Sasak, dan Bugis. Kekayaan budaya pakaian adat ini memang ribuan. Nanti sampai ke Maluku, Papua, semuanya nanti akan kita angkat,” ucap Presiden saat itu.
Saat menyampaikan pidato kenegaraan, pada Jumat (14/8), Kepala Negara memakai busana adat khas Sabu, Nusa Tenggara Timur. “Dengan mengenakan pakaian adat ini, Presiden Joko Widodo hendak mengajak masyarakat untuk mencintai produk-produk Indonesia yang dikenal kaya akan seni kriya, tenun, serta kebudayaan Nusantara,” ujar Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, kepada Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.
Bangga
Bupati Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Egusem Pieter Tahun, mengaku bangga karena Presiden mengenakan busana adat asal kampung halamannya. Egusem mengatakan busana adat yang dikenakan Jokowi tersebut berasal dari Amanatun.
“Sebagai orang Amanatun, saya bangga karena genap 75 tahun Indonesia merdeka, Presiden mengenakan busana motif Amanatun,” ujarnya saat dihubungi lewat telepon, kemarin. Menurutnya, motif yang dikenakan Presiden tersebut biasa dipakai masyarakat terutama pada upacara adat maupun kegiatan resmi lainnya. Dengan mengenakan busana adat dari Amanatun, tambah dia, Presiden telah mempromosikan
motif tersebut ke seluruh Tanah Air.
“Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Julie Laiskodat (Ketua Dekrasnada Provinsi NTT) yang berperan dalam promosi motif ini,” kata dia.
Dia berharap promosi tersebut semakin mendorong warga di kampung-kampung terus menggeluti kegiatan menenun. “Dengan menenun, akan menggerakkan ekonomi masyarakat,” imbuhnya. Egusem mencontohkan ada perempuan berusia di atas 100 tahun di Kecamatan Amanatun Selatan sampai saat ini masih menenun. Untuk menjaga tenun tidak punah, pemerintah daerah setempat mendo rong siswa SD sampai SMP untuk menenun. (PO/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved