Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
Rumah sakit diharuskan menerapkan manajemen fasilitas dan keselamatan (MFK) dalam situasi bencana, alam maupun nonalam. Di dalamnya termasuk pedoman kegiatan gizi bagi pasien.
Ahli Gizi Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta Yeni Prawiningdyah menjelaskan sejumlah standar penyelenggaraan gizi dalam situasi bencana di rumah sakit.
Menurutnya, standar minimal pemberian makanan dalam 1x24 jam harus mengandung 1500-1800 kcal. Adapun pemberian air bersih yakni 2 liter per hari.
Baca juga: Kemenristek Jelaskan Etika Akademik dalam Penemuan Obat
"Apabila ada pasien balita, kita berikan susu," katanya dalam webinar bertajuk Respon Gizi pada Kondisi Bencana, Kamis (6/8).
Kemudian, frekuensi pemberian makan minimal 2 kali sehari. "Tetapi kita tetap mengupayakan dengan memberikan tiga kali sehari," imbuh Yeni.
Dia menjelaskan bahwa menu yang dihidangkan cukup sederhana mengingat situasi bencana. Menu yang digunakan pada hari-hari awal pun sesuai dengan persediaan yang ada di rumah sakit.
"Karena itu, pada satu tahun perencanaan (angggaran), tambahkan 10% untuk kondisi darurat. Sehingga sudah tercover dengan 10% total anggaran," jelasnya.
Hingga hari ke 7, menu yang digunakan terdiri dari makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, dan sayur. Sementara, katanya, prediksi pemesanan bahan makanan setelah 7 hari sering tidak akurat.
"Karena jumlah konsumennya juga tidak bisa akurat. Namun kami bisa memproduksi dalam jumlah besar dalam waktu yang lebih cepat, sehingga kekurangan bisa kita tangani lebih cepat," jelas Yeni.
Proses memasak sendiri dilakukan sesuai waktu makan. Di sisi lain, lanjutnya, mengingat ketersediaan yang terbatas, jenis sayur yang sering dimasak antara lain kol putih, labu siam, kacang panjang, bunga kol dan wortel.
"Teknik masaknya rebus dan tumis. Karena kalau goreng waktunya sangat panjang dan tidak memungkinkan," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Sub Bidang Peralatan PB BPBD Yogyakarta Enaryaka menjelaskan tentang pengelolaan logistik dalam situasi bencana.
Menurutnya, ada 7 standar minimal wajib untuk para pengungsi. Pertama adalah pasokan air bersih, baik untuk minum maupun mandi.
"Ketika bicara air bersih, kita harus menyiapkan 7 liter pada jam pertama. Tiga hari selanjutnya 15 liter per hari. Sementara air minum 2,5 liter per hari," jelasnya.
Kedua adalah pendidikan. Enaryaka mengatakan hal ini merupakan pemenuhan hak warga negara untuk tidak kehilangan pendidikan.
"Kemudian sanitasi. Ketika bicara pengungsi, tentu harus kita imbangi dengan bagaimana pengelolaan sanitasi higienis, jarak jamban dengan tempat pengungsi, yang kurang lebih 50 meter," sambungnya.
Selanjutnya adalah penyediaan bahan pangan dan non pangan. "Dalam bahan pangan kita harus bisa mensuplai kurang lebih kalau beras 400 gram per orang atau dua kali makan pagi sore," katanya.
Dua hal terakhir adalah fasilitas kesehatan di tempat pengungsian atau lokasi bencana seperti rumah sakit lapangan, serta shelter atau barak pengungsian.
Irma menyoroti masih adanya keluhan masyarakat terkait keterbatasan dokter spesialis maupun subspesialis yang berdampak pada tidak optimalnya akses pelayanan kesehatan.
Keterlibatan sekolah dan orang tua jadi elemen penting dalam membangun pemahaman anak terhadap kesehatan dan lingkungan medis secara positif.
Jasa Raharja telah mengoptimalkan sistem monitoring dan respons cepat yang terintegrasi secara daring dengan lebih dari 2.770 rumah sakit di seluruh Indonesia.
Fokus kolaborasi ini adalah menggalakkan program pencegahan stunting bagi warga masyarakat di sekitar Pondok Gede, Kota Bekasi.
Integrasi fasilitas dan layanan ini dirancang untuk menghadirkan alur perawatan kanker yang lebih komprehensif dan efisien.
MULAI berfungsinya kembali beberapa rumah sakit di lokasi bencana banjir di Sumatra Barat, Sumatra Utara dan Aceh merupakan kabar baik. Namun, peningkatan jumlah pasien akan meningkat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved