Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
RAMBUT adalah mahkota terindah bagi seorang wanita. Namun, untuk Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, 49, rambut bukan sekadar memberikan kesan indah.
Hal itu diungkapkannya dalam sebuah wawancara bersama Antara, pada Jumat, 24 Juli 2020. Soal rambut ini memang menjadi pertanyaan pertama yang ditujukan pada Retno karena ramainya obrolan warganet mengenai rambut baru sang menteri .
Selama ini, gaya rambut pendek menjadi ciri khas perempuan kelahiran 1962 tersebut. Setelah sekian lama, Retno pun mengubah gaya rambutnya dengan model poni depan. Warganet menilai, Menteri Retno tampil lebih segar dengan poninya.
“Justru di masa pandemi ini kita harus semangat. Tidak semuanya harus dilihat dari sisi yang gloomy. Oke, tantangan memang berat. Tapi, semakin keras harusnya kita makin semangat. Meski pandemi, jangan sampai menlunya tampil kucel,” ungkap Retno yang saat itu mengenakan kemeja batik cokelat dengan anting keemasan.
Diakuinya, ia cukup sering bereksperimen dengan mahkota di atas kepalanya itu. Terkadang, ia juga mengenakan turban untuk mempermanis penampilannya. Retno yang masih satu almamater dengan Menkeu Sri Mulyani Indrawati di SMAN 3 Semarang itu sebelumnya dikenal publik lewat gaya busananya yang khas.
Warna hitam menjadi pilihan tepat acara-acara formal kenegaraan sebab cenderung tidak merepresentasikan kepentingan tertentu. Supaya gaya busananya tidak terlihat terlalu datar, ia pun mengenakan beragam aksesori. Namun, aksesori berupa anting besar tidak pernah absen dari kedua telinganya.
Kaya dengan beasiswa
Dari rambut baru, menlu perempuan pertama yang dimiliki Indonesia itu juga mengungkapkan mengapa ia menekuni profesi diplomat. Retno mengisahkan, perkenalannya dengan dunia diplomasi itu berawal dari program Dunia Dalam Berita milik TVRI yang sering ditontonnya
saat SMA.
“Isinya kan berita-berita di dunia yang melibatkan diplomat. Di situlah mulai tertarik,” ucap Retno alumnus Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Diplomat, kata Retno, bisa menjadikan hal yang jelek seperti ancaman perang menjadi damai. Berusaha menjembatani perbedaan-perbedaan yang tajam menjadi damai. Diplomat, tidak diajarkan perang. Diplomat mengajarkan situasi seburuk apa pun harus menjadi lebih baik.
Dewi fortuna menghampiri Retno karena ia berhasil mendapatkan beasiswa Kementerian Luar Negeri saat ia masih mahasiswa. “Alhamdulillah saat itu ada program ijon Kemenlu, rekruitmen langsung Kemenlu dengan universitas negeri, ada 10 kampus. Jadi mereka datang, ngetes mahasiswa pada saat kita belum sarjana. Patokannya IPK harus di atas 3,5. Akhirnya lulus dikasih beasiswa Rp75 ribu,” beber pemilik nama Retno Lestari Priansari itu.
Nilai beasiswa itu merupakan yang terbesar bagi Retno, karena sebelumnya ia telah mengantongi beasiswa Rp25 ribu. “Jadi dapatnya Rp100 ribu. Jadi aku kaya. Padahal, biaya hidupku per bulan di Yogya itu udah pake nabung dan sebagainya Rp50 ribu. Jadi aku gaya, bilang ke ibuku udah aku enggak usah dikirim uang lagi. Aku hidup dari beasiswa,” cetusnya.
Retno mampu lulus dalam waktu 2,5 tahun lebih cepat daripada teman-teman lainnya. Namun, menurutnya, pintar saja tidak cukup untuk sampai di titik saat ini. “Saya itu orang dengan determinasi (ketetapan hati) yang tinggi. Pada saat saya punya keinginan, dengan semua
upaya dan kerja keras, saya akan kejar. Seperti keinginan saya untuk menjadi diplomat itu,” ucapnya.
Ia juga menyadari, keluarganya bukan orang berada. Karena itu, semua tergantung pada usahanya baik lahir maupun batin. “Saya berusaha keras dan disiplin. Jadi, kalau boleh pesan. Determinasi kita pada saat kita punya cita-cita yang baik, kejar. Pasti enggak gampang, enggak mudah, tapi kejar. Kalau saya kombinasinya dengan berpuasa,” pungkas mantan Duta Besar Indonesia untuk Belanda itu. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved