Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Darius Sinathrya Batasi Gawai pada Anak

Fetry Wuryasti
22/7/2020 03:15
Darius Sinathrya Batasi Gawai pada Anak
Aktor sekaligus presenter Darius Sinathrya Kartoprawiro(Instagram  @DARIUS_SINATHRYA)

MENJADI orangtua dari tiga anak, aktor sekaligus presenter Darius Sinathrya Kartoprawiro, 35, bersama sang istri, Donna Agnesia Wayong, 41, tidak sertamerta bertindak jor-joran dalam memanjakan anak-anak mereka.

Sebagai contoh, Darius bercerita mereka masih menerapkan disiplin dan membatasi paparan gawai terhadap anak-anaknya. “Semenjak anak-anak masih kecil, kami selalu menerapkan mereka boleh bermain games di ponsel pada gawai pintarnya hanya saat akhir pekan. Itu pun kami batasi sehari hanya boleh 2 jam,” cerita Darius dalam webinar Keluarga Tangkas Berinternet Bersama Google, kemarin.

Meski demikian, dia mengaku praktiknya masih bisa dikompromikan. Pasalnya, ketiga anak mereka hanya diberi satu gawai untuk dipakai bergantian. “Hanya satu gadget membuat mereka belajar sharing. Mainan atau games yang mereka akses kami bisa pantau dan kontrol. Kami sangat menjaga agar anak-anak terhindar dari mainan yang berbau kekerasan,” jelas Darius.

Di satu sisi, Darius menuturkan memang sering kali pasangan orangtua ini merasa kasihan melihat posisi anaknya di antara temantemannya. Terkadang, anaknya sering tidak nyambung ketika teman-temannya membahas suatu permainan di gawai. 

Akhirnya, pada satu waktu, Darius dan Donna memberikan ponsel untuk anak pertama mereka, Lionel Nathan Sinarthrya Kartoprawiro, 13, saat kelas 4 SD karena akan melakukan summer camp selama dua minggu di luar negeri. Darius akhir nya melihat bahwa anak-anak zaman sekarang berinteraksi salah satunya dengan gim.

“Pada saat itu, ketika teman-temannya bermain games, ponsel Lio belum terisi permainan sama sekali. Kita tidak bolehkan men-download karena ponsel itu kami berikan hanya untuk komunikasi dia dengan kami. Hari ketiga saat sedang summer camp, Lio curhat merasa tidak bisa membaur dengan teman-temannya mungkin karena faktor games itu. Akhirnya, saya dan Donna diskusi dan mengizinkan download games biar bisa main bareng. Setelah punya games, dia tidak memberi kabar sama sekali ke papa mamanya kalau tidak dicariin,” cerita Darius.


Kepercayaan

“Begitu masuk SMP, akhirnya dia kami belikan gawai yang dia bisa pegang sendiri seharian dan kami memberikan dia pemahaman kalau kami tidak mungkin kontrol dia 24 jam. Jadi, kami kasih kepercayaan untuk dia mengatur penggunaan gadgetnya,” ujarnya.

Tak jarang banyak pelanggaran terjadi, seperti melampaui waktu bermain gawai di hari sekolah. Sebagai orangtua, Darius dan Donna ingin anak tetap memiliki interaksi dengan keluarga. 

“Salah satu tugas orangtua mengingatkan walaupun sampai bosan dan geregetan. Kita harus bisa menjadi mentor dan pengingat bagi anak sampai akhirnya mereka sadar sendiri,” kata Darius.

Saat pandemi, sempat terjadi kekacauan penerapan disiplin ini. Anak-anak otomatis 24 jam berada di rumah, bahkan tiga minggu pertama tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Mau tidak mau gawai menjadi pelarian yang paling mudah.

“Di situ kami belajar lagi. Kami beri waktu yang dura sinya lebih panjang, tetapi kami tetap batasi, misal pagi boleh bermain gawai asal sudah mandi, sarapan. Waktunya makan siang dan setelahnya istirahat dari gawai. Baru sore boleh pegang gawai lagi. Sebulan setelahnya anak-anak mulai ada zoom meeting sekolah dan lainnya. Tapi tetap kami coba untuk batasi dan selalu ingatkan. Banyak informasi yang membuat mereka memiliki perspektif kalau gawai ada poin positifnya, kami memberi mereka kepercayaan mengatur konten apa yang boleh diakses. Sejauh ini, menurut kami, anak-anak cukup bisa mengatur interaksi mereka dengan media sosial,” tukas Darius. (H-3)


 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya