Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah kesibukannya yang padat selama masa pandemi ini, ternyata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, 57, punya jurus jitu untuk mengatur waktu.
“Sama seperti yang lain, saya cuma punya 24 jam dalam sehari. Jadi, dalam mengelola waktu, kita harus menggunakannya sebijaksana mungkin,” ungkap Sri Mulyani dalam obrolan daring bertajuk ‘Bincang Sabtu Siang Bersama Menkeu’ Sabtu (18/7).
“Dalam tugas yang belakangan cukup banyak, saya biasanya istirahat lima sampai enam jam sehari, itu sudah cukup karena dari dulu saya lebih banyak bekerja itu di waktu malam,” lanjut perempuan yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.
Sri Mulyani mengaku selama masa tanggap darurat korona ini lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga, bahkan di sela work from home (WFH), ia mengungkapkan dapat kembali mendalami hobi bermusiknya bersama sang cucu.
“Tapi, saat pikiran lagi jenuh, saya juga biasanya melaksanakan hal-hal yang bisa mengurangi beban pikiran, seperti bermain musik. Karena sekarang selalu di rumah, saya jadi punya waktu untuk main gitar yang sudah lama sekali tidak saya mainkan. Sekarang saya punya waktu untuk cari lagu yang disukai cucu saya. Jadi kalau cucu saya menengok, kita bisa nyanyi bersama, itu yang membuat kita rileks,” terang Sri Mulyani
“Kita semuanya kan masih perlu aspek-aspek keindahan karena Tuhan menciptakan semuanya selalu seimbang. Keindahan itu merupakan bagian dari rahmat Tuhan yang harus selalu kita syukuri. Ada suara indah, lukisan indah, pemandangan indah, dan itu kadang-kadang tidak perlu kemewahan,” jelas Sri Mulyani yang mendapatkan penghargaan sebagai Menteri Keuangan Terbaik dalam World Government Summit 2018.
Milenial
Dalam bincang-bincang, Sri Mulyani juga mendorong generasi milenial yang nantinya akan menjadi tulang punggung bangsa agar mampu mengatasi kegelisahan agar tidak terus berpikiran negatif.
“Anda itu cenderung menjadi orang yang connected, confidence. Oleh karena itu, Anda harus bisa mengontrol kegelisahan. Kegelisahan itu penting, karena bisa membuat kita maju terus. Tapi, kalau terlalu banyak sampai negatif, itu bisa merusak diri Anda,” ujar Sri Mulyani.
Selain mampu memelihara kegelisahan, generasi milenial juga dituntut untuk berpikiran terbuka (open minded). Bila tidak, akan sulit untuk menjadi generasi yang bisa diandalkan dalam memajukan perekonomian bangsa di tengah pesatnya teknologi dan informasi seperti sekarang ini.
“Kalau Anda sudah diberi akses banyak sekali, tapi pikiran Anda tertutup dan tidak bisa menggunakan analytical thinking, Anda menjadi makhluk yang tidak bisa mendapatkan manfaat dari berbagai akses yang dimiliki,” jelasnya.
Sri Mulyani juga mendorong agar anakanak muda Indonesia berpikiran kolaboratif dan memiliki ambisi yang bagus. Untuk mendukung hal tersebut, dibutuhkan integritas dan kompetensi.
“Hidup memang tidak mudah, tapi itu bukan alasan kita menjadi manusia jahat, manusia tidak produktif, manusia yang negatif. Jadi masa depan itu Anda yang miliki dan Anda yang mengukir sendiri. Jangan mudah menyalahkan orang lain,” pungkasnya. (Medcom.id/H-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved