Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
SEDIKITNYA 300 kasus sindrom langka yang mengancam jiwa pada anak dan remaja terkait dengan SARS-COV-2 penyebab covid-19 merebak di Amerika Serikat.
Hal itu terungkap dalam dua riset di The New England Journal of Medicine dan riset AS yang dipublikasi pada Senin (29/6), menyusul sejumlah laporan sindrom di kalangan pasien covid-19 di Prancis, Spanyol, Inggris, dan Korea Selatan.
Sindrom langka yang dimaksud ialah sindrom peradangan multisistem pada anak (multisystem inflammatory syndrome in children/MIS-C) dan kawasaki. Profesor pediatri dan kesehatan anak internasional di Imperial College London, Michael Levin, mengungkapkan gejala itu muncul dua sampai empat minggu setelah anak terinfeksi virus korona.
“Terdapat kekhawatiran bahwa anakanak yang memenuhi kriteria diagnostik MIS-C saat ini merupakan puncak gunung es dan masalah yang lebih besar mungkin bersembunyi di bawah permukaan air,” ucap Levin seperti dikutip dari Antara.
Gejala MIS-C mirip dengan sindrom TS (toxic shock) dan kawasaki, yakni demam, ruam, bengkak pada kelenjar, dan radang jantung yang pada beberapa kasus berdampak fatal.
Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Radiology mengungkapkan anak-anak yang terkena sindrom langka itu mengalami perubahan inflamasi intraabdomen yang luas, inflamasi jalan napas, aneurisme arteri koroner, dan perkembangan edema paru.
Dalam kebanyakan kasus, anak-anak dengan keluhan itu tidak memiliki gejala covid-19, tetapi mereka memiliki antibodi yang menunjukkan mereka telah terpaparpada beberapa titik. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat mengakui penyebab MIS-C masih misterius.
“Namun, kami tahu bahwa banyak anak dengan MIS-C terinfeksi virus yang menyebabkan covid-19 atau pernah berada di sekitar seseorang yang positif covid-19,” ungkap pernyataan CDC, awal Juli ini.
Pentingnya suplemen
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan hingga 15 Juni lalu jumlah pasien positif covid-19 berusia 0-17 tahun telah mencapai 3.064 orang dan 28 di antaranya meninggal dunia.
Meski belum ditemukan kasus MIS-C di Indonesia, kemunculan sindrom ini perlu diwaspadai, salah satunya dengan menguatkan sistem imun anak di masa pandemi covid-19.
Dokter spesialis anak yang juga anggota IDAI Jaya, Margareta Komalasari, mengatakan hal itu bisa dilakukan dengan asupan makanan bergizi seimbang, imunisasi rutin dan pemberian suplemen.
“Dalam kondisi pandemi ini tumbuh kembang harus dipantau. Imunisasi juga harus dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak. Imunisasi, pemberian nutrisi, itu harus tetap berjalan meskipun dalam situasi pandemi ini,” ucapnya dalam webinar yang diadakan PT Kalbe Farma, Jumat (3/7).
Ia mengingatkan agar pemberian vitamin kepada anak harus sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Pasalnya, apabila berlebihan, itu akan menyebabkan hipervitaminosis yang bisa memengaruhi ginjal dan fungsi hati.
Medical Manager of Kalbe Consumer Health Helmin Agustina menambahkan, kandungan dalam suplemen anak umumnya berisi multivitamin dan mineral. Ia menyarankan untuk menghindari suplemen dengan kandungan gula yang terlalu tinggi. (H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved