Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Program Bayi Tabung di Masa Pandemi Covid-19. Bisakah?

Atalya Puspa
22/4/2020 07:30
Program Bayi Tabung di Masa Pandemi Covid-19. Bisakah?
Seorang dokter memperlihatkan cara memasukkan sperma ke dalam sel telur dalam diskusi program bayi tabung.(ANTARA/Agus Bebeng)

SEMANGAT pasangan suami istri mendapatkan buah hati memang tidak akan surut, pun dengan kondisi pandemi covid-19 yang berlangsung saat ini. Namun, terdapat perbedaan program bayi tabung selama masa pandemi yang harus masyarakat ketahui.

Presiden Direktur PT Morula Indonesia Ivan Sini menyarankan penanaman embrio ke rahim perempuan tidak dilakukan saat pandemi covid-19.

"Kenapa kita menyarankan tidak ditanam saat sekarang? Program bayi tabung bertujuan kehamilan. Tapi di tengah pandemi covid-19 ini, kita tidak bisa prediksi. Saat ini ada ketidaktahuan terhadap status covid-19 terhadap kehamilan, terutama kehamilan awal," kata Ivan dalam konferensi pers daring bertajuk #PROMILdirumahaja yang diselenggarakan Morula IVF Jakarta, Kamis (16/4).

Baca juga: Robot Ventilator Karya Universitas Gunadarma

Diketahui, bayi tabung dilakukan dengan cara menggabungkan telur dan sperma di luar tubuh. Kemudian, sel telur yang sudah dibuahi dan sudah dalam fase siap dipindahkan ke dalam rahim perempuan.

Program bayi tabung akan memakan waktu yang lama dan membutukan konsultasi yang intensif dengan dokter. Pasutri harus melewati sejumlah proses, mulai dari program kesuburan hingga penanaman embrio di rahim perempuan.

Namun, dengan prosedur pencegahan covid-19 yang ketat, pasutri bisa menyimpan embrio maupun sel telur untuk ditanamkan di kemudian hari, setelah pandemi covid-19 berakhir.

"Yang kita prioritaskan adalah aspek safety semua pihak. Karena itu untuk program fertility kita jalankan di rumah saja dan dengan screening kesehatan yang ketat hingga melakukan rapid test hingga PCR untuk pasangan," katanya.

Adapun, Morula memberikan pilihan program selama masa pandemi, yakni program kehamilan dan bayi tabung yang bisa dijalankan dengan tetap berada di rumah.

Program tersebut meliputi konsultasi daring, rapid test covid-19, swab test, pemeriksaan lab untuk pasutri, analisa sperma, hingga paket hidangan untuk meningkatkan kesuburan.

Ivan menyatakan, untuk pasutri yang tengah menjalankan program kehamilan di masa pandemi, kuncinya yakni membatasi aktivitas di luar rumah.

"Untuk program kehamilan kalau saat kita minimal aktivitas dan kita tidak keluar lebih sering, saya kira itu tidak jadi masalah. Dan kalau ada urgensi beberapa kriteria, kita secepatnya membantu. Kita akan selektif menangani," bebernya.

Pada kesempatan yang sama, Dokter Spesialis Gizi Klinik RSU Bunda Jakarta Marya Haryono mengungkapkan, untuk mendukung program kehamilan dan meningkatkan kualitas sel telur dan sperma, dapat dilakukan dengan membentuk pola makan yang baik yang bernilai gizi seimbang dengan memenuhi semua kebutuhan gizi dalam tubuh.

"Penuhi juga lemak tidak jenuh seperti olive oil, alpukat, dan morula food. Penuhi juga kebutuhan asam folat, zinc zat besi, vitamin e, vitamin b, dan selenium," kata Maria.

Namun, Maria mengatakan, pasutri juga harus menghindari makanan yang berpotensi mengganggu kesuburan.

"Bisa dari kondisi lemak banyak yang mengganggu hormon, kondisi prooksi dan banyak merokok, ini akhirnya mengganggu kualitas sel sperma dan telur. Sebaiknya hindari terlalu banyak konsumsi tepung, gula, kafein. Juga harus hindari merokok dan alkohol," tandasnya. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya