Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Eijkman Buat Obat dari Darah Pasien Sembuh

PUTRI ANISA YULIANI
16/4/2020 04:10
Eijkman Buat Obat dari Darah Pasien Sembuh
Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio di Kantor Staf Presiden (KSP) Jakarta.(Antara)

PARA ilmuwan dan lembaga penelitian di berbagai negara kini tengah berlombalomba mencari vaksin dan obat untuk menanggulangi pandemi virus korona baru (covid-19). Tak ketinggalan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akan mengembangkan obat untuk terapi pasien covid-19 dengan memanfaatkan plasma convalescent yang diambil dari darah pasien positif virus korona yang telah dinyatakan empat minggu sembuh.

Cara ini diharapkan dapat mengurangi korban akibat terinfeksi covid-19. Kepala Lembaga Eijkman Amin Subandrio mengatakan plasma darah tersebut akan diberikan kepada pasien yang mengalami kondisi berat dengan jumlah virus yang masih banyak, sedangkan antibodinya belum bekerja dan menunggu vaksin masih lama.

"Untuk itu, zat antibodi yang ada dalam plasma darah mantan pasien covid-19 itu turut membantu menetralisasi virus yang ada dalam tubuh pasien," kata Amin kemarin. Plasma darah dari pasien covid-19 yang telah sembuh asumsinya mengandung antibodi yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memerangi virus yang ada dalam tubuh pasien covid-19.

Untuk menjamin ketersediaan darah dari pasien covid-19 yang sembuh, Lembaga Eijkman menggandeng Palang Merah Indonesia (PMI) karena PMI merupakan salah satu lembaga yang memiliki kemampuan dan wewenang untuk menarik darah dari pasien. PMI juga telah memiliki fasilitas pemisahan plasma darah. Untuk itu, Lembaga Eijkman dan PMI, kemarin, menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk berkerja sama di bidang penelitian penyakit infeksi dan noninfeksi di Markas PMI, Jakarta.

Metode seperti ini di Amerika Serikat sudah mulai diujicobakan untuk pasien covid-19 di New York. Iran juga telah mengklaim berhasil menyembuhkan banyak pasien dengan menggunakan plasma darah.

Ketua Umum PMI Jusuf Kalla menerima baik kerja sama dari Lembaga Eijkman tersebut. PMI memiliki 15 fasilitas pengolahan plasma darah yang tersebar di 15 kota di Indonesia. "Kami tentu menyambut baik kerja sama ini dan mempersilakan Eijkman menggunakan fasilitas pengolahan plasma milik PMI yang tersebar di 15 kota di Indonesia," ujar Jusuf Kalla. Pengadaan VTM Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK) menyebutkan sejumlah rumah sakit, terutama di daerah mulai kekurangan VTM (viral transport medium). VTM adalah media untuk menyimpan spesimen pasien berupa lendir hidung dan tenggorokan yang akan dilakukan uji swab untuk dikirim ke laboratorium tempat pengujian lanjutan.

Melihat fenomena tersebut, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisiatif untuk mengadakan program pengadaan VTM untuk mendukung pengujian swab PCR (polymerase chain reaction) terhadap covid-19. "VTM ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan VTM di beberapa laboratorium. Pengujian swab PCR selama mereka membeli siap pakai, tetapi kini pemesanan tidak kunjung datang dan mahal," kata Ketua Prodi Profesi Apoteker Ika Puspitasari kemarin.

Dosen Laboratorium Rekayasa Makromolekul Departemen Kimia Farmasi Fakultas Farmasi UGM Riris Istighfari Jenie berharap, pengadaan bahan baku pembuatan VTM ini bisa lebih dipermudah atau mendapatkan prioritas mengingat beberapa bahan dipesan dari Jakarta yang tengah menjalankan PSBB. Menteri Riset, Teknologi, dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro meyakinkan sebanyak 100 ribu alat rapid test juga akan selesai diproduksi dalam enam pekan ke depan. Alat tes cepat ini hasil pengembangan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama UGM. (Aiw/BY/Ant/H-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya