Headline

Warga AS menolak kepemimpinan yang kian otoriter.

Pakar Virus Butuh Fatwa tentang Autopsi Korban Covid-19

Wisnu AS
04/4/2020 10:18
Pakar Virus Butuh Fatwa tentang Autopsi Korban Covid-19
Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation, Chaerul Anwar Nidom (tengah).(Istimewa)

KETUA Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation, Profesor Chaerul Anwar Nidom, meminta Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang autopsi terhadap jenazah korban virus korona atau covid-19. 

Hal ini dipandang perlu agar para pakar mengetahui lebih pasti tentang virus yang belum ada obatnya itu.

"Autopsi itu berguna agar para ahli mengetahui dengan pasti pergerakan virus di tubuh manusia dan penularannya," ujar Nidom dalam keterangan pers yang diterima Media Indonesia di Jakarta, Sabtu (4/4).

Ia mencontohkan saat flu burung melanda, Thailand mewajibkan autopsi kepada jenazah korban. Hal tersebut menghasilkan pengetahuan tentang virus flu tersebut sehingga dapat meredamnya dengan lebih baik.

Nidom juga memandang penting fatwa MUI tentang tata cara penanganan jenazah. Pasalnya, banyak masyarakat yang belum paham tentang risiko penularan virus korona melalui jenazah. 

"Kita sekarang mau melawan virus korona tapi yang diatur manusia, seperti aturan karantina. Mestinya, kita harus mengatur virus tersebut dengan cara mengenal karakteristiknya secara menyeluruh," ujar Nidom yang juga guru besar biologi molekuler dari Universitas Airlangga tersebut.

Selain itu, Nidom memandang penting fatwa MUI tentang tata cara penanganan jenazah. Pasalnya, banyak masyarakat yang belum paham tentang risiko penularan virus korona melalui jenazah. 

"Kita juga belum tahu ada tidaknya penularan virus jika jenazah sudah ditutup sedemikian rupa dan dimakamkan. Lantas perlu tidaknya jenazah korban virus dimakamkan di tempat khusus. Ini semua karena minimnya pengetahuan kita terhadap virus covid-19," ujarnya.

Pihaknya baru-baru ini juga menemukan formula BCL yang berfungsi sebagai receptor blocker untuk menghalau Covid-19. Formula ini memiliki empat kandungan, yakni bromhexine hydrochloride, guaiphenisin, vegetable glycerine (VG), dan propylene glycol (PG). 

BCL bekerja dengan membendung reseptor ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme 2) di paru-paru dan jantung. Formula tersebut tidak berbentuk kapsul atau sirup yang harus diminum, tetapi vaporizer sehingga penggunaannya melalui metode aerosol (penguapan).

Penemuan itu diharapkan akan membantu pemulihan pasien Covid-19, terutama yang masih dalam tahap awal. Hal ini disebabkan virus tersebut akan mati karena tidak berhasil menempel di reseptor ACE2 paru-paru.

CEO Nucleus Farma Edward Basilianus mengatakan, Nucleus, PUFF Farma, dan Nidom Foundation ingin membantu pemerintah yang tengah gencar memutus mata rantai penularan COVID-19. Nucleus Farma, PUFF Farma, dan Prof Nidom Foundation siap membantu dari sisi obat dan formula untuk membantu menangani pemulihan pasien covid-19.

Menurut Edward, aerosol merupakan salah satu cara yang paling efektif dalam menjangkau  kerongkongan secara cepat dan tepat untuk melapisi reseptor. PG sebagai salah satu kandungan yang ada di formula BCL bermanfaat sebagai antibakteri. (RO/A-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya