Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
TINGKAT gas rumah kaca (GRK) di atmosfer, yang diyakini menjadi penyebab pemanasan global, mencapai rekor tertinggi pada 2018. Lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) pun menyerukan aksi untuk segera menyelamatkan masa depan umat manusia.
"Tidak ada tanda untuk melemah atau surut dengan sendirinya. Meski ada kesepakatan Paris tentang perubahan iklim, gas rumah kaca itu tetap terkonsentrasi di atmosfir," ujar Kepala Organisasi Metereologi Dunia (WMO), Petteri Taalas dalam pernyataannya, seperti dikutip AFP, Senin (25/11).
Menurut laporan lembaga Greenhouse Gas Bulletin, gas rumah kaca yang terkonsentrasi di atmosfir pada 2018 mencapai 407,8 part per million (ppm), meningkat dari tahun sebelumnya yang cuma 405.5 ppm. Jumlah peningkatan itu, menurut mereka, di atas rata-rata yang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Untuk diketahui GRK adalah gas di atmosfer yang memiliki fungsi seperti panel-panel kaca di rumah kaca yang bertugas menangkap energi panas matahari agar tidak dilepas seluruhnya. Tanpa gas-gas ini, panas akan hilang ke angkasa dan temperatur rata-rata bumi dapat menjadi 60 derajat farenheit atau (33 derajat celsius) lebih dingin.
GRK dapat ditemukan di atmosfer mulai dari permukaan bumi sampai ketinggian 15 km. Lapisan gas rumah kaca sendiri terbentuk di ketinggian 6,2km - 15 km. GRK yang berdampak terbesar antara lain Karbon dioksida (CO2), Nitro Oksida (NOx), Sulfur Oksida (Sox), Metana (CH4), Chloroflurocarbon (CFC), dan Hydrofluorocarbon (HFC).
Menurut WMO, dua dari bahan-bahanh tersebut yang kandungannnya cukup tinggi di atmosfir yang tercatat pada 2018 adalah metana dan nitro oksida. Metana antara lain dihasilkan dari aktivitas manusia, seperti penambangan, pemakaian bahan bakar, peternakan, dan pembuangan sampah. Sedangkan sumber utama Nitro Oksida antara lain dari pembangkit tenaga listrik, pabrik pemanas, dan proses industri.
"Dengan terjadinya peningkatan zat-zat ini dalam jangka panjang, berarti generasi masa depan bakal menghadapi beberapa dampak perubahan iklim, seperti temperatur yang kian panas, cuaca yang semakin ekstrem, meningkatnya permukaan air laut, dan kerusakan ekosistem,'' kata pernyataan WMO.
Menurut lembaga itu, emisi adalah faktor utama yang menentukan jumlah tingkat gas rumah kaca, tetapi tingkat konsentrasi adalah ukuran dari apa yang tersisa setelah serangkaian interaksi kompleks antara atmosfer, biosfer, litosfer, cryosfer, dan lautan.
Kira-kira 25 % dari semua emisi saat ini diserap oleh lautan dan biosfer - istilah yang menjelaskan semua ekosistem di bumi.
Litosfer adalah bagian luar bumi yang padat, sedangkan sitosfer mencakup bagian dunia yang tertutup oleh air beku.
Panel Antarpemerintah PBB tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah sepakat bahwa untuk menjaga temperatur di bawah 1,5 derajat Celcius dan menghilangkan tingkat emisi CO2 hingga titik nol. Itu artinya, jumlah yang dipompa ke atmosfer harus sama dengan jumlah yang dihilangkan, baik yang diserap secara alami maupun dengan inovasi teknologi. (OL-8)
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved