Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Satryo Soemantri Brodjonegoro menilai wacana kemungkinan perampingan lembaga riset justru akan menimbulkan masalah baru. Hal ini dilakukan di tengah upaya pemerintah mendorong berbagai pihak melakukan riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Pasalnya pemerintah harus memikirkan ke mana larinya para peneliti yang terdampak dari kebijakan tersebut.
"Perampingan lembaga riset tidak mendesak dilakukan. Pemerintah harus memikirkan secara matang para peneliti yang lembaganya dirampingkan akan ke mana. Ini akan menjadi masalah baru," ujar Satryo, Kamis (25/7).
Saat ini, lanjutnya, pemerintah harus fokus membangun industri yang menjadikan riset sebagai bagian dari mencipta bukan sekadar merakit atau memasarkan.
"Industri kita ini masih hanya merakit dan trade jadi belum menjadikan riset bagian dari industri itu. Untuk mewujudkan itu tentu saja pemerintah harus fokus dan butuh waktu lama," ungkapnya.
Baca juga: Perusahaan Sambut Positif Insentif Pajak untuk Riset
Dengan lahirnya undang-undang Sisnas Iptek, pemerintah sudah memberikan perhatian khusus untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam negeri. Anggaran yang dikucurkan pun harus digunakan seutuhnya untuk kepentingan riset.
"Mungkin tujuannya baik, salah satunya efisiensi anggaran dan juga tidak lagi terjadi tumpang tindih. Misalnya satu penelitian dikerjakan oleh banyak lembaga," imbuhnya.
Sebelumnya, menurut Satryo, dana riset di Indonesia berada di kisaran 0,1% dari produk domestik bruto (PDB) atau jauh dari ideal yakni minimal 1% dari PDB. Dana tersebut belum mencukupi sehingga pemerintah perlu menciptakan ekosistem penelitian, pengembangan serta inovasi sehingga dengan dana yang tidak terlalu besar namun efektif.
Menurutnya, selama ini dana riset puluhan triliun rupiah yang dikucurkan pemerintah tidak efektif karena tersebar di sejumlah K/L. Hanya sedikit yang benar-benar untuk pengembangan iptek. Sebagian besar habis untuk pengeluaran yang tidak terkait dengan pengembangan iptek.
"Dengan anggaran abadi yang sekarang ada, cukup tidaknya tergantung riset yang dilakukan," tukasnya.(OL-5)
LIMA mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK USK) berhasil meraih prestasi gemilang di panggung dunia.
Penelitian ini menawarkan rekomendasi yang dinilai dapat memperkuat posisi Indonesia dalam menghadapi tantangan keamanan regional.
Para ilmuan menemukan bahwa bagian otak yang awalnya dianggap hanya memproses penglihatan ternyata dapat memicu gema sensasi sentuhan.
Resiliensi petani merupakan syarat penting jika pengelolaan usaha kelapa di provinsi tersebut ingin berkelanjutan.
Hasil penelitian menemukan persoalan kental manis bukan hanya perihal ekonomi, tetapi juga regulasi yang terlalu longgar.
Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI menilai Kitab Fikih Zakat karya Dr. Nawawi Yahya Abdul Razak Majene sangat relevan bagi pengelolaan zakat di era modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved