Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
STUDI Population and Habitat Viability Assessment Orang Utan (2016) memproyeksikan hanya 38% populasi orang utan di Indonesia yang akan bertahan hidup dalam 100-500 tahun ke depan. Ancaman terbesar terhadap kera besar itu ialah hilangnya habitat akibat konversi lahan dan kebakaran hutan. Ancaman itu pun perlu diantisipasi sejak dini.
Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono Hadi, dalam kunjungan bersama jurnalis di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (26/6), mengatakan pemerintah berupaya mempertahankan kealamian habitat orang utan di tengah laju pembangunan dengan kebutuhan konversi lahan yang tinggi.
Hingga saat ini pemerintah menetapkan sekitar 500 kawasan konservasi alam, termasuk 56 taman nasional di seluruh Indonesia. Kawasan konservasi itu sebagian di antaranya juga merupakan rumah bagi orang utan. Komitmen perlindungan kawasan konservasi itu, kata Djati, amat dipegang teguh pemerintah demi mencegah kepunahan orang utan.
"Pemerintah tidak akan mengorbankan kawasan pelestari-an alam seperti taman nasional untuk pembangunan suatu wilayah. Itu juga yang sedang kita lakukan dengan TN Tanjung Puting yang saat ini sedang ada wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah. TN Tanjung Puting justru bisa menjadi aset wisata alam," ujarnya.
Keberadaan TN Tanjung Puting amat penting untuk konservasi orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang merupakan spesies terancam punah. Masih berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment, populasi orang utan kalimantan sekitar 57.350 individu yang tersebar di berbagai wilayah. Adapun Tanjung Puting merupakan rumah bagi subspesies Pongo pygmaeus wurmbii dengan populasi sekitar 5.000 individu.
Cegah kebakaran
Senada, Kepala Balai TN Tanjung Puting, Helmi mengatakan hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar kepunahan orang utan kalimantan yang harus diantisipasi. Menurutnya, kehilangan habitat pernah terjadi saat kebakaran hutan menghanguskan sekitar 60.000 hektare kawasan TN Tanjung Puting pada 2015.
Sebagian sarang orang utan hilang turut terbakar. Berdasarkan data hasil perjumpaan langsung, pada 2015 tercatat ada sekitar 978 individu di TN Tanjung Puting dan jumlahnya sedikit merosot menjadi 917 pada 2016.
"Kebakaran hutan menjadi ancaman yang sangat serius jika kembali terulang. Upaya yang paling bisa dilakukan agar orang utan tidak punah ialah menjaga habitatnya karena perkembangbiakan orang utan memang lambat. Kita menjaga betul dan memantau setiap ada indikasi titik panas di TN Tanjung Puting," ucapnya.
Helmi menambahkan, TN Tanjung Puting seluas 615 ribu hektare merupakan pusat riset orang utan pertama di Indonesia yang wilayahnya 63% ekosistem gambut.
Saat ini Tanjung Puting juga menjadi destinasi wisata alam populer dengan atraksi pemberian makan orang utan dan wisata hutan gambut. Atraksi itu bisa dilihat di tiga lokasi, yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui dan Camp Leakey.
Pada 2018, ada 29.283 wisatawan datang ke TN Tanjung Puting dengan wisatawan mancanegara mencapai 18.834 orang. Kunjungan itu menyumbangkan penerimaan negara bukan pajak Rp7,7 miliar. (H-2)
Douglas Soledo, jantan berusia 17 tahun, dan Robina, betina berusia 25 tahun telah melalui proses rehabilitasi panjang sebelum akhirnya dinyatakan siap kembali ke alam liar.
Untuk sampai pada kesimpulan tersebut, para ilmuwan memetakan perilaku ciuman sebagai sebuah sifat evolusioner dalam pohon keluarga primata.
Tiga individu Orangutan subspecies Pongo Pygmaeus Wurmbii diprapelepasliarkan di Pulau Bangamat untuk mengembangkan insting hidup liar di habitatnya.
Saat buah berlimpah, orangutan makan yang kaya karbohidrat, lemak, dan tetap menjaga asupan protein. Ketika buah langka, mereka beralih mengonsumsi daun, kulit kayu, dan sumber protein lain.
Aksi tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang keberadaan orangutan yang terancam sekaligus memperingati Hari Orangutan Sedunia setiap 19 Agustus.
Selain survei anggrek, tim juga mencatat data habitat dan kondisi lingkungan, sekaligus memberikan edukasi kepada masyarakat lokal tentang pentingnya pelestarian tumbuhan endemik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved