Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Indonesia Tegaskan Komitmen Lestarikan Biodiversitas

Dhika Kusuma Winata
28/6/2019 22:55
Indonesia Tegaskan Komitmen Lestarikan Biodiversitas
Jumpa pers KLHK tentang persiapan The 9th Trondheim Conference of Biodiversit(Dok. KLHK)

PEMERINTAH menegaskan komitmennya menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia dari ancaman-ancaman yang dapat mengakibatkan kepunahan spesies.

Indonesia juga akan mengajak negara-negara peratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) untuk bersama-sama merawat biodiversitas yang dimiliki masing-masing negara.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Indra Exploitasia mengatakan, Indonesia bersiap membawa misi mendorong negara-negara Konvensi Keanekaragaman Hayati untuk tetap komit melestarikan keanekaragaman hayati.

"Upaya tersebut sudah dilakukan Indonesia berdasarkan tiga prinsip yakni konservasi, pemanfaatan berkelanjutan, dan akses serta benefit sharing yang adil untuk kepentingan masyarakat," katanyar dalam jumpa pers persiapan The 9th Trondheim Conference of Biodiversity, di Jakarta, Jumat (28/6).

Baca juga : Produk Keanekaragaman Hayati Bisa Jadi Alternatif Kurangi Plastik

Konferensi tersebut akan digelar di Norwegia, pada 2-5 Juli 2019. Menteri LHK Siti Nurbaya bakal memimpin delegasi Indonesia.

Indra menjelaskan Indonesia telah meratifikasi CBD pada 1994 dan pada 2015 ditetapkan target yang disepakati setiap negara untuk menjaga biodiversitas masing-masing hingga 2020.

Indonesia telah menerjemahkan target tersebut dalam Indonesian Biodiversity Strategi Action Plans (IBSAP)

Menurut Indra, Indonesia sebagai peratifikasi konvensi juga akan menyampaikan capaian target CBD 2020. Sejumlah capaian tersebut antara lain perlindungan kawasan konservasi dan peningkatan populasi spesies dilindungi.

"Sejauh ini capaian Indonesia telah memenuhi target CBD 2020 yakni mempertahankan wilayah konservasi minimal 11% dari total kawasan yang dimiliki. Kawasan konservasi di Indonesia masih terjaga yakni 17% atau luasannya sekitar 22 juta hektare," ujarnya.

Untuk konservasi spesies, data terbaru menunjukkan sejumlah satwa penting yang dilindungi populasinya kian bertambah. Antara lain, populasi jalak bali yang pada 2015 hanya 31 ekor hingga 2019 jumlahnya menjadi 191 ekor.

Populasi badak jawa juga meningkat dari 63 individu (2015) menjadi 68 individu (2019).

Adapun populasi owa jawa meningkat dari 546 ekor (2015) menjadi 1.107 (2018). Jumlah gajah sumatra juga meningkat dari 611 individu (2015) menjadi 693 (2018).

Sementara itu, peningkatan populasi juga terjadi pada harimau sumatra dari 180 individu (2015) menjadi 220 individu (2018).

"Di berbagai negara dunia yang memiliki biodiversitas tinggi tantangannya sama yakni mengenai perubahan iklim dan proteksi habitat. Karena itu, Indonesia sebagai negara dengan megabiodiversitas akan mengajak semua pihak untuk pengarusutamaan (mainstreaming) keanekaragaman hayati dalam pengambilan kebijakan berbagai sektor," jelas Indra.

Kepala Biro Humas KLHK Djati Witjaksono Hadi menyatakan Menteri LHK juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Lingkungan dan Perubahan Iklim Norwegia.

Pertemuan tersebut untuk meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang lingkungan hidup dan kehutanan yang telah terjalin.

Agenda utama akan dibahas pada pertemuan bilateral kedua negara di antaranya progres implementasi pelaksanaan Letter of Intent (LoI) 2010 mengenai penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD+), kemungkinan memperluas cakupan LoI, akselerasi pelaksanaan REDD+, serta isu-isu terkait biodiversitas.

"Diharapkan, pertemuan bilateral tersebut dapat meningkatkan kerjasama kedua negara dalam mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sekaligus menekan emisi gas rumah kaca," tutur Djati. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya