Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
KEPALA Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Prof Dwikorita Karnawati, mendapatkan kehormatan menjadi pembicara utama dalam forum internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa, Second Multi-Hazard Early Warning Conference (MHEWC-II),di Jenewa Swiss.
Dwikorita mengajak pemerintah di seluruh dunia untuk memperkuat sistem peringatan dini multi-bencana yang dimiliki setiap negara melalui penerapan sistem yang terintegrasi antarlembaga ataupun antarpihak-pihak terkait, dengan dukungan inovasi teknologi yang tanpa mengabaikan kekuatan dan kearifan lokal.
Untuk menguatkan dan menjaga efektivitas peringatan dini multi-bencana ini perlu adanya peraturan atau regulasi yang mengatur koordinasi, harmonisasi, dan sinergi peran, serta data integrasi antarlembaga ataupun antarpihak terkait dalam sistem integrasi peringatan dini tersebut.
"Indonesia belajar dari kejadian gempa bumi dan tsunami di Palu dan Selat Sunda, kejadian ini menunjukkan bahwa wilayah Indonesia memiliki karakteristik kegempaan baru yang jarang terjadi," imbuh Dwikorita, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis (16/5).
Tidak hanya itu, lanjut Dwikorita, Indonesia pun memiliki karakteristik cuaca dan iklim yang unik.
Tentunya, kata dia, ini menjadi sebuah tantangan khususnya bagi pemerintah Indonesia, mengingat Indonesia berada di dalam lingkaran cincin api (ring of fire) Pasifik yang terbentuk oleh gerak lempeng tektonik aktif.
"Cincin api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda dan menjadi sabuk gempa paling aktif di dunia. Bukan hanya Indonesia, negara lain, seperti Jepang, Taiwan, dan Selandia Baru pun masuk dalam cincin api Pasifik tersebut," terangnya.
Ledakan populasi yang semakin meningkat, kata Dwikorita, mengakibatkan tingginya kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, iklim ekstrem, bahkan gempa bumi dan tsunami.
Baca juga: Berbuka Puasa Nyaman dengan Asupan Susu Segar
"Untuk pengurangan dampak risiko bencana, kearifan lokal dan aspek sosial sangat dibutuhkan dalam menjaga efektivitas dan keberhasilan sistem peringatan multi-bencana, tersebut," sambung Dwikorita.
Menurutnya, pada saat ini belum terbukti adanya teknologi yang mampu memberikan peringatan dini dalam waktu kurang dari 3 menit setelah gempa terjadi, seperti yang dibutuhkan untuk kejadian tsunami di Palu. Waktu datangnya Tsunami Palu kurang lebih 2 menit setelah terjadi gempa, sebelum peringatan dini diberikan pada menit ke-5
.
Dan berdasarkan evaluasi dari berbagai kejadian tsunami, terbukti belum ada sistem atau teknologi yang sempurna dalam memberikan peringatan dini, karena hampir selalu ada hal-hal yang terjadi di luar perkiraan, pada saat kejadian bencana di berbagai negara.
Dengan berbagai keterbatasan yang masih ada, maka Dwikorita menegaskan bahwa kearifan lokal dan teknologi sederhana yang lebih mudah dipahami dan dioperasikan oleh masyarakat lokal, tetap harus diterapkan atau diintegrasikan dalam sistem peringatan dini berbasis teknologi maju.
"Melalui pertemuan ini sebagai tindak lanjut Sendai Framework, dapat dijadikan langkah bagi negara-negara internasional untuk melakukan pengurangan dampak resiko bencana alam melalui pengembangan sistem peringatan dini multi-Blbencana," ungkapnya.
Konferensi selama 2 hari dari 13-14 Mei 2019 di Jenewa, Swiss, yang diselenggarakan secara berurutan dengan Global Platform for Disaster Risk Reduction 2019 ini bertujuan untuk mengoordinasikan dan mendorong peningkatan kapasitas negara-negara di seluruh dunia dalam mengimplementasikan dan mengembangkan sistem peringatan dini multi-bencana dalam pengurangan risiko becana yang lebih baik dan terkoordinasi di negara masing-masing. (RO/OL-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved