Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Ayu Utami Modal Indonesia untuk Dunia

Fathurrozak
14/5/2019 02:00
Ayu Utami Modal Indonesia untuk Dunia
Sastrawan Ayu Utami(ANTARA)

SASTRAWAN Ayu Utami, 50, menganggap Indonesia memiliki modal untuk ditawarkan ke dunia yang kini tengah terjangkiti gejala pemikiran dogmatis global.

Pemikiran dogmatis bagi Ayu ialah model berpikir yang sempit dan membatasi sehingga cenderung menganggap yang lain di luar dirinya ialah salah. Pemikiran itu memunculkan tindakan-tindakan intoleransi yang saat ini hampir terjadi bukan hanya di berbagai wilayah Indonesia, melainkan juga di dunia.

Penulis yang baru saja mengeluarkan novel berjudul Anatomi Rasa ini, menawarkan model berpikir yang disebutnya spiritualisme kritis. Ia menggali nilai-nilai kelokalan Nusantara untuk diterapkan dan disesuaikan di kehidupan modern.

"Sederhananya, kalau melihat kembali Indonesia, dulu masyarakatnya toleran. Saya menemukan pada masa lalu, perbedaan itu bukan dipertentangkan atau justru dikalahkan. Namun, didamaikan, dicampurkan. Kok, sekarang malah kecenderungannya perbedaan itu disingkirkan," ungkapnya seusai ditemui setelah diskusi di Museum Macan, Jakarta Barat, Minggu (12/5).

Ia melakukan riset terhadap teks-teks kuno dan kepercayaan lokal di wilayah Indonesia. Ayu menemukan ada kesamaan yang menjadi satu DNA. Temuan itu ia rumuskan agar nilai tersebut dapat digunakan dan sesuai dengan kehidupan modern.

"DNA dalam teks dan kepercayaan Nusantara, yaitu satu bentuk yang bisa menyatukan pertentangan tanpa mengubah pertentangan. Itu ada dalam teks-teks tua maupun dalam kepercayaan kebatinan lokal yang masih hidup sampai sekarang. Bagaimana bisa digali kembali dan dimodernkan, artinya struktur dasar itu tetap ada. Namun, bisa dipakai sehingga cocok dengan kehidupan sekarang."

Penulis Saman ini pun mulai menularkan metode berpikirnya yang disebut spiritualisme kritis itu dalam kelas menulisnya. Disebut demikian sebab menurutnya unsur spiritual tetap ada, tetapi tidak menghilangkan daya kritis sebagai bagian dari kehidupan modern. Ia pun kini tengah mencoba model baru yang lebih luas lagi untuk mengenalkan metodenya.

 

21 tahun reformasi

Ayu yang pernah bekerja sebagai wartawan ini menyebut, sastra sebagai jalan keluar mengekspresikan pendapatnya ketika ia menjadi wartawan pada era Orde Baru yang otoriter. Saman, ia anggap sebagai reaksinya atas kondisi bermasyarakat yang terlalu kaku dan didikte pemerintah kala itu.

"Waktu zaman Suharto, kita hidup dengan rezim otoriter, satu suara, satu ideologi, semuanya dikendalikan pemerintah. Kita tidak boleh punya ideologi lain, atau tafsir lain terhadap Pancasila. Saya hidup dalam struktur kaku, sebagai wartawan enggak boleh nulis ini-itu, reaksinya memecahkan itu," kenangnya.

Dalam berkarya ia tidak berhenti dengan satu cara menyampaikan reaksi. Saat ini, pada era yang dianggapnya semua orang mampu bersuara, Ayu justru mengubah gaya kepenulisannya dengan cara terstruktur.

"Sekarang enggak ada yang disepakati bersama. Orang jadi bingung, harus menurut pada apa, terjadi banyak clash di antara masyarakat sipil. Tidak punya referensi bersama. Pancasila mulai diragukan. Sekarang justru banyak kekurangan nilai dan karakter bersama. Dengan suasana pecah, saya menawarkan sesuatu bangunan paradigma," sambungnya.

Ayu pun menyebut, bila pada era Orde Baru yang dianggap musuh dan lawan ialah pemerintahan otoriter, saat ini yang perlu disebut musuh bukanlah perseorangan.

"Sebaiknya tidak menyebut sebagai orang, tetapi musuhnya ialah model berpikir dogmatis yang tertutup. Model berpikirnya yang harus diubah. Yang saya lakukan, mau melawan model berpikir dogmatis dan tertutup itu, yang memunculkan tindakan intoleransi. Misalnya, anak diajari jangan berteman dengan yang tidak satu golongan. Model berpikir seperti itu yang membuat kita tidak bisa berpikir kreatif dan kritis."

Melalui nilai spiritualitas lokal Nusantara yang ada, Indonesia bisa melawan pemikiran tertutup itu.

"Kadang orang tahunya pada teori luar, di sini padahal ada, hanya belum dieksplisitkan. Harusnya kita bangga dan menggali. Sekarang dunia dilanda pemikiran dogmatis, baik pemikiran dogmatis berbasis agama, terorisme, ISIS, maupun sekularisme rasional yang antiagama. Dua-duanya dogmatis, saatnya Indonesia menawarkan sesuatu, DNA spiritualitas Nusantara yang bisa mempersatukan pertentangan tanpa mengubah pertentangan." (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik