Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Bencana Alam di 2019 Renggut 325 Korban Jiwa

Sri Utami
30/4/2019 17:11
Bencana Alam di 2019 Renggut 325 Korban Jiwa
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPPB Sutopo Purwo Nugroho(MI/Adam Dwi)

SELAMA empat bulan pertama 2019, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat telah terjadi 1.586 kejadian bencana alam dan menimbulkan 325 korban jiwa,

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Selasa (30/4) di Jakarta mengatakan, dampak bencana yang terjadi tidak hanya menewaskan ratusan orang tapi juga menyebabkan 113 korban hilang, 1.439 orang luka-luka dan 996.143 orang terpaksa mengungsi

"Kejadian bencana terus meningkat di Indonesia. Bencana bukan saja menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan tapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang memerosotkan capaian pembangunan," jelasnya

Bencana alam yang terjadi juga berakibat terhambatnya berbagai aktifitas termasuk sekolah. Sutopo memerinci kerusakan fisik meliputi 3.588 rumah rusak berat, 3.289 rumah rusak sedang, 15.376 rumah rusak ringan, 325 bangunan pendidikan rusak, 235 fasilitas peribadatan rusak dan 78 fasilitas kesehatan rusak.

"Lebih dari 98% bencana yang terjadi adalah bencana hidrometeorologi sedangkan 2% bencana geologi," imbuhnya.

Baca juga : Banjir Bengkulu Bukan Akibat Pertambangan

Selama 2019 lanjutnya terjadi tiga bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian yang cukup besar yakni banjir dan longsor di Sulawesi Selatan yang menyebabkan 82 orang meninggal dunia, tiga orang hilang dan 47 orang luka. Kerugian dan kerusakan di Sulsel ditaksir Rp926 miliar.

Selanjutnya banjir dan longsor di Sentani Provinsi Papua yang menyebabkan 112 orang meninggal dunia, 82 orang hilang dan 965 orang luka. Kerugian dan kerusakan mencapai Rp668 miliar.

Kemudian banjir dan longsor di Bengkulu yang menyebabkan 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang dan empat orang luka.

"Kerugian dan kerusakan sekitar Rp200 miliar itu masih data sementara,"

Lebih lanjut diungkapkan secara statistik dibandingkan 2018 dalam periode yang sama kejadian bencana pada 2019 mengalami kenaikan 7,2 %. Pada 2018 terjadi 1.480 bencana sedangkan 2019 terjadi 1.586 kejadian bencana.

"Untuk korban jiwa, juga terjadi kenaikan 192% dimana pada tahun 2018 terdapat 150 orang meninggal dunia dan hilang sedangkan pada 2019 korban meninggal dan hilang tercatat 438 orang. Begitu pula korban luka-luka juga mengalami kenaikan 212 persen. Korban luka pada tahun 2018 sebanyak 461 orang sedangkan tahun 2019 sebanyak 1.439 orang," papar Sutopo.

Berdasarkan sebaran kejadian bencana, provinsi bencana paling banyak terjadi di Jawa Tengah (472 kejadian), Jawa Barat (367), Jawa Timur (245), Sulawesi Selatan (70) dan Aceh (51).

Sedangkan sebaran bencana per kabupaten/kota, bencana paling banyak terjadi di Kabupaten Sukabumi (50 kejadian), Semarang (43), Bogor (42), Majalengka (38) dan Temanggung (37).

"Meningkatnya bencana pada 2019 disebabkan adanya pemicu banjir dan longsor yaitu curah hujan yang deras. Kombinasi antara alam dan antropogenik menjadi penyebab utama meningkatnya bencana," cetusnya.

Kondisi tersebut harus disadari sejak dini sebagai upaya menghindari jumlah korban jiwa dan kerugian materil. Tingkat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana besar masih rendah.

Mitigasi baik struktural dan non struktural masih belum dijadikan prioritas dalam pembangunan di daerah. Upaya penanganan bencana masih banyak menitikberatkan pada darurat bencana. Upaya pencegahan dan kesiapsiagaan masih perlu ditingkatkan.

"Jika pun terjadi lagi, dampak bencana dapat diminimalkan. Oleh karena itu pengurangan risiko bencana dan mitigasi bencana harus terintegrasi dalam pembangunan. Pengurangan risiko dan mitigasi bencana menjadi investasi dalam pembangunan," tandasnya. (OL-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ghani Nurcahyadi
Berita Lainnya