Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mensos Sebut TMS Siap Jadi Gerakan Nasional

Antara
03/3/2019 17:50
Mensos Sebut TMS Siap Jadi Gerakan Nasional
(Ist)

KEGIATAN Tagana Masuk Sekolah (TMS) berlangsung semakin masif di berbagai sekolah di Indonesia usai diresmikan Presiden Joko Widodo di Pandeglang, Banten, 18 Februari lalu. Dengan demikian, kata Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita, kegiatan TMS siap menjadi gerakan nasional.

"TMS siap menjadi gerakan nasional. Kami siapkan pedoman operasional, jaringan kerja sama dengan Kemendikbud (Kementerian Pendidilan dan Kebudayaan) dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), serta melibatkan organisasi kemanusian peduli bencana. Sesuai arahan Bapak Presiden agar gerakan ini betul-betul menciptakan masyarakat yang tanggap bencana," kata Mensos di Jakarta, Minggu (3/3). 

Presiden, lanjut Mensos, tegas menyampaikan bahwa masyarakat harus siap dalam menghadapi bencana. Pasalnya, Indonesia dilewati oleh jalur cincin api sehingga ada daerah-daerah yang rawan terhadap gempa, rawan banjir, rawan longsor, ada daerah juga yang rawan terhadap tsunami, dan bencana-bencana lainnya.

"Tidak ada yang tahu kapan bencana datang, namun dengan pengetahuan mitigasi bencana diharapkan dapat membangun masyarakat tanggap bencana. Salah satu edukasinya melalui TMS ini," tuturnya.

Agus mengatakan, belum genap satu bulan sejak program tersebut diluncurkan, TMS telah dilaksanakan di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota. Di antaranya Belitung Timur Bangka Belitung, Sumedang dan Tasikmalaya Jawa Barat, Ponorogo dan Tuban Jawa Timur, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Kepulauan Talaud Sulawesi Utara, dan Kabupaten Bantul DIY. 

"Kepada rekan-rekan Tagana di seluruh pelosok Nusantara, pemerintah menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian dalam mendorong kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana. Juga kepada pemprov, kota maupun kabupaten yang membantu memfasilitasi kegiatan ini," katanya. 

TMS berlangsung di sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia. Pesertanya bervariasi di setiap sekolah antara 100 hingga 400 orang per titik. Adapun materi yang diberikan beragam dengan materi dasar upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

 

Baca juga: Pasien Kanker Berhak Dapat Pengobatan Bermutu dan Terjangkau

 

Di Kabupaten Sleman misalnya, Tagana melakukan sosialisasi PRB, logistik, dan shelter (penampungan). Di Sumedang, TMS diikuti pelajar SMP dengan materi pengenalan bencana dan potensinya di Kabupaten provinsi itu. Peserta juga diajarkan tentang evakuasi sederhana dan mandiri yang bisa dilakukan bila terjadi bencana, baik perorangan maupun kelompok.

Di Tasikmalaya, selain memberikan materi dasar pertolongan kepada peserta, TMS juga menyusun peta jalan dan rambu evakuasi, serta rencana pembentukan tim kebencanaan di sekolah.

Sementara di Banjarmasin, Tagana mengajarkan tentang potensi kebencanaan di wilayah Kalimantan, pengurangan risiko bencana gempa bumi dan angin puting beliung, serta simulasi jika terjadi bencana. 

"Targetnya adalah peserta mempunyai pengetahuan tentang bencana, potensi dan upaya pengurangan risiko bencana pada tingkatan yang paling sederhana sehingga mereka mampu menyelamatkan diri sendiri dan evakuasi sederhana bila terjadi bencana," tandas Mensos. (OL-9)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya