Beban kesehatan dan ekonomi yang diakibatkan rokok masih sangat terasa di Indonesia. Berdasarkan Tobacco Atlas , rokok membunuh 217.400 penduduk Indonesia setiap tahun.
Rokok juga menjadi penyebab satu di antara lima (19,8%) penyebab kematian pada pria dewasa dan 8,1% pada wanita dewasa. Angka ini lebih tinggi dari jumlah rata-rata negara berpenghasilan rendah lainnya.
Menurut perwakilan dari komisi nasional pengendalian tembakau Kartono Muhammad, kondisi perokok di Indonesia sekarang secara statistik sangat menyedihkan menuedihkan. Rata-rata dua dari tiga lelaki dewasa merokok dan sudah dalam tahap keragihan.
"Jumlah perokok generasi muda pun tiap tahun meningkat. Lalu sebanyak 80% orang Indonesia terpapar asap rokok sebagai perokok pasif. Anak balita juga menjadi third hand smoker, mengingat asap rokok mengendap pada lantai, dan benda-benda di sekitar kita," ujar Kartono dalam acara Pameran Foto Cerita: Dengarkan Keberanian Korban Rokok Bersuara dlm "Kolase Bicara: Kisah Para Korban Rokok", di Jakarta, Kamis malam (5/11).
Hal ini diperparah kenyataan sebanyak 70% orang miskin ikut merokok. Duit mereka yang terbatas, kata Kartono, lebih cenderung akan dibelanjakan untuk rokok daripada pemenuhan gizi ataupun pendidikan anak.
"Ini yang membuat saya cemas. Dalam 10-15 tahun mendatang, Indonesia akan peroleh generasi yang tidak berkualitas,"
Seharusnya, lanjut Kartono, pemerintah memikirkan dampak jangka panjang dari asap rokok yang terpapar pada generasi muda. Namun hingga kini dia belum melihat keseriusan pemerintah akan pengendalian rokok.(Q-1)