Kenali Pneumonia, Si Pembunuh Anak yang Terlupakan
Yogi Bayu Aji
06/11/2015 00:00
(ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)
Ketua Unit Kerja Koordinasi Respiratory Ikatan Dokter Anak Indonesia dr Nastiti Kaswandani SpAK mengatakan penyakit radang paru-paru atau pneumonia adalah alasan kematian balita paling utama. Namun sayangnya, penyakit ini kerap dilupakan.
"Pneumonia itu forgotten killer. Kalau pesawat jatuh jadi head line di media padahal tiap hari ada anak bayi meninggal dunia karena pneumonia," kata Nastiti dalam diskusi di Kementerian Kesehatan, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Jumat (6/11).
Menurut dia, pneumonia disebabkan oleh infeksi yang biasanya tumbuh subur di negara berkembang. Infeksi ini menyebabkan jaringan paru-paru tempat pertukaran oksigen rusak.
Dalam tingkat yang parah, kata dia, kondisi ini bisa menyebabkan seorang anak kehilangan nyawanya. "Anak-anak bisa meninggal ketika paru-paru rusak hingga mereka kekurangan oksigen yang amat berat," jelas dia.
Nastiti memaparkan, pneumonia termasuk salah satu Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Artinya akut, lanjut dia, penyakit ini berlangsung cepat, bila 7 sampai 14 hari bisa tak tertolong, bisa berakhir fatal.
"Parahnya adalah, pneumonia membuat kurang oksigen yang kelama-lamaan bisa merusak jaringan otak seehingga ganggu perkembangan," jelas dia.
Dia menjelaskan, ada tiga hal yang perlu dilakukan orangtua agar anaknya terhindar dari pneumonia. Pertama, mereka harus menjalankan langkah pencegahan, mulai dari pemberian imunisasi hingga pengguna bahan bakar masak yang ramah lingkungan.
Ayah-ibu, lanjut Nastiti, juga harus mengenali gejala-gejala pnemonia. Bila anak nampak gelisah, nafas ngos-ngosan, tampak tarikan dinding dada bagian bawah, dan bibir mulai kebiruan, bisa jadi dia sudah terserang pneumonia.
Jika sudah terkena, tambah dia, langkah yang harus dilakuakn orangtua adalah pengobatan. Mereka perlu membawa anak ke Puskesmas atau RS.
"Harus ke dokter karena butuh oksigen dan antibiotik. Jangan dibawa yang belum terbukti," jelas dia.(Q-1)