Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Guru Agama Islam Dibekali Pelatihan Internasional

Puput Mutiara
04/11/2015 00:00
 Guru Agama Islam Dibekali Pelatihan Internasional
(ANTARA FOTO/Ampelsa)
Kementerian Agama (Kemenag) memberikan kesempatan kepada guru pendidikan agama Islam untuk mengikuti pelatihan bertaraf internasional ke luar negeri. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam sistem pengajaran di sekolah.

Sedikitnya sudah ada 35 guru yang dikirim untuk mengikuti pelatihan itu ke berbagai negara. Tahun ini, beberapa diantaranya mengemban amanat sebagai peserta program Training of Trainers (ToT) bidang Metodologi Pembelajaran di University of Oxford, Inggris.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, bahwa secara konkrit guru-guru tersebut diberikan pelatihan agar pemahaman mengenai Islam moderat bisa disampaikan kepada para siswa di sekolah dengan cara yang tepat.

"Setiap tahun kita lakukan pelatihan guru ke luar negeri. Ada produk yang dihasilkan, jadi setelah kembali ke Indonesia mereka bisa merumuskan ke dalam modul yang akan disebar ke sekolah-sekolah," ujarnya saat acara kopi darat bertema pendidikan agama Islam berbasis nilai-nilai budaya damai di Jakarta, Rabu (4/11).

Menurut Kamaruddin, pemberdayaan terhadap guru pendidikan agama Islam khususnya masih perlu ditingkatkan. Apalagi, angka partisipasi siswa di seluruh jenjang dasar dan menengah pendidikan Islam meningkat hingga 16,4% dari sekitar 7 juta menjadi 8,2 juta siswa.

Selain itu, pendidikan agama Islam juga diharapkan dapat membantu mencegah konflik antar agama di Tanah Air. Meskipun Islam di Indonesia menuai pujian karena sikap moderat pemeluk agamanya, namun masih ada yang bersikap tidak toleran bahkan ekstrimis.

"Pendidikan ini memiliki peran sangat penting. Anak-anak harus paham mereka hidup di tengah pluralitas dan agama yang majemuk," tuturnya.

Cegah radikalisme

Hasil penelitian Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) tahun 2015 menyebutkan, hanya 30% sekolah yang terpengaruh radikalisme. Kendati begitu, dampaknya bisa meluas jika tidak segera diantisipasi.

Untuk diketahui, jalur utama masuknya radikalisme ke sekolah adalah organisasi masyarakat Islam radikal yang jumlah dan aktivitasnya meningkat. Dalam hal ini, Kemenag berupaya untuk mengawasi kurikulum pendidikan Islam termasuk pengajaran di sekolah.

"Kami sekarang sedang giat-giatnya mengadakan pelatihan guru agar kesadaran beragama tumbuh sendiri di dalam jiwa. Jadi tidak memberikan pemahaman yang sempit kepada siswa," timpal Amin Haedari, Direktur Pendidikan Agama Islam.

Akan tetapi, ia pun tak memungkiri adanya indikasi di kalangan siswa sedikit tercemar paham radikalisme. Dengan demikian pihaknya juga mencoba menangani persoalan tersebut lewat pembinaan organisasi.

"Tahun lalu kita adakan pertemuan rohis seluruh Indonesia di Cibubur. Terbukti kegiatan perkemahan yang melibatkan hampir tiga ribu siswa itu cukup efektif mencegah Islam radikal tumbuh di masing-masing sekolah," tandasnya.

Sementara itu, guru SMKN 04 Tangerang Maman Suryaman menekankan pentingnya keterlibatan guru dalam kegiatan ekstrakurikuler siswa. Hal itu bisa diimplementasikan terhadap guru-guru yang sudah dibekali pelatihan sebelumnya.

Terutama dalam konteks Indonesia yang cukup maju, pendidikan Islam berbasis nilai-nilai budaya damai memiliki dampak yang signifikan. Sejak dini anak-anak diberikan pemahaman tentang arti saling menghargai.(Q-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya