ANTARA Menko Kemaritiman Rizal Ramli dan Menpar Arief Yahya memang beda gaya. Yang satu meledak-ledak, agresif, tembak langsung tanpa basa basi. Yang satu kalem, kalem, tak banyak cingcong, dan tidak berisik. Tetapi keduanya bertemu dalam prinsip kerja dan tujuan yang sama, target dan strategi yang sama. Karena itu, saat Rakor Kemenpar 2015 di Kemayoran, keduanya sepakat: pertaruhan ada di performansi.
Gurauan Rizal Ramli yang sering 'belok tanpa sign' itu tetap saja nyaring di tengah suasana senyum sapa insan pariwisata di Grand Mercure Kemayoran.
''Pariwisata Indonesia ini dianggap underdog. Tidak dianggap sama sekali di regional ASEAN. Kalah sama negara kecil Singapura, keok sama Malaysia, apalagi Thailand? Tapi terus terang, dalam semua pertempuran, saya justru senang diremehkan dan ditempatkan pada posisi underdog,'' aku Rizal Ramli yang di era Presiden Gus Dur juga pernah menjabat Menko Perekonomian itu.
''Mengapa? Kalau menjadi underdog, itu punya kesempatan dan spirit untuk mengalahkan jagoan. Sebaliknya kalau diunggul-unggulkan sebagai jagoan, dianggap hebat? Tapi tidak bisa berbuat banyak? Nggak ngapa-ngapain? Itu buat apa?'' ungkap Rizal.
Rizal sepakat dengan penetapan target 2016 dengan 12 juta wisman yang akan masuk ke Indonesia itu. Angka kenaikan itu memang besar, 20%, jika dibandingkan dengan dengan rata-rata kenaikan turis internasiol di semua negara yang hanya 4% tahun lalu. ''Tetapi saya yakin strategi yang dibangun Menpar Arief Yahya bisa mencapai itu semua. Tahun 2019 harus double, 20 juta wisman, 3 juta tenaga kerja langsung, 7 juta tenaga kerja tak langsung,'' jelasnya.
Dia sepakat dengan Menpar bahwa strategi Bebas Visa Kunjungan (BVK) adalah cara yang pas untuk menarik wisman ke Tanah Air. ''Sekarang sudah 90 negara, ke depan mungkin akan ditambah beberapa negara lagi. Prinsipnya, negara yang diberi bebas visa itu tidak terlibat dalam perdagangan narkoba dan ekspor ideologi garis keras, seperti ISIS. Ideologi yang mengajarkan kekerasan atau radikalisme, itu yang tidak akan kita bebaskan visa,'' kata dia.
Saat dipertanyakan banyak pihak, mengapa mau kasih bebas visa? Sementara negara yang bersangkutan tidak secara resiprokal, langsung memberi bebas visa juga bagi orang Indonesia ke negaranya? Apa tidak gengsi? Sebagai negara besar? ''Saya senang jawabannya Menpar pada saat itu. Kalau orang Indonesia dikasih bebas visa, ntar pada kabur semua, banyak devisa yang terbang ke luar negeri. Biar kuat dulu fondamen ekonomi kita, biar makmur dulu, baru diurus resiprokalnya,'' kata Rizal.
Rizal juga menyederhanakan regulasi yacht dengan membebaskan aturan CAIT yang selama ini justru mempersulit orang untuk berlayar ke perairan Indonesia. Juga mereduksi aturan Cabotage yang mengharuskan cruise atau kapal pesiar berbendera asing menaik-turunkan penumpang ke pelabuhan di Indonesia.
''Ini paradigma lama, kalau bisa dibuat sulit, mengapa harus dipermudah? Mental itu yang harus direvolusi. Saya sudah minta Menkumham untuk merevisi, dan sekarang katanya mengurus dokumennya cukup 3 jam selesai,'' jelas dia.
Bahkan Rizal Ramli mendorong industri dan juga pemerintah untuk membangun pelabuhan untuk turis, marina untuk yacht, di berbagai tempat labuh di kepulauan Indonesia. ''Masak turis bersandarnya di pelabuhan kapal barang seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak? Pasti jauh dari kenyamanan?'' kata mantan mahasiswa Fisika ITB yang pernah dipenjara tahun 1978, karena kritik-kritik pedasnya kepada kebijakan pemerintah Soeharto ini.
Dia juga sudah berbicara dengan Gubernur Ahok soal Pulau Seribu yang belum dimanfaatkan maksimal untuk pariwisata. Great Jakarta nomor dua wisman masuk ke Indonesia setelah Bali. Pasarnya pebisnis, conference, meeting, incentive, expo, yang mungkin hanya 2 hari kosong. Mau ke puncak macet, maunya pantai, potensi Pulau Seribu belum dioptimalisasi.
''Saya sudah minta Pak Ahok untuk bikin Perda yang lebih keras, buang sampah harus ditindak tegas. Bangun Marina, buat instalasi air bersih, bandara dipanjangin, untuk destinasi wisata Jakarta. Orang berduit lebih itu suka pantai, dan itu terjawab di Pulau Seribu,'' ungkap dia.(R-1)