Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Eratkan Keberagaman dalam Komunitas

Despian Nurhidayat
24/11/2018 03:45
Eratkan Keberagaman  dalam Komunitas
(MI/PERMANA)

DUA laki-laki asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini secara langsung melihat konflik intoleransi dan radikal. Mereka ialah Surya Jaya dan Masri Asril.

Surya pernah melihat secara langsung pembakaran gereja yang terjadi di Lombok. “Itu tahun 2001 ya, saya saksikan sendiri bagaimana masyarakat begitu sangat beringas membakar gereja. Yang menyulut mereka adalah hal yang tidak terjadi di Lombok, tapi itu terjadi di Ambon. Saya waktu itu berumur 21 tahun. Waktu itu ada kegiatan Tablig Akbar ya, kemudian waktu itu ada yang memprovokasi. Padahal, sebelumnya kita sangat damai,” ungkap Surya.

Sementara itu, Masri yang tinggal di kampung tinggal berdekatan dengan komunitas Hindu. Hubungan antarkomunitas Hindu dan muslim selama ini berlangsung damai. Dari kecil, Masri dan teman-temannya merasa enggan bergaul dengan anak-anak Hindu. Tidak hanya anak-anak, orang dewasanya pun memiliki interaksi yang sama.

Menariknya, para tetangganya yang beragama Hindu selalu membawa ayam mereka ke teman-teman muslim untuk disembelih. Cara itu merupakan bentuk toleransi masyarakat Hindu ke masyarakat muslim.

Tidak ingin daerah mereka terus terdampak dari konflik intoleransi itu, mereka tergerak melakukan perubahan. Surya Jaya dan Masri Asril bergabung dalam dua lembaga berbeda yang saling berhubungan. Surya Jaya tergabung dalam organisasi LBH Apik NTB, sedangkan Masri Asril anggota Aliansi Kerukunan Antarpemuda Lintas Agama (Akapela) NTB.

Kerugian
Dampak dari konflik intoleransi terasa di sektor ekonomi. Apalagi pergerakan ekonomi di NTB mayoritas dikuasai etnik Tionghoa. Pascakonflik, mereka tidak berani dan memilih keluar dari NTB. Anak-anak dan perempuan pun meng­alami traumatis yang mendalam dengan adanya sikap intoleransi.

Masri pun sempat mengalami pengalaman buruk saat menjalani perkuliah­an. Ada organisasi kampus yang justru mengajarkan sikap intoleransi.

“Waktu di kampus itu, saya disuguhkan hal yang baru dan banyak temen-temen yang ikut organisasi. Waktu itu di SMA atau di kampung saya enggak pernah ikut organisasi apa pun dan itu saya exited sekali utnuk ikut organisasi,” ujarnya.

Bahkan, Masri sempat bergabung dalam 8 organisasi kampus. Ia sadar pemahamannya masih belum dalam dan menyerap berbagai informasi yang diterimanya.

“Awalnya saya dari anak kampung yang slengean tiba-tiba jadi ustaz dadak­an,” ungkap Masri. Masri merasa, kala itu ia diajarkan sebuah truth claim. Ia diajarkan Islam itu mutlak benar dan agama lain salah.

Masri mengetahui hal yang ia lakukan salah. Secara perlahan, ia mundur dan keluar dari organisasi. Kemudian ia pulang ke kampungnya dan membangun komunitas bersama teman-teman kecilnya. Komunitas itu fokus memberikan pendidikan bagi anak kecil, seperti les dan lainnya. Setahun setelah ia membangun komunitas tersebut, ia bertemu dengan Akapela dan bergabung dengan Akapela.

Perempuan
Surya yang tergabung dalam LBH Apik, banyak menemukan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang bersumber dari pengalaman fundamental dan radikal dari pelaku. Pada 2013 LBH Apik mendapatkan dukungan dari Kementerian Sosial mengadakan dialog publik tentang keberagaman mengenai permasalahan mengapa radikalisme bisa terjadi. Dalam diskusi itu rupanya memiliki antusiasme yang sangat luar biasa.

LBH Apik NTB yang melihat permasalahan itu pun mempunyai empat strategi dalam menjalankan kegiatannya. Pertama, LBH Apik memberikan edukasi terhadap anak muda untuk memaknai keberagaman dengan hal yang positif. Kemudian ada strategi untuk advokasi dan kampanye. Dua kegiatan itu penting dan pelibatan anak muda dalam hal itu dibilang sangat luar biasa. Akapela pun terbentuk atas dasar dari inisiatornya berasal dari LBH Apik.

Hal ketiga yang dilakukan ialah pengorganisasian. Para anak muda dibuatkan organisasi agar mereka bisa berinteraksi dan membuat sebuah dialog dan seminar atau segala macamnya secara lintas agama. Terakhir ialah aktualisasi yang dilakukan oleh anak-anak muda itu nantinya berbentuk seperti apa. (M-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya