Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
KOLABORASI secara global disertai koordinasi di tingkat regional diperlukan untuk mengantisipasi wabah penyakit. Tanpa itu, keamanan kesehatan global menjadi pertaruhan yang dapat menimbulkan kerusakan pada pembangunan ekonomi dan stabilitas negara.
Persoalan tersebut bakal menjadi salah satu pokok bahasan dalam pertemuan kelima Global Health Security Agenda (GHSA) di Nusa Dua, Bali, 6-8 November 2018 mendatang.
Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan para pemangku kebijakan akan membicarakan langkah meningkatkan kemitraan global. Kemitraan berfokus pada penguatan kapasitas antarnegara untuk mencegah dan menangkal penyakit-penyakit di seluruh dunia.
"Dalam peran regional misalnya, Papua Nugini tidak masuk dalam regional WHO tapi WHO South-East Asia (SEARO). Kita ingin kedudukannya bisa sama," ujar Anung, dalam acara temu media terkait penyelenggaraan GHSA di Kementerian Kesehatan, pada Jumat (2/11).
Selain itu, dengan kapasitas negara berbeda-beda, semua negara diharapkan bisa saling mengingatkan dan bekerja sama untuk meningkatkan kapasitas agar setara.
Anung mengatakan potensi pandemi, atau wabah penyakit secara luas, tidak hanya terjadi pada manusia, tapi juga menyangkut binatang, pertanian, dan lingkungan terutama penyakit-penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan ke manusia atau sebaliknya.
Di samping itu, semakin mudahnya perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain turut menjadi tantangan suatu negara dalam menghadapi pandemi, epidemi (wabah penyakit di daerah tertentu), dan ancaman kesehatan lainnya.
Anung mencontohkan, wabah Ebola yang terjadi di Afrika beberapa tahun lalu dan virus flu burung yang sempat mewabah di sejumlah negara menyebabkan kepanikan di tingkat global. Oleh karena itu, terang Anung, dalam GHSA juga dibahas sistem One Health untuk mengantisipasi tantangan penyakit yang ditularkan dari hasil interaksi manusia dan hewan.
Kepala Biro Luar Negeri Kementerian Kesehatan Acep Soemantri menambahkan GHSA merupakan pertemuan tahunan dengan tujuan untuk meningkatkan komitmen negara dalam pencapaian ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional.
GHSA sekaligus sebagai wadah berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah.
Dari konteks nasional, pertemuan diharapkan dapat mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional dan lebih meningkatkan kerja sama lintas sektor. GHSA juga menjadi ajang bagi Indonesia untuk berbagi praktik terbaik dalam pencapaian ketahanan kesehatan global dan nasional.
Selain itu, Indonesia mendapati momentum untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah untuk mengimplementasikan secara penuh IHR (2005), antara lain penyelesaian Rencana Aksi Nasional Keamanan Kesehatan Global. Kemudian, penguatan kelembagaan di pusat dan daerah melalui penuntasan Instruksi Presiden Presiden tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia. (A-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved