Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
RATUSAN orang berbaju putih terdiri dari laki-laki dan perempuan berjalan beriringan dalam kecepatan yang sama menuju laut terdekat. Di tepi laut, sejumlah orang-orang tua yang disebut pemangku adat berkeliling dan memercikan air suci kepada seluruh orang di sana.
Air suci juga dipercikkan ke perangkat-perangkat peribadatan. Wangi asap dupa menguar sebagai simbol penyucian. Begitulah ritual upacara melasti yang dilakukan masyarakat Hindu di Bali, beberapa waktu lalu. Ritual ini dilakukan untuk menyambut Hari Raya Nyepi dengan tujuan menyucikan diri dan membuangnya ke laut.
"Air dan laut merupakan unsur penting dalam tatanan masyarakat Bali, seperti yang terlihat dalam upacara melasti," ujar Gubernur Bali Wayan Koster dalam forum bergengsi The 4th Inter-Governmental Review (IGR-4) di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).
Hampir di setiap prosesi upacara keagamaan, umat Hindu menjadikan laut sebagai pembersihan dan pemujaan.
Karena itulah, sambung Koster, masyarakat Bali ikut resah dengan polusi air yang saat ini terjadi. Laut tidak hanya bernilai sosial-religius-budaya, tapi juga ekonomi karena besarnya kontribusi pariwisata bahari Bali.
Ia pun menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya perlindungan laut yang saat ini sedang kencang-kencangnya digaungkan. Kearifan lokal Bali yang berasal dari ajaran agama Hindu, yakni Sad Kerti akan dikuatkan secara hukum dalam bentuk peraturan daerah. "Kami punya program berdasarkan kearifan lokal bali yang dinamakan dengan Segara Kertih, untuk melindungi laut dan pesisir," sebutnya.
Sad Kerti merupakan enam jenis upacara yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam beserta isinya, termasuk laut. Tiga di antaranya berkaitan dengan alam, yakni Wana Kertih (konservasi hutan), Danu Kertih (menjaga sumber mata air), dan Segara Kertih (konservasi laut dan pesisir).
"Filosofi kearifan lokal Bali ini akan betul-betul kami jadikan sebagai suatu regulasi kebijakan dan program untuk menjaga alam manusia bali agar betul-betul bisa survive dan eksis ke depan.Mudah-mudahan bisa menjadi bahan diskusi," pungkas Koster.
Tak hanya di Bali, Indonesia juga memiliki kearifan lokal yang sama di wilayah lain, seperti keberadaan Panglima Laot, Sasi, awig-awig, seke, malombo, romping, pele-karang, lamba, dan kelong.
Panglima Laot merupakan suatu institusi adat di Aceh yang mengatur tata cara meupayang/penangkapan ikan di laut. Lalu, budaya Sasi Laut ditemukan hampir sebagian besar masyarakat adat di Indonesia. Tidak serakah, mengambil secukupnya dan sisanya membiarkan alam berkembang biak adalah filosofi dari adat Sasi Laut.
Selama ini masyarakat hukum adat menjadi kelompok orang yang berperan sangat strategis dalam menjaga lingkungan laut, dari berbagai aktivitas yang dilakukan di daratan.
Pengelolaan sumber daya maupun perlindungan lingkungan laut dilakukan mereka secara lestari dan harmoni, tecermin dari falsafah hidup mereka yang senantiasa menjaga keseimbangan kearifan lokal, yang tumbuh secara turun- temurun.
Karena itulah, mereka haruslah diperlakukan sebagai salah satu subjek penting dan bukan objek semata. Perhatian khusus harus diberikan dalam upaya menjaga ikatan asal-usul dan kedekatan mereka dengan wilayah dan sumber daya alamnya.
Dalam Perpres Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah di Laut, peran masyarakat adat termasuk salah satu elemen penting pencapaian Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut 2018-2025.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved