Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Ogun, Sang Pendaki Penyintas Kanker Itu Telah Tiada

Briyan B Hendro
27/8/2018 07:45
Ogun, Sang Pendaki Penyintas Kanker Itu Telah Tiada
(MI/SUMARYANTO BRONTO)

DUNIA petualangan Tanah Air kembali berduka. Pendaki senior Indonesia, Muhamad Gunawan atau yang akrab dipanggil Ogun, wafat pada Minggu (26/8). Ia menghembuskan nafas terakhir di kediamannya di Menteng Atas, Jakarta, pukul 17.58 WIB.

Ogun merupakan salah satu anggota Wanadri--organisasi pecinta alam--yang menorehkan sejarah di lembaran dunia petualangan Indonesia. Dua puluh satu tahun lalu, ia adalah salah satu pendaki Tim Ekspedisi Mount Everest Indonesia 1997 bersama Kopassus.

Suatu malam pada November 2015, Ogun merasa kesulitan tidur. Ada tonjolan serupa bengkak di bagian belakang leher sisi kiri dan kanannya.

"Bengkak ini muncul dengan sendirinya. Sepertinya sejak akhir 2014 ada tonjolan kecil. Saya belum menganggapnya serius, karena saya pikir akibat gigitan serangga walaupun saya tidak pernah merasa digigit," kisahnya kepada saya saat berjumpa di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, satu setengah tahun silam.

Beberapa bulan kemudian, benjolannya makin membesar. Bukan hanya itu, pendengarannya berkurang dan penglihatannya menjadi samar-samar. Suaranya pun sempat parau dan hilang.

"Akhirnya saya periksa ke dokter spesialis THT dan mata. Namun, hasil medisnya ternyata semuanya normal," jelas Ogun.

Lalu, atas saran rekannya, Ogun melanjutkan pemeriksaan melalui CT Scan. Seusai hasil CT Scan keluar, Ogun pun disarankan untuk pengambilan sampel jaringan atau biopsi.

"Hasil pemeriksaan saya divonis kanker nasofaring stadium 4," ujar Ogun dengan mata berkaca-kaca.

Tetap Bertualang

Pascadivonis mengidap kanker ganas, Ogun memilih tetap beraktivitas seperti biasa. Di sela-sela kesibukannya untuk berobat maupun kemoterapi, Ogun tetap aktif berkegiatan yang terkait dengan dunia petualangan, seperti memberi materi-materi ke mahasiswa ataupun komunitas pecinta alam.

Bahkan, pada awal 2016, Ogun turut mendirikan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI). Ia dipercaya menjabat Anggota Dewan Etik APGI dan Asesor Pemandu Wisata Gunung.

Ogun yang kelahiran Jakarta 60 tahun silam itu juga masih menjaga impiannya yang tertunda. Pada 1997, saat Ekspedisi Mount Everest bersama Kopassus, langkahnya terpaksa terhenti di 200 meter menjelang puncak tertinggi dunia. Maka itu, ia terus menghidupkan mimpinya untuk menginjakkan kaki dan mengibarkan merah putih di puncak setinggi 8.848 meter di atas permukaan laut (mdpl) itu.

Kemampuan fisiknya yang menurun digerogoti kanker tidak mengurangi semangat Ogun untuk terus bertualang dan berbagi.

Bersama istrinya, Vita, serta rekan-rekannya, ia mencanangkan 'Ogun Roads to Everest 2017-2018, Cancer Survivor Menggapai Puncak Dunia'. Selain untuk melunasi mimpinya, ia ingin menginspirasi penderita kanker lain bahwa meskipun menderita kanker tetapi masih bisa beraktivitas dan menorehkan prestasi.

Ogun yang memiliki seorang putra yang  duduk di bangku SMP itu juga masih aktif mendaki gunung untuk menjaga kemampuan fisiknya sebagai bekal menuju Everest.

"Pada Desember 2016, saya mendaki Gunung Merbabu dan Semeru. Senang rasanya masih bisa menikmati pergantian tahun di Semeru," kenangnya.

Bahkan, pada 27 April 2017, ia berhasil menggapai Yala Peak di Himalaya, Nepal, yang berketinggian 5.520 mdpl. Pendakian yang ia maksudkan sebagai pemanasan sebelum kembali menapaki Everest yang semula diniatkan pada tahun ini.

Petualangan Ogun bersama kita telah pamungkas. Kini, ia menuju puncak tertinggi-Nya, yang abadi. Meski demikian, spiritnya selalu terpatri.

"Tetap semangat. Tiap orang harus menggapai 'Everest'nya masing-masing," pesan Ogun kepada saya ketika berjumpa terakhir kali saat ia akan tampil sebagai narasumber di Kick Andy, Metro TV, Maret lalu. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya