Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Sekolah Belum Bisa Jaga Anak dari Radikalisme

Putri Rosmalia Octaviyani
15/5/2018 21:10
Sekolah Belum Bisa Jaga Anak dari Radikalisme
(ist)

KETUA Umum Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) Musdah Mulia mengungkapkan, saat ini sekolah di Indonesia tidak berperan sebagai penjaga anak-anak dari radikalisme. Sekolah justru kerap menjadi lokasi berkembangnya paham tersebut.

"Saya heran kenapa sekolah-sekolah kita bisa tertular pemikiran radikal. Padahal kita tahu basis kita ialah Islam yang toleran. Pesantren itu kan punya NU dan Muhammadiyah. Ini sebuah gejala yang menandakan bahwa masyarakat kita sedang sakit," ujar Musdah, di Wahid Foundation, Jakarta, (15/5).

Musdah mengatakan, paham radikal berkembang di sekolah merupakan sebuah bentuk kegagalan dalam pendidikan. Siswa, khsusunya saat ini, lebih banyak mencari tahu hal terkait agama di media sosial. Tidak ada kontrol atau pemberian edukasi preventif yang baik pada siswa untuk dapat menyaring informasi dan paham radikal.

"Ini salah satu imbas dari kemajuan teknologi, anak-anak kita itu mendapat pelajaran dari medsos. Kemana guru agama? Kemana orang tua semua? Menurut saya ini perlu ditelusuri lebih jauh lagi," ujar Musdah.

Sekolah telah, menurutnya, terbukti menjadi salah satu tempat berkembangnya paham radikal. Hal itu salah satunya terlihat dalam survei yang dilakukn Wahid Foundation pada tahun 2016 menyebutkan, setidaknya 60% dari 1.626 responden aktivis rohis setuju untu berjihad ke wilayah konflik saat ini. Bahkan, 68% setuju untuk berjihad di masa mendatang.

Musdah juga mengatakan, saat ini model terorisme semakin berkembang ke arah pelibatan perempuan serta anak-anak. Namun, sebenarnya hal itu bukanlah hal baru di Indonesia dan internasional.

"Jadi di dunia internasional memang ISIS itu sejak 4 atau 5 tahun yang lalu itu sudah mengubah straregi mereka, dan menggunakan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku," ujar Musdah.

Dalam penelitiannya yang dilakukan pada 2016, menurut dia, setidaknya saat itu ada 120 perempuan yang sudah tergabung dalam jaringan teroris di Indonesia. Mereka siap untuk bertugas menjadi pengantin atau pelaku peledakan bom bunuh diri.

Sementara itu, Shinta Nuriah Wahid bersama dengan puluhan aktivis Gerakan Warga Lawan Terorisme mengatakan, sudah saatnya pemerintah menyegerakan reformasi pendidikan. Hal itu untuk mengatasi perkembangan paham intoleran dan radikal.

"Pemerintah juga harus meningkatkan dukungan pada inisiatif warga dalam menyemai pendidikan toleransi, HAM, dan perdamaian," ujar Shinta. (OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya