Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) menyatakan bahwa anak-anak korban aksi terorisme harus mendapatkan pendampingan yang paripurna.
"Upaya pemulihan harus paripurna. Pertama pemulihan fisik, psikis dan sosial supaya mereka siap hadir kembali ke masyarakat," kata Sekretaris Jenderal LPAI Heni Hermanio yang dihubungi di Jakarta, Minggu (13/5).
Dia mengatakan, hampir semua anak yang mengalami tindakan yang luar biasa seperti teror bom di rumah ibadah di Surabaya yang terjadi pada Minggu (13/5) pagi, akan mengalami trauma.
"Bom di depan mereka, bunyi ledakan yang luar biasa, darah bercucuran, ada serpihan-serpihan tubuh manusia dimana-mana, ini menghadirkan trauma bagi anak-anak yang menyaksikan hal tersebut," tambah dia.
Menurut dia, hal yang pertama kali harus dipulihkan adalah kondisi fisik mereka karena mengalami cidera. Namun, hal yang terpenting ialah kondisi psikis anak-anak yang mengalami luka jiwa sehingga harus dipulihkan.
Masing-masing anak, kata dia, membutuhkan waktu pemulihan yang berbeda-beda tergantung tingkat ketangguhan anak tersebut. Setelah pemulihan fisik, psikis dan sosial, baru lah dipikirkan bagaimana agar anak-anak tersebut mau datang kembali ke tempat ibadah atau menjadi relasi dengan orang lain serta memulihkan kembali kepercayaan mereka.
"Kami akan berkoordinasi dengan LPA Jawa Timur untuk melakukan 'asessment' terlebih dahulu apabila anak-anak itu siap. Apabila dirasakan perlu kehadiran Kak Seto selaku psikolog anak, kami akan hadir," tambah dia.
LPAI yang diketuai Kak Seto, mengaku siap mendampingi anak-anak korban teror bom yang terjadi di rumah ibadah di Surabaya, untuk memulihkan rasa trauma mereka.
Rangkaian aksi bom bunuh diri terjadi pada Minggu pagi sekitar pukul 07.30 WIB di tiga rumah ibadah, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (STMB), Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro Surabaya dan Gereja Pentakosta di Jalan Arjuno Surabaya.
Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pelaku pengeboman gereja di Surabaya, Jawa Timur, menggunakan dua anak kecil dalam melakukan aksi bom bunuh diri. Presiden pun menyesalkan bahwa aksi pengeboman itu telah menelan banyak korban, di antaranya anak-anak yang tidak berdosa. (Ant/OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved