Headline
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBELUMNYA Ayu Alfiah Jonas, 21, tidak pernah menyaksikan langsung bagaimana kehidupan penganut kepercayaan Sunda Wiwitan. Dari yang ia ketahui melalui diskusi-diskusi di kampus, para penganut Sunda Wiwitan mengalami diskriminasi sejak era Orde Baru.
“Pada zaman Presiden Soeharto, kartu tanda penduduk mereka dipaksa masuk ke (dicantumkan sebagai pemeluk agama) Islam. Padahal, mereka memiliki keyakinan berbeda,” kata mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, kemarin.
November tahun lalu Mahkamah Konstitusi (MK) mengeluarkan Putusan No 97/PUU-XIV/2016. Putusan itu menetapkan penganut aliran kepercayaan memiliki kedudukan hukum sama dengan pemeluk enam agama yang diakui pemerintah, khususnya dalam memperoleh hak administrasi kependudukan.
Ayu berkesempatan mengunjungi komunitas Sunda Wiwitan di Kampung Cireundeu, Kota Cimahi, Jawa Barat, akhir pekan lalu.
Ia mengaku terkesan dan wawasannya terbuka saat menyaksikan langsung kehidupan penganut salah satu kepercayaan tua yang ada di negeri ini.
“Sebelumnya saya kira mereka tidak luwes. Ternyata mereka sangat ramah dan kehidupannya sama seperti penganut agama-agama lain meski memang memiliki ritual berbeda,” ungkapnya.
Ayu merupakan salah satu dari 55 muda-mudi dari berbagai daerah yang mengikuti kegiatan Peace Train Indonesia (PTI) 4, program kolaborasi dari Forum Bhinneka Nusantara, Wahid Foundation, Sekolah Damai Indonesia (Sekodi), Demokrasi.id, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dan Serikat Jurnalis untuk Kebebasan (Sejuk).
Selain bertemu penganut Sunda Wiwitan di Cimahi, mereka mengunjungi rumah-rumah ibadah dari berbagai agama di Bandung. Antara lain Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu.
“Peace Train Indonesia kami dedikasikan bagi anak muda dari berbagai agama untuk saling mengenal, berinteraksi, dan berbagi pengalaman sembari belajar bagaimana berperan serta dalam membangun perdamaian di Tanah Air,” kata Koordinator Studi Agama dan Perdamaian ICRP Ahmad Nurcholish.
Jawa Barat yang dikenal sebagai salah satu provinsi dengan tingkat intoleransi tinggi, lanjut Ahmad, dipilih sebagai lokasi kegiatan dengan tujuan menguatkan jaringan komunitas lintas agama dan secara strategis diharapkan mampu menumbuhkan semangat perdamaian. (Dhk/H-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved