Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Pemerintah Harus Lanjutkan Semangat Earth Hour

Putri Rosmalia Octaviyani
25/3/2018 18:28
Pemerintah Harus Lanjutkan Semangat Earth Hour
(AFP PHOTO / Robert ATANASOVSKI)

DUKUNGAN akan pelaksanaan aksi Earth Hour tahun ini mengalami peningkatan signifikan. WWF Indonesia mencatat, setidaknya 103 kota turut berpartisipasi untuk mematikan listrik selama 1 jam pada pukul 20.30 hingga 21.30 wib tersebut. Semangat tersebut diharapkan dapat terus dijaga dengan usaha melanjutkan kegiatan dan program penghematan energi oleh berbagai pihak, khususnya pemerintah pusat dan daerah.

 

"Jadi setelah dihitung semalam ada total 103 kota yang menjadi berpartisipasi. Melampaui target yang sebesar 100 kota," ujar Koordinator Earth Hour Indonesia, Galih Aji Prasongko, ketika dihubungi, (25/3).

 

Galih mengatakan, setiap tahunnya jumlah kabupaten/ kota yang berpartisipasi pada Earth Hour terus meningkat. Tahun 2016 yang berpartisipasi sebesar 31 kabupaten/ kota. Tahun 2017 jumlahnya sebesar 67 kabupaten/ kota.

 

"Rata-rata kenaikan pertisipasinya setiap tahun mencapai hampir 50%," ujar Galih.

 

Partisipasi di 103 daerah tersebut dilakukan tidak hanya oleh pemerintah daerah tetapi juga oleh masyarakat, komunitas, hingga sektor bisnis swasta.

 

Berbagai keuntungan diyakini didapatkan bumi dari aksi tersebut. Baik materil atau non materil. Salah satu yang telah berhasil terhimpun ialah data penghematan listrik di DKI Jakarta yang bila dihitung dari biaya pemakaian, telah berhasil menghemat Rp2 miliar dari aksi Earth Hour semalam.

 

"Semuanya tercatat turut terlibat dengan presentase yang hampir seimbang di semua daerah," ujar Galih.

 

Ia mengatakan, meski memberikan dampak baik pada bumi, komitmen penghematan energi listrik tidak cukup hanya mengandalkan Earth Hour. Aksi dan komitmen tersebut harus dilanjutkan lewat berbagai aksi di kehidupan sehari-hari. Hal itu bisa dilakukan salah satunY melalui upaya pemda mengeluarkan aturan atau kebijakan yang wajib diikuti kantor pemerintahan, sektor bisnis swasta dan masyarakat.

 

"Untuk pemda sebenarnya sayang kalau tidak dilanjutkan dengan program strategis lainnya untuk menghemat energi. Harusnya pemda bisa mendorong kebijakan itu. Agar bisa menghemat energi, tidak hanya di listrik tapi juga lainnya," ujat Galih.

 

Ia mengatakan, kegiatan yang didorong pemda di masing-masing daerah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Di antatanya penerapan konsep green building. Dengan mengurangi konsumsi listrik dari AC, lampu, hingga aksi lain terkait lingkungan seperti penghematan air dan pengelolaan sampah.

 

"Karena ini tidak bisa hanya setahun sekali, semua harus bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari," ujar Galih.

 

Sementara itu, tahun ini, Earth Hour juga dilakukan dengan menyelipkan pesan kampanye aksi lain terkait lingkungan. Pada pelaksaan Earth Hour 2018 di Indonesia, WWF dan Komunitas Earth Hour di 31 Kota berfokus pada empat isu utama, yaitu menginisiasi kampanye kawasan bebas sampah di 31 kota, melakukan penanaman mangrove sebanyak 26.000 bibit di lebih dari 15 wilayah seluruh Indonesia, menginisiasi komitmen 9 kampus di 9 kota untuk program pembangunan kesadaran konsumen akan pola konsumsi yang berkelanjutan, serta menggerakkan kampanye pembangunan kesadaran terkait keanekaragaman hayati dan kampanye anti perdagangan satwa liar yang dilindungi pada 310 sekolah di 31 kota seluruh Indonesia.

 

“Earth Hour di Indonesia dikenal dunia sebagai gerakan komunitas terbesar. Selama 3 tahun kedepan Komunitas Earth Hour bersama WWF-Indonesia akan mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian komitmen pengurangan emisi sebanyak 26% pada 2020 melalui gerakan reforestasi,” ujar Dewi Satriani, Manajer Kampanye WWF-Indonesia. (A-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya