Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Riset Perubahan Iklim Harus Didesain Maju

Denny Parsaulian Sinaga
30/11/2017 21:42
Riset Perubahan Iklim Harus Didesain Maju
(ANTARA FOTO/Saptono)

KONTRIBUSI penelitian dan pengajaran dalam aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim merupakan hal yang penting untuk implementasi NDC (National Determined Contributions) Indonesia.

Hal inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan Seminar Nasional dan Rapat Umum Anggota Asosiasi Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia (APIKI) Network di Jakarta, 29-30 November 2017.

“APIKI terdiri dari scientists (para ilmuwan), dan perubahan iklim harus didukung oleh science (ilmu) yang kuat. Riset yang kita lakukan harus didesain untuk menjawab persoalan masa depan, dari situlah harapan besar pemerintah terhadap APIKI," tutur Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Nur Masripatin, mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Hidup Siti Nurbaya.

Nur menyampaikan para ilmuwan ini merupakan mitra strategis dalam pengembangan kapasitas serta peningkatan partisipasi para pihak dalam pengendalian perubahan Iklim.

Melalui kajian-kajian yang dihasilkannya, peranan kalangan akademisi semakin signifikan dalam menunjang komitmen pemerintah Indonesia, yaitu untuk menurunkan emisi GRK sebesar 29% dengan kemampuan sendiri, dan 41% dengan dukungan internasional pada 2030.

Target 29% ini akan dicapai melalui penurunan emisi GRK sektor kehutanan (17,2%), energi (11%), pertanian (0,32%), industri (0,10%), dan limbah (0,38%). Target ini menempatkan sektor kehutanan, terutama REDD+ dengan peran penting akademisi untuk mencapai target tersebut, dari sisi aksi mitigasi perubahan iklim.

Selain menyampaikan perkembangan kebijakan perubahan iklim di tingkat internasional dan nasional, seminar ini juga memaparkan hasil kegiatan penelitian/pengajaran untuk mendukung upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di tingkat nasional dan subnasional.

Acara ini dihadiri oleh anggota APIKI Network dan perwakilan perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga diklat, LSM, dan stakeholder lain yang terkait dengan jumlah peserta 200 orang.

Turut diagendakan juga kegiatan penelitian dan pengajaran mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pada tujuh region di Indonesia (Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali Nusa Tenggara, Maluku dan Papua). (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya