Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Mata Lensa, Jejak Ketangguhan Jurnalis Foto Perempuan

Vicky Gustiawan
29/11/2017 22:21
Mata Lensa, Jejak Ketangguhan Jurnalis Foto Perempuan
(MICOM/VICKYG)

FOTO jurnalistik memang dipublikasikan. Sayangnya, jejak sebuah foto, proses pembuatan, atau bahkan kisah fotografernya sering terlupakan. Padahal rangkaian tersebut dapat memberi makna baru dan pembelajaran bagi siapa pun.

Seorang jurnalis foto dari kantor berita kenamaan dunia Adek Berry menuliskan hal-hal yang pernah dialaminya yang dituangkan dalam sebuah buku 'Mata Lensa'.

"Saya ingin sekali membagikan pengalaman yang mungkin tidak dimiliki orang lain dan membagikannya lewat sebuah buku," kata Adek pada acara peluncuran buku 'Mata Lensa' di Pusat Kebudayaan Perancis, Jakarta, Rabu (29/11).

Buku yang ditulisnya ini adalah kumpulan perjalanannya sebagai jurnalis foto profesional dengan tuntutan yang kerap tidak bisa ditawar. Inilah cara dia mengabadikan hasil karyanya dengan kamera yang ia upayakan dengan tekun, gigih, dan berani di banyak medan tugas yang kerap berbahaya.

Semua proses kejurnalistikan ini dikerjakan perempuan bernama lengkap Lastri Berry Wijaya dengan penuh cinta. Tak heran jika kerja keras Adek selama 20 tahun mengantarkan karya-karyanya meraih pelbagai penghargaan bergengsi tingkat dunia, antara lain dari National Press Photographers Association, Life Magazine, dan TIME LightBox.

"Saya ingin menjadikan buku ini sumbangan yang positif bagi fotografi jurnalistik indonesia," tambah ibu dua anak itu.

Lewat fofo-fotonya yang berkisah, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini memulihkan dan menyegarkan kembali ingatan kita yang rapuh. Masa lalu yang beku dan mungkin hilang dari ingatan, akan muncul dan segar lagi karena foto-foto yang disusun dalam buku yang ia buat dalam kurun waktu 3 tahun itu.

"Buku ini ditulis oleh sumbernya sendiri sehingga bisa dibilang inilah cerita sebenarnya," lanjut perempuan kelahiran Curup, 46 tahun silam itu.

Dalam buku yang di banderol Rp95.000 ini, Adek membuktikan bahwa profesi yang umum digeluti kaum adam ini ternyata mampu dijalankan oleh kaum hawa dengan baik.

Dalam kesempatan yang sama TV Anchor, senior journalist Desi Anwar mengatakan di buku setebal 392 halaman ini segala suka duka seorang jurnalis internasional terungkap dalam catatan pengalaman. Gambar dalam buku itu mencerminkan sebuah profesi yang menantang dan penuh petualangan yang mencakup hal-hal mencemaskan, menakutkan, membahayakan, yang tak hanya sulit dilupakan tapi juga semua orang yang ingin tahu.

"Yang menarik bagi saya adalah cara Adek menulisnya, kata-kata yang digunakanya itu sangat simpel dan sangat jurnalis tapi ngena," ungkap Desi. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya