Headline
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.
Kumpulan Berita DPR RI
PANCASILA sebagai ideologi negara patut ditonjolkan ke dunia luar.
Sebabnya, landasan hidup berbangsa yang menjadi konsensus nasional itu tidak dimiliki negara-negara lain.
Karena itu, kerukunan dan keberagaman menjadi aspek krusial yang senantiasa perlu dirawat bangsa ini.
Pandangan itu disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin dan Presiden Komunitas Sant'Edigio Marco Impagliazzo seusai keduanya menggelar pertemuan di kantor Utusan Khusus Presiden, Gedung Sekretariat Negara, Jakarta, kemarin.
Komunitas Sant'Egidio ialah gerakan keagamaan awam pemeluk Katolik nonrohaniwan yang didirikan di Italia pada 1968.
Menurut Marco Impagliazzo, komunitas dunia, tidak terkecuali Italia, memandang Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai suatu ideologi yang penting.
Sebabnya, ideologi tersebut sebagai kesepakatan bersama telah mengakomodasi kemajemukan elemen bangsa dan umat beragama.
Pengakuan terhadap sesama anak bangsa dijamin.
Pancasila, menurutnya bisa menjadi model bagi dunia yang saat ini diselimuti fundamentalisme agama dan kerap diguncang aksi terorisme.
Ideologi yang menyatukan seperti itu, menurut Marco, tidak terdapat di negara lain.
Ia menyatakan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bisa menjadi inspirasi bagi komunitas beragama di dunia. Dalam sejumlah konferensi umat beragama di dunia, tambahnya, Pancasila kerap diperbincangkan.
"Ideologi Pancasila amat penting. Karena negara mengakui semua (umat beragama). Indonesia harus perlihatkan ke dunia luar. Kalian (bangsa Indonesia) harus bangga," ucap profesor bidang sejarah kontemporer pada University for Foreigners Perugia itu.
Lebih lanjut ia menuturkan umat beragama memiliki tanggung jawab dalam membangun perdamaian dan toleransi. Upaya itu bisa dilakukan dengan membuat jembatan dialog antarkomunitas beragama yang berbeda-beda.
"Kita harus terus membangun jembatan, bukan tembok pemisah. Melalui suatu jembatan peradaban, masyarakat bisa semakin baik. Pertemuan dengan utusan khusus Din Syamsuddin sebagai jembatan kami di Indonesia," jelasnya.
Dialog perdamaian
Utusan khusus Presiden Din Syamsuddin mengatakan apresiasi dunia luar terhadap Pancasila harus dibuktikan dengan memperkuat kerukunan antarumat beragama di dalam negeri. Pancasila, kata Din, semestinya tidak sekadar dimiliki bangsa ini, tapi juga dijiwai.
Ia mengakui kemajemukan saat ini memang menjadi renggang. Pembelahan masyarakat akibat masalah politik yang dicampuradukkan dengan sentimen agama, menurut mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu, masih kentara akibat momen politik Pilpres 2014 dan pilkada DKI Jakarta yang lalu.
"Kita harus membenahi dalam negeri. Kalau belum beres di dalam negeri, bagaimana mau mempromosikan Pancasila ke luar negeri," ungkapnya.
Din kembali menegaskan perlunya kaum bijak, yakni tokoh-tokoh dari berbagai agama, untuk bersatu dan mendialogkan perdamaian.
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu pun berpesan kepada para tokoh dan umat beragama, Islam dan agama lainnya, untuk menghindari narasi-narasi labelisasi yang bermaksud menjelek-jelekkan kelompok tertentu.
(H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved