Headline

Penghematan dari WFH bergantung pada asumsi yang belum tentu terjadi.

Arifin Siregar Berbagi Pengalaman lewat Autobiografi

Micom/RO
04/11/2017 21:51
Arifin Siregar Berbagi Pengalaman lewat Autobiografi
(istimewa)
KISAH perjalanan hidup seorang tokoh menarik untuk disimak karena di dalamnya mengungkap serangkaian peristiwa penting yang terjadi dalam perjalanan hidup tokoh tersebut. Di penghujung 2017, ekonom tanah air yang pernah mengabdi sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 1983–1988, Menteri Perdagangan 1988–1993, ekonom di World Bank dan IMF, serta Duta Besar RI untuk Amerika Serikat periode 1993–1997 Arifin Mohamad Siregar meluncurkan buku autobiografi berjudul Aneka Zaman Dalam Renungan.
Peluncuran buku ini berlangsung Sabtu (4/11) di Soehana Hall, The Energy Building, SCBD, Jakarta Selatan.
Buku autobiografi, yang diterbitkan oleh Suara Harapan Bangsa, merupakan kisah perjalanan dan riwayat hidup Arifin Siregar yang amat mencintai keluarga dan tanah airnya. Di dalam buku itu dikisahkan berbagai peristiwa, permasalahan, keberhasilan dan kegagalan, serta suka dan duka yang dialami Arifin Siregar mulai dari zaman pendudukan Belanda, Jepang, periode awal kemerdekaan, hingga pengabdian kepada negara pada masa pemerintahan tujuh presiden Republik Indonesia.
Pada pengantar buku itu, Arifin Siregar mengungkapkan proses pembuatan autobiografi yang dimulai pada 2016 dengan mengumpulkan catatan–catatan, dokumentasi pribadi, serta tambahan informasi dari rekan-rekan di institusi pemerintah maupun swasta yang pernah bekerja sama dengan dia.
Arifin Siregar menegaskan bahwa isi buku hanya memilih topik berdasarkan kejadian, permasalahan, dan kebijakan pemerintahan yang mempunyai hubungan langsung dengannya.
Di buku autobiografi setebal 388 halaman dan terdiri dari 57 sub judul, pembaca akan mendapatkan kisah perjalanan hidup Arifin Siregar yang sangat lengkap serta diajak bernostalgia melihat kehidupan masa lalu yang penuh cerita bersejarah.
Pada bab awal, Arifin Siregar dengan gaya bahasa yang sederhana mengisahkan bagaimana masa kecilnya yang harus dilalui dalam masa pendudukan Belanda dan Jepang di tanah kelahiran di Kampung Sidodadi, Medan, Sumatra Utara.
Di dalam autobiografi ini diceritakan pula perjuangan Arifin Siregar mewujudkan tekadnya mengenyam pendidikan ekonomi di Rotterdam, Belanda. Buku itu juga mengisahkan beratnya perekonomian masyarakat pada masa itu. Ketekunan dan kegigihan pada masa pendidikan di Belanda dan Jerman membuahkan hasil dengan berkarir di sekretariat jenderal PBB di New York dan Beirut selepas masa pendidikan.
Tidak sekedar kisah perjuangan masa lalu, pembaca juga diajak menelusuri jejak Arifin Siregar selama berkarya di tanah air baik di masa ia memangku jabatan di beberapa instansi serta masa purnajabatan yang tetap aktif di dunia swasta dan pelayanan sosial.
Presiden Republik Indonesia ke-3, Bacharuddin Jusuf Habibie dalam kesan dan pandangan merekomendasikan buku memoar ini kepada generasi penerus untuk dipelajari jejak nyata dari Arifin Siregar yang mengilhami dalam perjuangan membangun masyarakat Indonesia yang modern, produktif dan efisien.
Selain BJ Habibie, hadir pula Emil Salim, menteri perdagangan Enggar tiastolukito, menteri keuangan Sri Mulyani, dan Gubernur BI Agus Martowardoyo dalam acara peluncuran buku itu. (OL-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Aries
Berita Lainnya